Breaking News

SOSOK Petrus Reinhard Golose, Jenderal dengan Segudang Prestasi 07 Jan 2021 13:49

Article image
Komjen Pol Petrus Reinhard Golose. (Foto: Merdeka.com)
Seperti Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian yang juga profesor doktor, Petrus Golose adalah polisi dengan wawasan intelektual yang luas dan mumpuni.

Oleh Valens Daki-Soo

"Lens, tolong kontak dan temui Kompol Petrus sore ini ya. Setelah itu kita bergabung di Tebet," begitu suara Komisaris Besar (Kombes) Gories Mere melalui telepon seluler di ujung tahun 2001 silam. Saat itu Kombes Gories Mere baru diangkat sebagai Direktur IV/Narkoba Mabes Polri, dan akan menyandang bintang satu (Brigjen) di pundaknya. Sebelumnya Gories menjabat Wakapolda NTT setelah berkiprah di dunia reserse khususnya di Polda Metro Jaya.

Saya beruntung diajak Pak Gories untuk membantu, bekerja bersama timnya saat beliau melepaskan jabatan Wakapolda di daerah asalnya, NTT. Sejak itu, selama bertahun-tahun saya bekerja membantu Pak Gories, sambil terus mengasistensi Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri yang baru pensiun dari posisi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), Mei 2002.

Sesuai arahan Pak Gories, sore itu (saya lupa tanggal persisnya karena sudah lama), saya bergerak ke Hotel Century Park di kawasan Senayan, diantar sopir Pak Gories. Untuk pertama kali saya mengenal salah satu perwira muda kepercayaan Pak Gories, Komisaris Polisi Petrus R Golose. Saya dengan cepat merasa akrab karena Bang Petrus -- demikian biasanya nanti dia disapa -- ramah dan luwes. Meski baru berjumpa, saya bisa menebak perwira muda ini cerdas. Saya juga sudah mendapat info dia fasih berbahasa Inggris.

Kelak tebakan saya terbukti benar. Petrus Golose terlibat aktif dalam berbagai operasi penanganan tindak pidana terorisme di tanah air, baik dalam Satgas Bom Polri (yang mulanya dibentuk untuk menangani aksi bom Bali I dan II), lalu dalam Densus 88/Antiteror Polri. Dalam konteks ini, Petrus menyebut Gories Mere sebagai gurunya. Hal itu pernah diungkapkan Petrus sendiri kepada media massa.

Secara akademis, prestasi Petrus meyakinkan. Dia meraih gelar doktor di kampus terkemuka Universitas Indonesia (UI). Dalam bukunya berjudul "Invasi Terorisme ke Cyberspace" (2015), Petrus menegaskan, tren aktivitas terorisme telah berubah. Jika dulu mengandalkan cara-cara konvensional, kini teroris beralih ke -- dan mengandalkan -- teknologi internet. Mulai dari rekrutmen kader hingga eksekusi target telah dilakukan dengan memanfaatkan dunia maya.

Seperti Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian yang juga profesor doktor, Petrus Golose adalah polisi dengan wawasan intelektual yang luas dan mumpuni. Kini dia menduduki posisi nomor satu di sebuah badan strategis yang pernah ditempati sang guru alis mentornya, Gories Mere.

Diangkat Presiden Jokowi

Irjen Pol Dr. Drs. Petrus Reinhard Golose, MM diangkat Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Komjen Heru Winarko yang pensiun sejak 1 Desember 2020.

Bersama enam menteri dan lima wakil menteri, Petrus dilantik di Istana Negara, Jakarta pada Rabu (23/12/2020) pukul 09.30 WIB. Pada tanggal 5 Januari 2021 pangkatnya dinaikkan menjadi Komisaris Jenderal.  Bintang tiga pun tersemat di pundaknya.

Sebelumnya perwira tinggi polisi dengan latar belakang reserse ini menjabat sebagai Kapolda Bali. Sepanjang karier sebagai abdi Bhayangkara, Petrus lebih banyak berurusan dengan masalah penanggulangan tindak pidana terorisme.

Pengangkatan Petrus sebagai Kepala BNN tidaklah mengejutkan mengingat prestasi yang telah diukirnya selama ini. Salah satu prestasi yang melambungkan nama Petrus dan rekan-rekannya adalah penangkapan teroris Dr Azahari dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur pada 9 November 2005 silam. Petrus pernah mendapat penghargaan kenaikan pangkat luar biasa dari Kapolri Jenderal Sutanto.

