Breaking News

INTERNASIONAL Pengakuan Putra Fakhrizadeh Bertentangan dengan Klaim Pejabat Iran 07 Dec 2020 13:58

Article image
Menteri Pertahanan Iran Jenderal Amir Hatami berbicara selama upacara pemakaman Mohsen Fakhrizadeh, dengan latar spanduk foto ilmuwan Iran di Teheran, Iran, 30 November 2020. (Foto: The Times of Israel)
Dalam wawancara dengan media pemerintah Iran, anak-anak dari ilmuwan nuklir yang terbunuh mengatakan bahwa ibu mereka ada di sampingnya selama pembunuhan, tetapi tidak terkena tembakan.

TEHERAN, IndonesiaSatu.co -- Putra dari ilmuwan nuklir Iran yang terbunuh, Mohsen Fakhrizadeh mengatakan ayah mereka ditembak empat atau lima kali selama pembunuhannya. Pengakuan ini disampaikan  dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh media pemerintah Iran pada hari Jumat (4/12/2020) seperti dikutip dari The Times of Israel.

Fakhrizadeh, oleh Israel dan AS dituduh memimpin program senjata nuklir nakal Iran. Ia  tewas dalam penyergapan gaya militer pekan lalu di pinggiran Teheran. Serangan tersebut dilaporkan mereka melihat bom truk meledak dan orang-orang bersenjata melepaskan tembakan ke kendaraan Fakhrizadeh.

Iran menuduh Israel melakukan serangan 27 November dan mengancam akan membalas dendam. Israel belum secara terbuka mengomentari tuduhan bahwa mereka bertanggung jawab.

Dalam wawancara yang disiarkan oleh berita IRIB Iran, kedua putra Fakhrizadeh mengatakan pembunuhan itu "benar-benar seperti perang," demikian menurut terjemahan oleh penyiar publik Israel Kan. Putra-putranya tampaknya tidak bersama Fakhrizadeh selama pembunuhan itu, meskipun beberapa laporan awal mengatakan anggota keluarganya bepergian bersamanya.

Anak-anak laki-laki tersebut mengatakan bahwa istri Fakhrizadeh, yang adalah ibu mereka, sedang duduk di sebelahnya ketika dia ditembak, tetapi dia sendiri tidak terkena peluru. Laporan New York Times sebelumnya mengatakan istri Fakhrizadeh telah menerima luka pecahan peluru selama serangan itu.

“Ayah saya kena empat sampai lima kali tembakan,” kata salah satu putra Fakhrizadeh.

Kedua putranya, yang tidak disebutkan nama depannya dalam laporan Kan, mengatakan Fakhrizaden telah diperingatkan oleh tim keamanannya agar tidak bepergian pada hari pembunuhan itu, tetapi dia tetap pergi keluar untuk rapat.

 

Bertentangan klaim pejabat Iran

Cerita mereka tentang baku tembak tampaknya bertentangan dengan klaim pejabat Iran bahwa Fakhrizadeh dibunuh oleh senjata produksi Israel yang dikendalikan dari jarak jauh oleh satelit. Kritikus melihat klaim tersebut sebagai cara bagi rezim untuk menghindari tanggung jawab karena tidak mencegah pembunuhan dan tidak menangkap para pembunuh.

Pembantaian tersebut akan memulai lagi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di hari-hari memudarnya masa jabatan Presiden AS Donald Trump. Karena presiden terpilih Joe Biden telah menyarankan pemerintahannya dapat kembali ke kesepakatan nuklir Teheran dengan kekuatan dunia yang sebelumnya ditarik oleh Trump.

Fakhrizadeh dituduh oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 2018 sebagai direktur proyek senjata nuklir nakal Iran. Ketika Netanyahu kemudian mengungkapkan bahwa Israel telah menghapus dari sebuah gudang di Teheran sebuah arsip besar materi milik Iran yang merinci program senjata nuklirnya, dia berkata: "Ingat nama itu, Fakhrizadeh."

Fakhrizadeh juga seorang perwira di Korps Pengawal Revolusi Islam Iran, yang diklaim oleh AS sebagai organisasi teroris.

Israel telah lama dicurigai melakukan serangkaian pembunuhan terarah terhadap ilmuwan nuklir Iran hampir satu dekade lalu, dalam upaya untuk membatasi program senjata nuklir nakal Iran. Belum ada komentar resmi tentang masalah tersebut. Liputan TV Israel mencatat bahwa serangan minggu lalu jauh lebih kompleks daripada insiden sebelumnya.

Pejabat Israel telah memperingatkan warga Israel yang bepergian ke luar negeri bahwa mereka mungkin menjadi sasaran serangan teror Iran setelah pembunuhan itu, dan memperingatkan mantan ilmuwan nuklir Israel bahwa mereka mungkin berada di garis bidik Iran.

--- Simon Leya

Komentar