Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

REGIONAL Philipus Kami: Decotourism Flores Membangun Paradigma Pariwisata 14 Jan 2018 19:31

Article image
Philipus Kami (kedua dari kiri) saat menhadiri kegiatan Decotourism di Detusoko, Ende (Foto: Nando)
“Kegiatan ini justru membangun paradigma pariwisata berbasis dan berorientasi pada pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal sesuai potensi yang dimiliki. Apresiasi untuk RMC Detusoko sebagai salah satu wadah kreatif kaum muda yang berani m

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Kegiatan bertajuk ‘Detusoko Ecotourism (Decotourism) Flores’ yang digagaskan oleh 10 pemuda-pemudi Indonesia Alumni Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) dalam kerjasama dengan Remaja Mandiri Community (RMC) dan Kelompok Tani Bungalomu Detusoko, kabupaten Ende pada tanggal 8-12 Januari 2018 lalu mendapat apresiasi dari Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara region Flores-Lembata, Phlipus Kami.

Menurutnya, kegiatan Decotourism Flores yang digagas oleh sekelompok kaum muda merupakan spirit baru dalam membangun paradigma pariwisata berbasis lokal.

“Kegiatan ini justru membangun paradigma pariwisata berbasis dan berorientasi pada pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal sesuai potensi yang dimiliki. Apresiasi untuk RMC Detusoko sebagai salah satu wadah kreatif kaum muda yang berani melakukan gebrakan mulai dari basis terkecil yakni Desa Detusoko Barat dan kelompok tani Bungalomu Detusoko sebagai pilot project Decotourism,” ungkap Philip kepada IndonesiaSatu.co, Sabtu (13/1/18).

Ia menilai, kegiatan Decotourism semestinya menjadi pintu masuk pengembangan potensi lokal berbasi agriculture guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan pemerataan pembangunan di Detusoko, Ende pada khususnya dan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada umumnya.

“Pariwisata menjadi salah satu sektor potensial namun belum optimal berimplikasi secara sosial terhadap sumber daya dan ekonomi masyarakat. Destinasi pariwisata berkelanjutan semestinya berjalan secara sinergis dengan berbagai potensi kearifan lokal, alam, agriculture dan budaya setempat. Sumber daya masyarakat perlu diberdayakan baik melalui penyuluhan/sosialisasi, pelatihan keterampilan, workshop maupun investasi berskala ekonomi kreatif. Implikasi sosial belum optimal dan sinergis. Pemerintah Desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kecamatan maupun pemeritah kabupaten perlu menindaklanjuti kebijakan-kebijakan strategis sektor pariwisata,” lanjutnya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Ende yang juga hadir pada kegiatan Decotourism ini berpandangan bahwa masyarakat di sekitar objek wisata masih menjadi kelompok yang pasif di tengah arus wisata.

“Jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun wisatawan Asing terus meningkat hampir setiap tahun. Namun, dampak sosial bagi masyarakat sekitar sangat minim. Sementara banyak potensi lokal masyarakat yang tidak dioptimalkan baik kearifan lokal, alam, budaya maupun keseharian masyarakat yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) harus menjadi atensi bersama berbagai elemen terutama Pemda Ende agar bersinergi dengan para pelaku dan pegiat wisata,” imbuhnya.

Ia mengharapkan agar kerjasama dan gebrakan Decotourism Flores oleh YSEALI dan RMC Detusoko serta kelompok tani Bungalomu Detusoko mampu meningkatkan sumber daya masyarakat guna mengangka berbagai potensi dan produk lokal agar bersaing di tengah arus pasar modern.

“Diharapkan agar bentuk kerjasama dan gebrakan Decotourism ini semakin memperluas mitra jaringan (networking) sehingga mendorong ekonomi masyarakat secara kreatif menuju kesejahteraan dan kemandirian. Agrowisata berbasi agrikultur diharapkan menjadi industri pariwisata strategis di Flores dengan kapasitas sumber daya masyarakat yang mumpuni, ivoatif dan kompetitif. Apresiasi untuk YSEALI dan RMC Detusoko yang telah membangun paradigma baru pariwisata berbasis lokal,” tandas pegiat dan pemerhati komunitas masyarakat adat ini.

 

--- Guche Montero

Komentar