Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

HUKUM Perankan Video Porno, Anak Jalanan Diupah Rp 300.000 09 Jan 2018 06:39

Article image
Para tersangka dalam kasus video porno yang melibatkan anak-anak jalanan di Bandung. (Foto: Tribun News)
Setelah membuat video, perekrut anak mendapatkan imbalan sebesar Rp 31 juta yang kemudian dibagikan kepada para pemeran, penghubung dan anak-anak.

BANDUNG, IndonesiaSatu.co – Pengembangan kasus eksploitasi anak dalam pembuatan video porno dengan seorang wanita dewasa mengungkap fakta miris. Karena sejumlah bocah laki-laki yang direkrut hanya dibayar antara Rp 200.000 hingga Ep 300.000.

Hasil pengusutan oleh polisi dari Polda Jawa Barat terungkap bahwa pelaku berinsial FA bertugas untuk merekrut anak-anak untuk memerankan adegan porno layaknya orang dewasa. Belakangan video tersebut beredar di media sosial dan menjadi viral.

"Anak-anak dikasih Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu untuk beradegan hal itu," ujar Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto di Bandung, Senin (8/1/2018) sebagaimana dikutip Antara News.

Agung mengatakan, setelah membuat video, pelaku FA mendapatkan imbalan sebesar Rp 31 juta yang kemudian dibagikan kepada para pemeran, penghubung dan anak-anak.

FA mengirim video tersebut melalui apkikasi telegram kepada jejaringnya di akun media sosial yang dibuat di Rusia. 

Dari hasil mengiriman video tersebut, pelaku kemudian mendapatkan uang puluhan jutaan rupiah dari para pemesan.

Untuk para pemeran lain, yakni IM dan IN yang bekerja sebagai pemandu lagu, mendapatkan uang masing-masing Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. 

Sementara orang tua korban yang juga terlibat diberi uang Rp 500.000.

"Orang yang menghubungkan, yang merekrut anak mendapat imbalan juga. Rata-rata Rp 1 juta rupiah," katanya.

Agung menjelaskan, dalam pembuatan video tersebut tersangka FA meminta seorang wanita berinisial CC dan IS untuk merekrut dua perempuan, yakni IM dan IN untuk dijadikan pemeran. 

Setelah keduanya setuju, mereka kemudian diminta mencari tiga bocah lain untuk dijadikan pemeran. 

IM dan IN pun menemukan tiga bocah dan direkrut seatas ijin SU yang merupakan orang tua? korban.

Setelah mendapatkan seluruh pemeran, pelaku kemudian melakukan aksinya di dua hotel berbeda di Kota Bandung. 

Bahkan hal tak pantas tersebut dilakukan oleh orang tua bocah, di mana dalam video tersebut ia memerintahkan anaknya dan menunggu hingga pengambilan video selesai.

"Bahasanya jelas seorang ibu untuk memerintahkan anaknya, semuanya terbukti ada peran ibunya untuk diekspolitasi. Di hotel kedua juga ibu terlibat dan menunggu anaknya," kata dia.

Atas mengungkapan ini, polisi berhasil menangkap enam pelaku, yakni FA, CC, IN, IM, HN, dan SU. Sementara satu orang perekrut wanita lainnya IS masih dalam tahap pengejaran aparat kepolisian.

Ketua P2TP2A Provinsi Jabar Netty Heryawan mengatakan pihaknya bakal melakukan serangkaian kegiatan observasi dan assessment (penilaian) yang melibatkan psikolog dalam kasus yang melibatkan anak di bawah umur tersebut.

"Trauma healing tentu kita siapakan serangkaian kegiatan seperti dilakukan motivational healing, pendekatan spiritual, pembiasaan budi pekerti dan etika, dan pendampingan pekerja sosial dan psikolog?," katanya.

Selain itu, P2TP2A akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk mengembalikan para korban ke bangku sekolah, mengingat dua dari tiga anak ini putus sekolah.

"Terakhir dengan mengembalikan para korban ini ke bangku sekolah, karena korban ini masih berusia sekolah namun satu diantaranya putus sekolah," kata dia.

--- Simon Leya

Komentar