Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

TAJUK Perempuan dan Terorisme 19 Jun 2017 16:58

Article image
Deradikalisasi dapat berperspektif gender. (Foto: Wordpress.com)
Mendengarkan suara perempuan merupakan terapi paling ampuh mengurangi aksi terorisme oleh perempuan.

PADA 10 Desember 2016, pasukan elit antiteror Mabes Polri, Densus 88 menangkap tiga perempuan calon bunuh diri di Bekasi, Jawa Barat dan di Karanganyar, Jawa Tengah. Ketiga perempuan tersebut diduga merencanakan serangan bom bunuh diri ke Istana Kepresidenan, saat pergantian giliran jaga pasukan pengaman presiden (Paspampres).

Bom bunuh diri menggunakan perempuan, demikian beberapa analisis akademis dan laporan jurnalistik, muncul karena beberapa penyebab. Pertama, terdesaknya teroris menyebabkan berkurangnya tenaga-tenaga bom bunuh diri dari kaum pria. Priotas laki-laki di medan tempur membuat para teroris membidik kaum perempuab sebagai calon bom bunuh diri.

Kedua, motif balas dendam. Ada perempuan yang bersedia menjadi calon bunuh diri karena faktor dendam. Perempuan yang kehilangan anak, suami, ataupun  keluarga cenderung lebih mudah dihasut. Tampaknya bom bunuh diri menjadi wahana untuk menuntaskan dendam mereka.

Ketiga, motif ekonomi. Ada perempuan calon bom bunuh diri karena alasan ketidakadilan ekonomi. Ada hubungan antara kemiskinan atau kesenjangan ekonomi yang membuat perempuan putus asa. Keterdesakan ekonomi membuat perempuan dapat menggunakan cara-cara kekerasan.

Keempat, pilihan menggunakan kaum perempuan dalam aksi bom bunuh diri karena alasan 'taktis'. Artinya, perempuan kurang dicurigai, mudah menyamar, dan sering tidak menyita perhatian. Karena itu perempuan didukung karena lebih cenderung tidak cepat terdeteksi.

Terhadap konteks perempuan dan terorisme, maka program deradikalisasi berbasis gender harus diutarakan untuk mencegah dan menindak kejahatan terorisme yand dilakukan perempuan.

Mendengarkan suara perempuan merupakan terapi paling ampuh mengurangi aksi terorisme oleh perempuan. Pendampingan keluarga, hukum, dan perbaikan kehidupan sosial yang adil dapat ditekankan.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar