Breaking News

TOKOH Kesaksian Anggota Tim Flamboyan Kopassandha - Obituari Kol Stefanus Gatot Purwanto 14 Aug 2019 17:08

Article image
Kolonel Gatot Purwanto (kiri) mendampingi Mayjen Sintong Panjaitan (kanan) di Dili setelah Tragedi Santa Cruz, November 1991. (Foto: timorarchives.wordpress.com)
Karir militer Gatot berhenti di pangkat kolonel. Padahal ia adalah lulusan pertama Akademi Militer angkatan 1971 yang mencapai pangkat Kolonel, mendahului rekan-rekan lain seangkatannya.

Oleh Simon Leya

SETELAH berjuang melawan tumor otak yang dideritanya selama dua tahun terakhir, Kolonel TNI (Purn) Stefanus Gatot Purwanto akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 12 Agustus 2019. Mantan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu menutup lembaran hidupnya pada usia 72 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Selain tumor otak, Kolonel Gatot juga menderita penyakit gula, infeksi kandung kemih, dan paru-paru.

Mungkin tidak banyak yang mengenal sosok prajurit baret merah yang satu ini. Sebagai prajurit intel, Gatot yang menjabat Komandan Satgas Intel Kopassus bolak-balik masuk Timor Portugis dengan menyamar sebagai penjual makanan. Perawakannya ramping dan mirip peranakan Cina serta mudah bergaul memungkinkan dia masuk keluar wilayah konflik.

"Saya dipanggil Aseng di sana," kata Gatot dalam wawancara dengan Majalah Tempo pada 2009.

Gatot baru tampil ke publik beberapa tahun terakhir sehubungan dengan pengakuannya tentang peristiwa Balibo (1975) dan Santa Cruz (1991). Karir militer Gatot berawal dan berakhir di Timor Leste. Oleh Mahkamah Militer, Gatot dinyatakan bersalah dan ikut bertanggung jawab atas pembantaian ratusan warga Timor Leste di pekuburan Santa Cruz.

Karir militer Gatot berhenti di pangkat kolonel. Padahal ia adalah satu-satunya lulusan Akademi Militer angkatan 1971 yang mencapai pangkat Kolonel, mendahului rekan-rekan lain seangkatannya. Dalam sebuah wawancara dengan Stanislaus Riyanta, mahasiswa S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia pada  24 April 2015 Gatot membeberkan dugaan adanya pengkhianat dari internal TNI sehingga terjadi peristiwa Santa Cruz. Pada saat peristiwa Santa Cruz, Gatot menjabat sebagai Asisten Intelijen merangkap Komandan Satgas Intelijen.

 

Anggota Tim Flamboyan

Kolonel Gatot adalah satu dari sedikit prajurit intel yang pertama disusupkan ke Timor Portugis pada tahun 1975. Gatot yang adalah anggota Kopassandha tergabung dalam Tim Flamboyan pimpinan Kolonel Infanteri Dading Kalbuadi, perwira lulusan Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD), kawan seangkatan Jenderal Benny Moerdani.

Diceritakan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri dalam bukunya berjudul Timor-Timur the Untold Story (2013), Tim Flamboyan terdiri atas tiga karsa yudha (subtim) dengan ciri khas nama wanita. Pertama, Tim Susi yang dikomandani Mayor Infanteri Yunus Yosfiah, lulusan AMN 1965. Wakil Komandan tim ini adalah Kapten Infanteri Sunarto, lulusan AMN 1968. Adapun Kepala Seksi Operasi (Kasi Ops) Tim Susi dijabat Letnan Satu Infanteri Gatot Purwanto, kawan seangkatan Kiki di Magelang. Subtim kedua dinamai Tim Umi, dipimpin Mayor Infanteri Sofyan Effendi, kawan seangkatan Yunus Yosfiah. Wakilnya adalah Kapten Sutiyoso, seangkatan dengan Sunarto di Akmil. Sedangkan subtim ketiga disebut Tim Tuti dengan komandannya Mayor Infanteri Tarub.

