Breaking News

TAJUK Perayaan Bhineka 28 Jan 2019 11:30

Article image
Para biarawati Katolik berjalan di depan umat Islam yang merayakan HUT Muslimat NU. (Foto: Ist)
Perbedaan antar agama tidak membangun tembok pemisah, tetapi jembatan membangun kasih, menebarkan kemanusiaan.

PADA perayaan HUT Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) yang dihadiri ratusan ribu orang di Gelora Bung Karno (GBK), sebuah foto memunculkan keharuan: Dua orang suster/biarawati Katolik menghadiri perayaan muslimat NU. Berjalan di keriuhan riang gembira umat Muslim yang hadir.

Tak bermaksud melebih-lebihkan, gambar ini sangat simbolik. Kedua biarawati ini berjalan nyaman, disaksikan jemaat NU. Saya yakin, biarawati datang karena diundang, dan berkewajiban menghadiri undangan ini. Tentu ada ikatan historis yang membuat para biarawati diundang dan akhirnya datang.

Muslimat NU adalah salah satu sayap organisasi NU independen yang anggotanya adalah para ibu anggota NU. Ketuanya: Khofifah Indar Parawansa (Mantan Mensos Jokowi, akan Gubernur Jawa Timur). NU, sebagaimana kita tahu, adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Diklaim 100 juta penduduk Indonesia adalah anggota NU.

Sebagaimana dua biarawati Katolik tadi, tentu banyak kali kita juga selalu bahagia bersama para sahabat dari NU. Kesan pertama ketika bertemu: sahabat-sahabat NU suka humor dan sederhana, membahasakan segala sesuatu riang gembira. Gelak tawa. Kesan kedua: sahabat-sahabat NU ramah, toleran, dan cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Islam yang diajarkan NU adalah Islam Nusantara, Islam yang menerima kebhinekaan Indonesia yang kaya agama dan kaya budaya.

Islam yang mencintai NKRI sejalan komitmen umat Katolik di Indonesia. Bagi umat Katolik, cinta NKRI adalah perwujudan iman. Salah satu tokoh Katolik yang juga pahlawan Nasional Indonesia, Uskup Soegijapranata secara tegas mengatakan: 100 % Katolik, 100 % Indonesia.

Menurut tokoh NU yang juga tokoh bangsa Gus Dur, agama harus menganjurkan kemanusiaan. Perbedaan antar agama tidak membangun tembok pemisah, tetapi jembatan membangun kasih, menebarkan kemanusiaan. Ia pernah berkata: saya dan Romo Mangun berbeda agama, tetapi iman kami sama: kemanusiaan. Kemanusiaan adalah inti agama-agama.

Kembali pada foto simbolik di atas, pemikiran Indonesianis Ben Anderson kembali mengemuka. Ben, bicara tentang bangsa (Indonesia) sebagai "komunitas terbayang" (immagined community). Luasnya Indonesia, bhinekanya Indonesia, kayanya Indonesia menyebabkan kita tidak bisa melihat seluruhnya secara langsung (kasat mata). Kita hanya bisa mengimajinasikan Indonesia. Dan Pancasila mempersatukan ingatan bersama kita tentang Indonesia yang bhineka.

Dua biarawati Katolik dan ratusan ribu umat NU telah mengimajinasikan Indonesia. Dan imajinasi itu mempersatukan mereka sebagai sama-sama saudara. Semoga kita juga. Kita sesama saudara Indonesia saling menghormati dalam perbedaan. Kita diajak dari foto ini untuk tidak saling mengkafir-kafirkan, tidak saling mengklaim kemutlakan agama atau budaya.

Indonesia telah dan sedang elok karena rahmat perbedaannya. Inilah indahnya Indonesia. Kita harus bersyukur karena Indonesia.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar