Breaking News

KESEHATAN Plasma Konvelesen: Pendonor Harus Sebagai Pemenang Pertempuran Melawan Covid-19 22 Feb 2021 05:13

Article image
Menurut peraih gelar doktor ilmu kedokteran Biomed di usia 35 tahun ini, sampai saat ini donor Plasma Konvalesen masih menimbulkan pro kontra maka perlu terus melakukan uji klinis.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Dalam rangka mendukung Gerakan  Nasional  Donor  Plasma Konvalesen yang diresmikan Wakil  Presiden  Ma’ruf  Amin pada 18 Januari lalu, sekaligus memberikan pencerahan terhadap sikap pro kontra msyarakat, bahkan perdebatan di antara para ahli medis terhadap transfusi plasma Konvalesen, FoKus  -- Forum Diskusi  -- ISKA Channel yang bernaung di bawah Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) menyelenggarakan fokus grup diskusi bertajuk “Plasma Konvalesen: Harapan dan  Tantangan Penyembuhan Covid-19” pada Jumat (19/02/2021).

Diskusi yang dimoderatori Hermien Y. Kleden ini berupayah menghadirkan  informasi Plasma Konvalesen yang  jelas, akurat,  bermanfaat  melalui narasumber Dr.  dr. Ni Ken Ritchie M. Biomed, Kepala  Unit  Donor  Darah  PMI Provinsi  DKI  Jakarta dan Prasetyo Nurhardjanto, Ketua Pelatihan  Relawan – Satgas Penanganan Covid-19 &  Pendonor  Plasma  Konvalesen serta seorang penyintas, Yohanes Edy Effendy yang mengalami kesembuhan lewat donor plasma convalesen.

Dr.  dr. Ni Ken Ritchie yang mengaku sejak Desember hingga Februari ini sudah lebih dari 2000 calon pendonor yang diproses mengambil plasmanya untuk jadi pendonor Plasma Konvalesen, dari segi keilmuannya menjelaskan Plasma Konvalesen artinya cairan darah dari pasien yang sudah sembuh dari seseorang yang pernah terinfeksi sesuatu, dalam hal ini Covid 19 yang dianggap memiliki antibody Covid 19.  Sementara pemberian plasma itu biasanya lebih dari satu kali, minimal dua kali, ada yang 4, 6 dan bisa 8 kali diberikan selama dia sakit.

Menurut peraih Doktor ilmu kedokteran Biomed di usia 35 tahun ini, sampai saat ini donor Plasma Konvalesen masih menimbulkan pro kontra maka perlu terus melakukan uji klinis. Dua Lembaga yang melakukan penelitian atau uji klinis yakni  Litbang Kes Kementerian Kesehatan dan Kemenristek, namun keduanya belum selesai karena dilakukan dalam jumlah zise yang cukup besar. Sampel yang diambil mulai dari Sabang hingga Merauke sehingga benar-benar merepresentatifkan Indonesia.

Di Indonesia, kata dr. Ni, karena belum ada obatnya maka berbagai terapi dicoba termasuk transfusi Plasma Konvalesen, walau sebagai terapi tambahan namun dinyatakan sangat aman dan terbukti menyembuhkan banyak pasien Covid 19.

Proses pengambilan plasmanya bisa secara manual dan konvensional lewat pengambilan seluruh darah lengkap kemudian dimasukan ke laboratorium untuk memisahkan plasma dan darah merah yang diisi pada kantong masing-masing. Plasma dibekukan dan dapat disimpan bisa sampai satu tahun.

Menurut dr. Ni, yang dibutuhkan hanya plasmanya saja, sedangkan dosis yang diperlukan oleh pasien Covid 19 itu 200 CC per satu kali transfusi, sedangkan dengan metode itu hasilnya berfariasi dan selalu tidak mencukupi karena antara 150 CC sampai 200CC. “Lebih sering di bawah 200 jadi masih kurang ya untuk dosisnya pasien”, tuturnya.

Untuk itu, lanjut Ketua Perhimpunan Transfusi Darah Indonesia Pusat ini, untuk pengambilan plasma pihaknya memilih dan merekomendasikan menggunakan mesin Apheresis yang mampu memisahkan cairan plasma yang langsung ditampung di kantong darah yang terpisah dengan darah merah sehingga sangat aman karena hanya cairan plasmanya yang diambil, sedangkan  darah merahnya dikembalikan kepada pendonor. Karenanya recoveri fisik pendonor begitu mudah dan cepat, cukup hanya dengan konsumsi air putih 2 gelas sebelum dan sesudahnya saja sudah dapat pulih kembali seperti semula. Pendonor pun bisa melakukan donor lagi setelah dua minggu. “Mungkin di luar negeri ada yang bilang satu minggu juga bisa, tetapi di Indonesia protapnya dua minggu”, terang dr. Ni Ken seraya menyatakan, “Aman sekali karena tidak ada efek samping, bahkan ada yang sampai ratusan kali seperti pa Pras sudah 200 kali, lebih malah, katagihan karena semakin bugar setelah melakukan donor.”

Lebih jauh Ketua Panitia Sains Transfusi di Program Magister Biomedik UI ini mengatakan, prosesnya memang lebih lama dari biasanya yaitu sekitar 30 sampai 60 menit tergantung kecepatan aliran darahnya dan berapa banyak volume plasma yang diambil. Volume plasma itu bisa diambil sebanding dengan berat badan si calon pendonornya. “Makin besar berat badannya, berarti volume darahnya makin banyak. Maka volume plasma yang kita ambil semakin banyak. Rata-rata kita ambil 450 mili, itu sudah bisa dua kantong plasma. Bisa untuk dua pasien atau satu pasien untuk dua kali transfusi”, tandas dr. Ni Ken.