Tim Flamboyan ditempatkan di Atambua yang berada langsung di bawah koordinasi Interstrat (cikal bakal Bais dan dipimpin oleh Benny Moerdani).

Misi utama Tim Flamboyan adalah melakukan infiltrasi untuk membuka jalan bagi pelaksanaan operasi pokok ABRI di Timor Portugis. Selain itu, mereka ditugasi pula untuk melakukan operasi penyelamatan (escape) tokoh-tokoh dan raja-raja di wilayah Timor Portugis yang pro-Indonesia dari tekanan Fretilin (Frente Revolusionaria de Timor Leste Independente) yang berhaluan komunis.

Diceritakan Kiki, salah satu sukses operasi Tim Flamboyan adalah ketika meloloskan Raja Atsabe Guilherme Goncalves, ayah Thomas Gonslves yang kemudian menjadi gubernur kedua Timor-Timur. Tokoh lain yang diselamatkan ke wilayah Indonesia adalah Arnaldo do Reis Araujo dari Ainaro. Arnaldo diselamatkan oleh tim lain yang diinfiltrasikan langsung ke Dili. Sedangkan Guilherme diamankan dalam oprasi cepat Tim Susi yang antara lain  melibatkan pula Letnan Satu Gatot Purwanto.

 

Awal penugasan

Gatot seperti ditulis Stanislaus Riyanta, lulus dari Akademi Militer tahun 1971 dan menyelesaikan pendidikan Komando. Gatot dikirim ke Kalimantan Barat melawan PGRS/Paraku. Saat itu Gatot perwira operasi, dengan Kasi 1 Kapten Hendropriyono dan komandan Satgas Sintong Panjaitan. Dari Kalimantan, Gatot ditugaskan ke Timor Portugis. Dia masuk dalam Tim Susi sebagai perwira operasi, tim yang pertama kali ditugaskan oleh Kopassandha.

Operasi Tim Susi didesain sebagai operasi tertutup. Kopassanda bertugas untuk pengkondisian. Hal ini dilatarbelakangi dorongan politik oleh dunia barat yang disponsori oleh Amerika, Autsralia karena kekhawatiran adanya suatu negara yang berhaluan komunis, Timor Portugis. Saat itu hampir semua negara jajahan Portugis sebelum dilepas masyarakatnya banyak yang menentukan pilihannya dalam partai-partai.

 

Peristiwa Balibo

Menurut Gatot, Operasi Balibo sebenarnya operasi serangan untuk melemahkan titik-titik kuat sebelum pasukan besar datang.

“Yang ingin saya tekankan kepada banyak pihak, yang melakukan serangan tersebut bukan hanya Tim Susi atau Kopassanda saja, kita hanya sebagian kecil. Seluruh anggota tim hanya 64 orang, yang berangkat maksimal 60 orang karena ada yang jaga di belakang.

“Milisi pro Indonesia Apodeti yang kita rekrut dan persiapkan jauh lebih banyak. UDT terusir dari Dili dan berlarian ke Atambua. UDT karena menyeberang ke wilayah kita, Atambua, kemudian kita rekrut untuk membantu kita, Tim Susi. Dalam penyerangan ke Balibo, Kopassanda hanya sebagian kecil. Sebagian  besar adalah Apodeti dan UDT.

Ditanya soal keterlibatan anggota Kopassanda dalam penembakan lima wartawan asing di Balibo, Gatot menjawab, Yang menembak itu jangan dipastikan itu Kopassanda, karena tim Kopassanda hanya sebagian kecil.”

Ketika ditanya, apakah ada perintah untuk membakar jenazah wartawan yang ditembak mati tersebut, Gatot dengan blak-blakan menjawab,Dibakar untuk menghilangkan jejak.”

Dituturkan Gatot, saat itu komunikasi dengan Jakarta masih susah. Jenazah dibakar karena sudah tertembak dan mati.

“Penembakan tersebut terjadi karena inisiatif anggota di lapangan. Pak Yunus (Yunus Yosfiah) pun tidak tahu. Pak Yunus sedang minta petunjuk ke Jakarta. Pak Dading (Dading Kalbuadi) di Batu Gede, kita bisa kontak ke Batu Gede. Lalu Pak Dading sedang meminta petunjuk kepada Pak Benny (Benny Moerdani) di Jakarta, belum ada jawaban. Anak-anak (Milisi) di lapangan sudah melihat gerakan yang mengkhawatirkan dari gerakan wartawan itu akhirnya ditembak.”

 

Peristiwa Santa Cruz

Menurut Gatot, peristiwa Santa Cruz terjadi karena ada skenario. “Ada pengkondisian, diatur, sehingga saya tidak bisa terlalu menyalahkan, berkali-kali saya sudah katakan bahwa kita-kita ini termasuk saya  menghadap ke depan”.

Ketika ditanya motif pengkondisian Periwtiwa Santa Crus, Gatot dengan tegas menjawab, “Untuk menjatuhkan kita, para pimpinan militer yanga ada di sana (Timor Leste).”

Gatot menduga ada skenario pihak ketiga yang merencanakan peristiwa Santa Cruz yang terbukti dengan kehadiran wartawan asing yang meliput peristiwa tersebut.

“Sepanjang tidak ada perintah, tidak bisa prajurit TNI menembak, pasukan sedang istirahat. Tapi kenyataan begitu Geerhan (Mayor Geerhan Lantara) ditusuk dan masa berteriak-teriak di Santa Cruz lalu tentara datang menembak. Kalau saya dianggap gagal, mungkin karena saya dianggap tidak waspada terhadap teman-teman sendiri, ya. Semua tentara Indonesia harusnya bersinergi dan memenangkan ini.”

Gatot mengakui, ia satu-satunya Asisten yang berpangkat Kolonel yang langsung turun lapangan. Sementara Asisten Operasi yang harusnya bertanggung jawab malah terbang pakai helikopter, melihat dari atas.

“Begitu saya mendengar tembakan dari markas Korem, saya ke lapangan. Dampaknya akhirnya saya diberhentikan dengan hormat karena saya Komandan Satgas.”

 

Bergabung Grup Tomy Winata

Gatot mengaku sangat terkejut dan tidak menyangka berhenti dari dinas militer. Tapi setelah itu dia tahu kalau masalahnya latar belakang politik. Hari-hari hidupnya sempat kacau, tidak karuan, pergi ke diskotik, hura-hura dan lain-lain.

“Tapi setelah saya bergabung dengan grup Tomy Winata saya diberi kesibukan. Saya mulai berubah. Yang memang kadang-kadang sekarang ini merasa tertekan, karena misal katakanlah yang simple menghadiri acara perkawinan, ada tempat tertentu bagi para perwira tinggi (jendral), sedang saya Kolonel.”

“Sedangkan saya tahu yang perwira tinggi masuk situ kan orang-orang yang kalau diukur ya apa, yang dari Ajen, dari Keuangan, nongkrongnya di tempat yang terhormat. Karena dia mulus-mulus saja. Dia mendapatkan tempat yang terhormat, sedangkan saya mesti duduk di belakang. Itu yang kadang-kadang kalau ada undangan saya malas. Sebetulnya mereka tidak membatasi walaupun saya cukup bangga saat ini karena kalau saya masuk ke mereka juga tidak berani negur, misal Pak Kiki (Letjen TNI Kiki Syahnakri, mantan Wakasad) tetap saja menghargai saya.”

Terima kasih Kolonel Gatot untuk pengabdianmu bagi nusa dan bangsa. Selamat jalan menuju rumah abadi.

 

Penulis adalah Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar