Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

TEKNOLOGI Penetrasi Internet 2017 Naik Tipis, Pengguna Beralih ke Wilayah Urban 19 Feb 2018 23:48

Article image
presentasi hasil survei APJII 2017 di Hardrock Cafe, Jakarta Selatan, Senin (19/2/2018). (Foto: ist)
Wilayah Urban merupakan daerah administratif yang sebagian besar GDP berasal dari sektor non-pertanian.

JAKARTA IndonesiaSatu.co -- Pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia di sepanjang 2017 naik tipis sebesar 54,68 persen. Data tersebut terungkap dalam rilis hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di Jakarta, Senin (19/2/2018).

Survei penetrasi dan perilaku pengguna internet Indonesia sepanjang 2017 itu mengambil data dari 2.500 responden. Sejumlah fakta menarik mengenai serba-serbi internet di Indonesia pun terungkap.

Sekretaris Jenderal APJII Henri Kasyfi Soemartono memaparkan, dari total 262 juta jiwa, sebanyak 143,26 juta jiwa diperkirakan telah menggunakan internet. Angka penetrasi ini terbilang naik tipis dibanding tahun sebelumnya, 132,7 juta jiwa.

"Pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia menurut APJII tak lagi besar karena sudah banyak pengadopsi internet terutama di wilayah urban. Dalam survei tahun lalu, APJII memang mengkategorikan enam pulau yang disurveinya menjadi tiga karakter wilayah yakni rural (daerah terpencil), urban rural (kotatamadya dan kabupaten) dan urban (ibu kota provinsi)," kata Henri pada presentasi hasil survei APJII 2017 di Hardrock Cafe, Jakarta Selatan.

APJII mengkategorikan karakter area berdasarkan besaran GDP di suatu daerah. Wilayah Urban merupakan daerah administratif yang sebagian besar GDP berasal dari sektor non-pertanian. Sementara rural-urban merupakan wilayah administratif yang besar GDP seimbang bersal dari sektor pertanian dan non pertanian. Sedangkan wilayah rural adalah wilayah administratif yang sebagian besar GDP berasal dari sektor pertanian.

Penetrasi internet di wilayah urban sudah mencapai 72,41 persen sementara di wilayah urban-rural (wilayah tier kedua) hampir mencapai setengah populasi yakni 49,49 persen. Namun di wilayah rural masih lebih kecil yakni 48,25 persen.

"Sementara penetrasi di urban sudah cukup tinggi tetapi bagi teman-teman yang berada di rural area dan rural urban tentu untuk menggelar fiber optik di 60 juta rumah di Indonesia itu hampir tidak mungkin. Ke depan kita akan melengkapi kabel dengan satelit untuk menjangkau wilayah pedalaman. Yang melayani adalah seluruh anggota APJII untuk menyeimbangkan penetrasi 70 persen itu ke daerah rural dan rural urban," Henri melanjutkan.

Pengguna internet terbesar masih didominasi penduduk di Pulau Jawa sekitar 57,70 persen. Diikuti oleh Sumatera yang mengalami adopsi internet sebesar 47,29 persen. Wilayah yang paling sedikit mengalami penetrasi internet berada di Maluku-Papua dengan presentase 41,98 persen.

"Jika dilihat, Jawa menyumbang 58,08 persen dan masih mendominasi. Sumatera hanya menyumbang 19,09 persen saja dari komposisi enetrasi internet. Daerah yang paling rendah menyumbang adopsi internet adalah Maluku-Papua yaitu 2,49 persen. Hal ini bisa jadi meningkat di masa depan dengan selesainya Palapa Ring," kata Henri.

Ketua Umum APJII, Jamallul Izza menambahkan bahwa Palapa Ring akan meningkatkan penetrasi internet 65-70 persen di Indonesia per 2019. Satelit internet itu sendiri baru akan direalisasikan Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2020.

"Kalau ada Palapa Ring bisa jadi peningkatan internet lebih besar. Peningkatan bisa sampai 65 sampai 70 persen. Paling tidak 2020 kita coba satelit untuk menyediakan internet untuk daerah terpencil," kata Jamal.

--- Sandy Romualdus

Komentar