Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

NASIONAL Pengamat: Jokowi Sukses Atasi Kemiskinan dan Ketimpangan 09 Aug 2018 10:41

Article image
Pengamat Kebijakan Publik Michael Bobby Hoelman. (Foto: Ist)
BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret mencapai 25,95 juta orang atau 9,82 persen, menurun dibanding kurun yang sama tahun lalu yang tercatat 27,77 juta orang atau 10,64 persen dari populasi.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Upaya-upaya pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang berhasil menurunkan angka kemiskinan dan ketimpangan Sosialpatut diapresiasi.

BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret mencapai 25,95 juta orang atau 9,82 persen, menurun dibanding kurun yang sama tahun lalu yang tercatat 27,77 juta orang atau 10,64 persen dari populasi.

"Semestinya bangsa ini mengapresiasi dalam kaitan paling penting capaian pemerintahan Jokowi ini untuk pertama kali boleh membalikkan tren itu yaitu di mana angka kemiskinan turun untuk pertama kali dalam sejarah di bawah dua digit," ujar  Pengamat Kebijakan Publik Michael Bobby Hoelman konferensi pers "Bukan Sekadar Menurunkan Kemiskinan Tetapi Melawan Ketimpangan untuk Pencapaian SDGs", Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Dalam jumpa pers yang diadakan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pencapaian Agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), Michael mengatakan keberhasilan penurunan kemiskinan tersebut dianggap suatu prestasi karena dibarengi dengan pengurangan ketimpangan, di mana angka gini ratio juga mengalami penurunan sebesar 0,002 poin pada Maret 2018 menjadi 0,389 jika dibanding dengan gini ratio pada September 2017 yang sebesar 0,391 poin. 

Dia berharap akan terjadi penurunan angka kemiskinan dan ketimpangan dari tahun ke tahun sehingga menunjukkan peningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

"Jadi kita sekarang punya tantangan kemiskinan itu sudah agak lebih mudah dikelola karena sudah berada di bawah dua digit," ujarnya.

Michael mengatakan tren positif antara penurunan kemiskinan dengan pengurangan ketimpangan menunjukkan adanya korelasi linear dari program-program prioritas Nawacita Pemerintahan Jokowi, yakni selain mengurangi jumlah penduduk miskin juga menyediakan akses bagi seluruh komponen masyarakat untuk juga menikmati pembangunan.

Meski begitu, memang masih ada tantangan untuk penurunan angka kemiskinan di beberapa daerah seperti Maluku dan Papua yang angka kemiskinannya masih di atas persentase rata-rata kemiskinan di tingkat nasional.

"Tapi artinya kita mulai bergeser dari pertumbuhan tidak berkualitas menuju pelan-pelan pertumbuhan yang lebih berkualitas," tuturnya.

Menurut dia, reorientasi kebijakan dan anggaran yang berkomitmen untuk berbagai belanja sosial seperti layanan Kartu Indonesia Sehat, subsidi pangan dan beasiswa melalui Kartu Indonesia Pintar yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo melalui program Nawacita terbukti mulai menuai hasil.  

"Penurunan tingkat kemiskinan berbarengan dengan gini ratio membuktikan pendekatan pembangunan manusia layak menjadi landasan bagi terobosan bahkan target–target ambisius pemerintah selanjutnya,” ujarnya

Di satu sisi, dia mengatakan pemerintahan bersifat berkesinambungan atau berkelanjutan, sehingga apa yang dihadapi pemerintahan sekarang itu juga diwariskan pemerintahan sebelumnya.

--- Redem Kono

Komentar