Breaking News

OPINI Pentakosta: Kelahiran Gereja dan “Bayi Rückenwind” 24 May 2021 15:41

Article image
Penulis sedang memimpin perayaan Pentakosta di salah satu paroki di Swiss (23/5/2021) waktu setempat. (Foto: ist)
Pentakosta menjadi dasar universalitas gereja yang terbentang dalam ruang dan waktu.

Oleh RD Stefanus Wolo Itu

 

Hari ini (waktu Swiss, gereja sedunia merayakan Pentakosta. Kita mengenangkan peristiwa pencurahan Roh Kudus ke atas para rasul dan komunitas gereja perdana di Jerusalem.

"Heute haben wir alle miteinander Geburtstag! Die Kirche kann am heutigen Pfingstfest wieder Geburtstag feiern” (Hari ini semua kita merayakan bersama hari ulang tahun. Gereja boleh merayakan lagi ulang tahun kelahiran pada perayaan Pentakosta hari ini). Demikian sapaan awal saya pada perayaan Pentakosta tadi. Saya ingin mengingatkan bahwa "gereja" adalah "kita". Kita sesungguhnya gereja yang hidup.

Selama 50 hari sejak paskah (kebangkitan Yesus), para rasul hidup dalam ketakutan. Mereka takut kepada pemimpin Yahudi yang telah bersekongkol membunuh Yesus. Mereka hidup tanpa kehadiran Yesus sejak peristiwa sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus. Mereka ibarat anak ayam kehilangan induk.

Mereka "lockdown" karena ketakutan pada "virus kekejaman" orang Yahudi. Mereka mengisi "lockdown" dengan tetap berdoa dan berharap pada pemenuhan janji Yesus.

Pada hari Pentakosta Yesus memenuhi janjiNya. Ia mencurahkan Roh Kudus ke atas mereka (para murid-Nya). Roh Kudus menguatkan dan meneguhkan mereka. Roh Kudus memberanikan mereka mewartakan injil kepada para bangsa. Mereka dianugerahi kemampuan multilingual dan menerima tugas perutusan Yesus.

Mereka yang tadinya tertutup menjadi terbuka. Eksklusif menjadi inklusif. Mereka yang takut menjadi berani. Mereka yang ragu-ragu menjadi percaya. Mereka mengimani Yesus Sang Guru secara komprehensif. Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, bertumbuh dan berkarya di depan publik. Yesus yang menderita sengsara, disalibkan, wafat, dimakamkan dan bangkit pada hari ketiga. Yesus yang menampakan diri kepada mereka, naik ke surga dan mencurahkan Roh Kudus.

Luar biasa karya Roh Kudus. Karena Roh Kudus, komunitas kecil para rasul dan gereja perdana Yerusalem berkembang menjadi gereja universal. Roh Kudus menumbuhkan, menyatukan dan menguatkan anggota gereja, umat manusia dan alam semesta.

Teolog Yves Congar mengatakan, "Pentakosta menjadi dasar universalitas gereja yang terbentang dalam ruang dan waktu". Kita mewartakan kerajaan Allah dengan serba aneka bahasa. Kita menjangkau dan menawarkan keselamatan kepada seluruh dunia dan umat manusia. Kita mempunyai hak yang sama dalam memperoleh keselamatan. Dan kita punya kewajiban menghantar sesama kepada jalan keselamatan.

 

"Bayi Rückenwind"

Setiap tahun kita merayakan Pentakosta. Perayaan ini mengajak kita bersyukur atas karya Roh Kudus. Kita memohon agar bisa menghidupi karunia-karunia Roh Kudus. Kita membaharui iman kita akan persatuan Tritunggal Maha Kudus.

Tahun ini saya merayakan Pentakosta untuk ketujuh kalinya di tanah misi Swiss. Dan hari ini saya merayakan tiga perayaan ekaristi. Sabtu sore di Kapela kecil Münchwilen. Minggu jam 09.00 di gereja paroki Stein dan jam 10.30 di gereja paroki Eiken. Semua perayaan berlangsung khusuk dan meriah.

Saya menyiapkan sapaan dan pengantar singkat, doa-doa, kotbah singkat dan prefasi meriah. Dirigen dan organis gereja kami mengemas lagu dan iringan musik yang berbeda untuk setiap perayaan. Saya tidak merasa jenuh dan membosankan. Ada lagu yang hanya dinyanyikan solis. Ada lagu yg dinyanyikan semua umat penuh sukacita. Ada lagu yg hanya diiringi orgel dan musik instrumental.

