Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

TOKOH Perak Perkawinan, 'Yang Lama dan Yang Terus Diperbaharui' 13 Jun 2016 12:49

Article image
Novelis yang juga tokoh sastra dan budaya dari Universitas Udaya, Denpasar, Dr. Maria Matildis Banda saat meluncurkan Novel berjudul Doben (Bahasa Timur Leste artinya Kekasih), di sela syukuran 25 tahun perkawian dengan Drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes.
Mengambil metafora Bunga Wijaya Kusuma, yang mekar diam-diam di tengah malam, namun menebarkan aroma harum bagi lingkungan di sekitarnya, demikian pula sikap yang ditampilkan sosok Domi dan Mery.

JAKARTA,IndonesiaSatu.co -- Pernikahan atau perkawinan merupakan komitmen tulus dan sadar kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, untuk hidup, tumbuh, berkembang dan menggapai bahagia secara bersama. Komitmen itu diungkapkan dalam sebuah “Janji Pernikahan”.

Namun, sangat manusiawi, bila komitmen dan janji itu perlahan layu, seiring perjalanan waktu. Karena itu, harus ada jedah, momen tertentu, yang diperingati dan bila perlu dirayakan, untuk memperbaharui komitmen dan janji tersebut. Momentum itu misalnya dilakukan setelah sebuah perkawinan mencapai usia 25 tahun dan 50 tahun.

Dalam tradisi Gereja Katolik, peringatan 25 tahun atau 50 tahun pernikahan dirayakan dalam Perayaan Ekaristi. Dalam perayaan itu, pasangan suami dan istri, kembali membaharui janji perkawinan, yang pernah diikrarkannya puluhan tahun silam. Keduanya kembali berjanji untuk saling mencintai, setia dalam untung dan malang, dan tak terpisahkan hingga dijemput maut.

Momentum indah dan bahagia itu juga dialami oleh pasangan Drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes.,  dan Doktor Bidang Budaya di Universitas Udaya, Denpasar, Maria Matildis Banda. Keduanya memutuskan mengayuh bahtera rumah tangga bersama pada 12 Juni 1991, di Bajawa, di hadapan Pater Hendrik Djawa, SVD. Kini, pasangan yang telah dianugerahi seorang putera, Carol Wojtila P. Andent Mere (23 tahun) dan menjadi orang tua asuh Arnolda Yanseno Gala dan Yosef Freinademez Sinu, sudah menempuh hidup perkawinan selama 25 tahun.

Meneguhkan kembali janji suci dan saat-saat manis di masa awal kehidupan perkawinan, keduanya memutuskan melakukan pembaharuan komitmen. Pasangan suami-istri ini membaharui janji pernikahannya dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Rofinus Neto Wuli, Pr.S.Fil, M.Si (Han) dan Pater Ansel Doredae, SDV, M.A., di Gereja Katolik St. Valentino Kopassus, Cijantung, Minggu (12/6).

Perayaan Ekaristi yang mengambil tema, “Yang Lama Yang Dibaharui” itu dihadiri oleh keluarga dekat, para kerabat, kenalan dan rekan kerja. Usai Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan “ramah-tamah” yang penuh akrab dan rasa syukur, di aula gereja.

Walau tidak digelar di tenda, seperti - mungkin - dilakukan di Bajawa, 25 tahun lalu, namun kebahagiaan dan cinta mampu dihadirkan dan diperbaharui kembali malam itu.

 

Mekar Diam-diam

Bagi sosiolog dan sastrawan Ignas Kleden, pasangan Domi dan Mery – begitu keduanya disapa – tidak asing lagi. Perkenalan puluhan tahun lalu menjadikan mereka seperti satu keluarga.

Didaulat memberi Kata Sambutan, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (STFK) ini mengapresiasi suami-istri ini atas karya dan pengabdian mereka. Sang kritikus sastra lebih banyak mengulas karya sastra Mery selama ini.

Mery, yang juga dosen di Fakultas Ilmu Budaya dan Sastra Universitas Udaya Denpasar ini telah menghasilkan beberapa karya sastra, di antaranya, Pulang (cerpen), Potret Gadisku (drama modern), Dalam Bening Mata Mama (cerpen), Perempuan Kecintaanku (cerpen), dan Rebung Gading (cerpen). Selain itu, Doben, cerita bersambung yang mendapat penghargaan Majalah Femina pada tahun 2000.

Peraih doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman ini menaruh perhatian pada empat karya Mery, yang menurutnya sangat menggugah. Keempatnya yaitu, Rabies (2002/2003), Surat-Surat Dari Dili (2005), Noben (2016), dan Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (cetakan I dan II 2015). Karya Sastra tersebut, kata Ignas, ditulis Mery ketika mendampingi sang suami bertugas sebagai seorang “abdi negara”.

“Inilah keunikan pasangan ini. Keduanya mengambil peran yang tidak dimiliki oleh pasangannya. Keduanya saling mengisi,”kata pria kelahiran Flores Timur, NTT, 19 Mei 1948.

Mengambil metafora Bunga Wijaya Kusuma, yang mekar diam-diam di tengah malam, namun menebarkan aroma harum bagi lingkungan di sekitarnya, demikian pula sikap yang ditampilkan sosok Domi dan Mery. Keduanya memberi contoh sebuah pengabdian setia di dalam sunyi. “Mereka mekar diam-diam,” kata Ignas.  

 

--- Very Herdiman

Komentar