Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

UKM Pengusaha Start Up Perlu Bidik Pengguna Internet 10 Jan 2018 17:55

Article image
UKM saat memasarkan produk secara digital memalui internet. (Foto: ist)
Internet mempermudah konsumen mengakses informasi yang dibutuhkan, pemasar dapat menawarkan lebih banyak produk dan jasa, serta lebih cepat dan mudah mengumpulkan informasi tentang konsumennya.

SUMEDANG, IndonesiaSatu.co -- Pengusaha Start Up Indonesia diminta perlu mempertajam differentation usahanya, agar memiliki positioning. Dengan demikian, pengusaha Start Up diharapkan mampu bersaing dengan kompetitor sejenis. Salah satu peluang ke arah sana adalah dengan membidik masyarakat pengguna internet.

Direktur Pusat Inkubator Bisnis & Kewirausahaan Ikopin (PIBI) Indra Fahmi mengatakan keunggulan internet dalam implementasi bisnis yaitu kemudahan konsumen untuk mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan, pemasar dapat menawarkan lebih banyak produk dan jasa, serta lebih cepat dan mudah mengumpulkan informasi tentang konsumennya.

Oleh karena itulah PIBI sebagai fasilitator bisnis pengusaha Start Up di tanah air berupaya untuk memberikan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan bagi pengusaha Start Up agar mereka melek internet dan mampu mengoptimalkan media digital ini sebagai sarana bisnisnya.

Pernyataan itu dikemukakan Indra dalam acara seminar "Digital Marketing" bagi pengusaha Start Up di Gedung Suhardani (GSG) Ikopin, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (4/1/2018). Seminar ini juga menghadirkan Imas Nuraida yang merupakan Tenant PIBI Ikopin angkatan 2012.

“Berdasarkan hasil kajian dan empirik yang dilakukan oleh PIBI menunjukkan bahwa  permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar pengusaha Start Up di Indonesia itu sangat kompleks dan beraneka ragam, baik yang internal maupun eksternal," ucap Indra.

Menurut Indra, faktor internal yang sering menjadi masalah bagi pengusaha Start Up adalah masih rendah dan terbatasnya kompetensi SDM, modal, akses pasar, sistem pencatatan usaha, keterampilan memproses perizinan untuk usaha, jumlah barang yang yang diproduksi, dan keterampilan membuka akses terhadap lembaga pembiayaan serta berbagai informasi usaha.

“Sedangkan faktor eksternalnya adalah iklim usaha yang belum kondusif bagi pengembangan Pengusaha Start Up dan penciptaan wirausaha baru,” kata Indra.

Dalam memasarkan produk-produknya, pengusaha Start Up masih mengalami berbagai kendala yang meliputi 4 hal mendasar, yaitu belum memahami perbedaan antara pemasaran dan penjualan, sering mengandalkan harga yang murah sebagai strategi bersaing, belum memahami konsep service, serta belum mampu membangun positioning and differentation.

Dalam kesempatan itu, Imas Nuraida mengungkapkan bahwa media digital merupakan terobosan baru yang sangat membantu bisnis di era saat ini. Hal itulah yang disadari Imas, hingga didalam menjalankan kegiatan usahanya diantaranya Tour Travel Revolution (TTR), My Bigmall, dan TTR Robot, Imas memanfaatkan media digital.

“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk bisnis di dunia digital mengingat kekayaan alam Indonesia yang melimpah, tenaga kerja muda dalam jumlah yang besar, dan laju urbanisasi yang cepat,” ujar Imas.

Ia mengakui peluang bisnis melalui Internet di Indonesia sangat besar, karena 132,7 juta penduduk Indonesia adalah pengguna Internet, 40 persennya atau sekitar 106 juta orang adalah penggila media sosial. Sekitar 82 persen internet digunakan untuk mencari informasi tentang toko di sekitar mereka melalui mesin pencari.

Sementara saat ini bisnis online tumbuh hingga 80 persen lebih cepat dibandingkan dengan yang offline. Imas mengungkapkan beberapa alasan mengapa pelaku usaha saat ini harus beralih ke online. Diantaranya karena melalui bisnis online ini akan mempermudah akses ke pelanggan baru di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri.

“Selain itu akan mempercepat pencapaian peningkatan penjualan dan pendapatan, memudahkan transaksi dengan konsumen dan suplier, biaya iklan lebih murah, membuka lapangan pekerjaan sebanyak 150 persen dan bisnis online ini 12 kali lebih inovatif dibanding offline,” tandas dia.

--- Sandy Romualdus

Komentar