Tapi saya memiliki kesan tersendiri pada perayaan ekaristi jam 09.00 pagi di gereja Stein. Gereja Stein letaknya 150 meter dari sungai Rhein. Sungai yang berhulu di Kanton Graubünden Swiss dan bermuara di Rotterdam Belanda.

Satu grup band kecil mengiringi perayaan ekaristi di Stein. Grup ini baru dimulai beberapa waktu lalu. Grup ini masih "tanpa nama". Saya hampir saja menamai mereka "Grup Sambu Sai, Grup Sabu Temu, atau Grup Kebetulan Bertemu". Para pemain dan penyanyi adalah rekan kerja saya di paroki. Usia mereka berkisar antara 35 - 50 tahun, masih muda dan energik. Saya optimis bahwa gereja di paroki saya "masih hidup dan memiliki masa depan".

Simone, pemusik gereja kami bermain piano dan merangkap sebagai solis. Diana, sekretaris paroki dan Renate bermain Viol. Verena, Sekretaris Dewan paroki bermain gitar. Dan Fabrice anggota dewan paroki menabuh gendang.

Beberapa menit sebelum ekaristi mereka menyepakati nama grup mereka "Rückenwind". Rückenwind adalah nama lagu yang ditulis musikus Jerman kelahiran 1964, Martin Pepper. Beliau selalu tampil bertopi saat bermain musik dan bernyanyi.

Pepper menulis lagu ini tahun 1996. "Du bist der Herr, der mein Haupt erhebt. Du bist die Kraft, die mein Herz belebt. Du bist die Stimme, die mich Ruft. Du gibst mir Rückenwind". Artinya "Engkaulah Tuhan yg mengangkat wajahku. Engkaulah kekuatan yang menghangatkan hatiku. Engkaulah suara yang telah memanggil aku. Engkau memberikan aku dorongan, dukungan dan arah".

"Rückenwind" terjemahan lurusnya "angin dari belakang". Angin positif yang menghibur, memberi semangat dan menunjuk arah. Bagi Martin Pepper, angin itu adalah Roh Kudus. Roh Kuduslah "Angin Illahi" yang menguatkan dan meneguhkan dirinya.

Dia mengalami kegersangan hidup. Tapi dia tahu Tuhan menolong dia. Karena itu lebih lanjut dia menulis: "Deine Liebe ist ein Wasserfall auf meinen Wüstensand". Artinya "CintaMu adalah air terjun di atas gurun pasirku".

Kru "Rückenwind" yang terdiri dari rekan-rekan kerjaku terinspirasi oleh Martin Pepper ini. Mereka tahu situasi Pandemie ini membawa banyak dampak negatif. Banyak yang kesepian dan stres. Banyak yang keluar dari gereja karena faktor ekonomi. Banyak yang tidak puas terhadap kebijakan pimpinan gereja, baik pimpinan gereja lokal maupun Paus di Roma.

Mereka ingin menjadi Rückenwind. Mereka ingin menjadi "angin dari belakang, penghibur dan pemberi semangat". Mereka ingin mewartakan kabar sukacita melalui alunan musik dan lagu. Mereka dan kami semua menyanyikan "Rückenwind" sebagai lagu penutup perayaan ekaristi.

Pada saat pengumuman, saya mengapresiasi grup ini. Saya mengajak umat bertepuk tangan. Saya mengucapkan proficiat atas hari ulang tahun kelahiran gereja semesta. Saya juga mengucapkan selamat atas kelahiran sang bayi "Rückenwind" pada hari Pentakosta.

"Ein neues Feuer ist in unserer Kirchgemeinde enfacht” (Api baru sudah bernyala dan berkobar di tengah paroki kita). Kita menjaga agar api baru itu tetap menyala. Semoga "Bayi Rückenwind" bertumbuh menjadi salah satu lidah api kecil yang menghangatkan hidup beriman di paroki kita.

Ich wünsche Ihnen allen ein schönes Pfingstfest. Saya mengucapkan selamat pesta Pentakosta untukmu semua.

 

Penulis adalah imam projo Keuskupan Agung Ende, Flores, NTT, saat ini menjadi misionaris Fidei Donum di Keuskupan Basel Swiss

Komentar