Kompatriot Petrus saat melumpuhkan teroris Dr Azahari adalah antara lain Tito Karnavian (Jenderal Pol Purn, mantan Kapolri, sekarang Mendagri), Idham Azis (sekarang Kapolri, jenderal bintang empat), Rycko Amelza Dahniel (sekarang Kabaintelkam, berpangkat Komjen), dan Marthinus Hukom (kini Kepala Densus 88/Antiteror, berpangkat Irjen).

Petrus termasuk dalam daftar Kapolda yang sukses. Petrus juga adalah polisi yang menduduki posisi jabatan kapolda paling lama yaitu empat tahun sebagai Kapolda Bali.

Petrus punya keahlian khusus dalam bidang Internet Technology (IT). Prestasi Petrus yang menonjol dalam bidang IT yakni ketika ia sukses menangani kasus peretasan ( hackingwebsite KPU dan hacking website Partai Golkar.

Bahkan Petrus tercatat menjadi salah satu personel kepolisian yang turut berkontribusi melahirkan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Pendidikan dan Karir

Petrus Reinhard Golose lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 27 November 1962. Petrus lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1988. Di tahun yang sama, ia juga menyelesaikan pendidikan S1-nya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Pada 2002, Petrus melanjutkan pendidikan program Magister Manajemen.

Berbagai jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya, di antaranya sebagai Kapolsek Lodoyo, Polres Blitar di Jawa Timur pada 1989. Petrus kemudian mengemban sejumlah jabatan penting di Polda Metro Jaya.

Petrus pernah menjadi Kepala Sub-unit Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Polda Metro Jaya pada 1995.

Tiga tahun kemudian Petrus menjabat sebagai Komandan Unit II Pok Serse Reaksi Cepat Satuan Resmob Korserse Polri.

Sebelum menempuh pendidikan lanjutan, Petrus pernah ditugaskan sebagai penyidik Madya Pokdok I Subdit Lidik Direktorat Reserse. Petrus menuntaskan pendidikan Sespim Dediklat Polri pada 2002.

Karir Petrus di bidang Bareskrim terus menanjak setelah dipercaya sebagai Wakaden 88/Antiteror Polda Metro Jaya pada 2005. Petrus bergabung dengan tim khusus bentukan Mabes Polri untuk memburu Dr Azahari.

Pada tahun 2010, Petrus menjabat sebagai Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. Sebelum ditunjuk sebagai Kapolda Bali pada 2016, Petrus sempat ditugaskan ke luar institusinya sebagai Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Jabatan terakhir Petrus sebelum diangkat Presiden Jokowi menjadi Kepala BNN adalah Kapolda Bali selama empat tahun. Pada  20 November 2020 jabatan Petrus sebagai Kapolda Bali diteruskan oleh Irjen Putu Jayan Danu Putra. 

Penugasan Khusus

Petrus juga pernah mengemban berbagai penugasan khusus sebagaimana dicatat Antara News. Petrus pernah terlibat sebagai penjaga perdamaian PBB di Kamboja-UNTAC pada tahun 1993 dan Bosnia pada 2000 hingga 2001.

Kiprah Petrus dalam penyidikan internasional juga tidak kalah banyak. Dia pernah terlibat dalam penyidikan internasional di Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Jepang, Timor Timur, New Zealand, Thailand, Philipina, dan Kamboja.

Dia juga pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

Tak hanya terlibat dalam penanganan terorisme, pria yang masuk Akademi Kepolisian pada 1988 ini juga pernah menangani kasus hacking di Indonesia yaitu hacking website KPU dan Partai Golkar. Atas pengalamannya ini, dia juga menulis buku berjudul Seputar Kejahatan Hacking: Teori dan Studi Kasus (2018).

Dia bahkan meraih gelar Doktor Kajian Ilmu Kepolisian setelah mempertahankan disertasinya yang juga bertema tindak pidana siber ini, judulnya "Manajemen Penyidikan Tindak Pidana Hacking. Studi Kasus: Penyidikan Tindak Pidana Hacking Website Partai Golkar Oleh Unit V IT & Cybercrime Bareskrim Polri" pada Sabtu, 7 Juni 2008.

Selamat bertugas, Jenderal Petrus.

Penulis adalah mantan Staf Khusus Wakil KSAD era Letjen TNI Kiki Syahnakri; sejak 2001 hingga kini Staf Khusus Komjen Pol (Purn) Gories Mere; Pendiri & CEO Veritas Dharma Satya (VDS Group)

Komentar