Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

POLITIK Penyebab Kekalahan di Pilgub Jabar, Dedi Mulyadi: Politik Citra Digantikan Politik Gerilya Teritorial 30 Jun 2018 13:41

Article image
Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Foto: Ist)
Politik gerilya teritorial sendiri adalah pemakaian jaringan darat yang mengakar dan mampu mendapatkan suara lebih banyak.

PURWAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Cawagub no urut 4 di Pilkada Jabar sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menganalisis penyebab kekalahannya dalam pemilihan gubernur Jawa Barat.

Dilansir Kompas.com, Dedi menyebutkan adanya fenomena baru muncul di pemilihan gubernur Jawa Barat tahun ini. Yakni, berakhirnya tren politik citra di kalangan masyarakat yang ampuh selama beberapa dekade dan beralih kepada politik gerilya teritorial langsung ke masyarakat.

Politik gerilya teritorial sendiri adalah pemakaian jaringan darat yang mengakar dan mampu mendapatkan suara lebih banyak.

“Di Pilgub Jabar ini, survei banyak yang meleset. Analisis pakar banyak yang meleset. Artinya, ada perubahan fenomena, politik citra berubah menjadi politik gerilya teritorial. Ini harus diwaspadai Partai Golkar di Pilpres 2019, termasuk partai lain pengusung Pak Jokowi,” jelasnya, di Purwakarta Sabtu (30/6/2018).

 Selama ini, posisi Jawa Barat selalu menjadi magnet dan percontohan bagi pelaksanaan pemilihan presiden yang akan dilaksanakan setahun lagi. Apalagi daerah ini memiliki jumlah pemilih paling besar dibandingkan dengan provinsi lainnya. Jumlah pemilih sebesar ini tentu saja menjadi incaran para calon presiden di Tahun 2019.

Semua calon presiden dipastikan ingin menjadikan Jawa Barat sebagai basis pemilihnya demi insentif elektoral. Sesuai dengan pengalamannya selama mengikuti Pilgub Jabar kemarin. Pada survei sebelum hari pencoblosan, pasangan Rindu diprediksi akan bersaing ketat dengan pasangan Duo DM. Akan tetapi, prediksi tersebut jauh dari kenyatannya. Pasangan Sudrajat-Syaikhu menyalip perolehan suara Duo DM.

 “Anda bayangkan, mohon maaf, elektabilitas di awal rendah, lalu naik ke 10 persen. Kemudian, loncat ke 15 persen sampai akhirnya 28 persen saat pemilihan. Ini bukti tren citra yang kemudian beralih ke gerilya teritorial,” kata Dedi.

Terhadap fenomena tersebut Dedi menyebutkan bahwa terdapat gelombang peralihan pilihan politik seminggu jelang pemilihan berlangsung Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.

“Artinya, ada pergerakan besar dengan strategi yang ampuh, menyasar teritorial dengan cara bergerilya. Sehingga, akibatnya mengubah konstelasi Pilgub Jabar,” sebutnya.

 Gelombang peralihan dukungan itulah yang mengakibatkan ceruk suara Duo DM tergerus sampai hari pencoblosan. Karakteristik pemilih Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi memang berbeda. Dedi mengatakan, Deddy Mizwar memiliki basis pemilih yang banyak beririsan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pasalnya Deddy didukung oleh partai berbasis pemilih Islam itu saat berpasangan dengan Ahmad Heryawan di Pilgub 2013. Awalnya PKS sendiri pernah mewacanakan untuk mendukung Deddy Mizwar dengan Ahmad Syaikhu untuk Pilkada Jabar tersebut

Sementara itu lanjut Dedi, dirinya memiliki basis pemilih tradisional yang kuat. Pemilih tersebut telah terpapar sosialisasi kemajuan Purwakarta. Hal itu dibuktikan dengan dominasi Dedi Mulyadi di Purwakarta, Subang dan Karawang. Selain itu, pinggiran Kabupaten dan Kota Bekasi pun menjadi basis pria yang lekat dengan iket Sunda makutawangsa itu.

 “Ada kutub pemilih yang berbeda antara saya dengan Pak Demiz. Pemilih Pak Demiz banyak beririsan dengan PKS. Juga terkait partai pengusung Pak Demiz, mungkin belum sejalan dengan konstelasi Pilpres 2019. Sehingga, basis elektoral ini yang mengalihkan dukungan,” katanya.

--- Redem Kono

Komentar