Sedangkan persyaratan donor Plasma Konvalesen hampir sama dengan persyaratan donor darah pada umumnya, antara lain tidak mengidap penyakit yang penularannya lewat transfusi darah seperti Hepatitis B dan C, HIV dan Sifillis. Dan secara visual harus tampak putih jernih kekuningan, bukan putih susu atau merah. Namun untuk donor Plasma Konvalesen, pendonor harus benar-benar memiliki antibody yang cukup agar dapat melawan virus yang ada dalam tubuh pasien. Sesuai Surat Edaran Kementerian Kesehatan 1: 320.

Agar dapat memenuhi persyaratan kadar antibody 1:320, dr. Ni Ken mengatakan ada persyaratan gejala yang dialami oleh si calon donor Plasma Konvalesen karena kadar antibody itu tergantung jumlah dan jenis virus yang masuk, juga tergantung respon imun setiap orang. Sangat bervariasi berapa banyak antibody yang ada dalam tubuh seorang penyintas. “Maka kita mengeluarkan persyaratan bahwa seorang penyintas harus pernah positif, menunjukkan bahwa memang pernah terinveksi dan sudah sembuh dengan hasil Swab negative. Waktu sembuhnya minimal dua minggu dan maksimal 3 bulan dengan hasil swab negative. Suatu jumlah yang sangat bagus, karena biasanya setelah tiga bulan antibodynya akan menurun, kecuali orang itu terinfeksi lagi”, tuturnya.

Karena tergantung jumlah virusnya maka hanya penyintas yang mengalami gejala baru dapat diambil plasmanya karena memiliki kadar antibody yang cukup. Sementara penyintas yang sama sekali tidak mengalami gejala tidak memenuhi syarat untuk jadi pendonor Plasma Konvalesen. “Penyintas yang tidak mengalami gajala sedikitpun, demam ngga, hilang indra penciuman ngga, lemas ngga berarti memiliki petahanan tubuh yang sangat bagus lawan virus tersebut. Itu hanya cukup untuk dirinya sendiri dan tidak bisa memenuhi syarat yang kita cari untuk membantu pasien yang lain”, terang dr. Ni Ken.

Hingga saat ini, kata Ni Ken, PMI masih terus melakukan penelitian terkait dengan efektivitas donor plama tersebut. “Mudah-mudahan penelitian ini cepat selesai,” ujarnya seraya berharap penelitian uji klinis dapat diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama agar diketahui efektivitasnya.

Bagi dr. Ni Ken tantangan yang dihadapi adalah harus memenuhi jumlah sampel dengan criteria tertentu dan juga harus ada persetujuan dari keluarga pasien.  “Tantanganya yaitu memenuhi jumlah sampel dengan kriteria tertentu dan adanya persetujuan dari keluarga pasien. Kita berharap orang yang sudah sembuh dari Covid-19 bisa menjadi pendonor plama Konvalesen, sehingga makin banyak nyawa tertolong dan mereka bisa tampil From Survival to Savior,” tutupnya.

Sementara Ketua Pelatihan Relawan Satgas Penanganan Covid-19 dan Pendonor Plasma Konvalesen, Prasetyo Nurhardjanto berbicara tentang faktor yang mengurangi potensi berdonor plasma konvalesen. Faktor-faktor tersebut antara lain: Penyintas tanpa gejaja; Batasan usia; Memiliki komorbid (penyakit penyerta); Tidak memenuhi persyaratan minimal donor darah (Hb dan Tensi);
Dia juga menyatakan belum semua kota di Indonesia memiliki mesin Apheresis yang digunakan untuk pengambilan plasma konvalesen. Belum lagi wanita yang sudah pernah hamil dan plasmanya dalam keadaan keruh, sebagai dampak dari makanan yang dikonsumsi.
Pendaki gunung juga penyintas Covid-19 yang telah 5 kali menjadi pendonor Plasma Kovalesen itu, juga menepis sejumlah asumsi yang salah terkait donor Plasma Konvalesen. Misalnya donor plasma dapat mengurangi antibodi sehingga si pendonor akan mudah tertular Covid-19 lagi. Atau dapat tertular penyakit lain dan dapat mengurangi daya tahan tubuh.

Lebih jauh, Pras  yang telah menjadi pendonor 125 kali trombosit itu mengatakan dirinya merasa sangat bersyukur karena bisa melakukan donor plasma. Selain itu kerelaan untuk menjadi pendonor plasma ini pun dilakukan untuk mendukung penelitian  yang hingga saat ini belum menghasilkan suatu kesimpulan yang pasti, sekaligus memberikan harapan hidup bagi pasien Covid 19. Dan sebagai orang beriman dirinya merasa ada kepuasan tersendiri setelah mendonorkan darahnya demi keselamatan sesame yang lain.

“Di tengah berbagai kontroversi terkait donor plama konvalesen, dan isu jual beli plasma melalui modus-modus canggih, saya memilih untuk menjadi pendonor plasma konvalesen. Selain sebagai bentuk ucapan syukur saya karena sudah sembuh dari Covid-19, juga saya lakukan untuk mendukung penelitian terhadap plasma ini yang masih terus dilakukan. Hal lainnya yaitu untuk memberi harapan kepada pasien yang membutuhkan plama tersebut. Saya merasakan ada kepuasan batin tersendiri setelah mendonorkan darah itu, tentunya sebagai orang beriman”, paparnya.
Di akhir sharingnya Pras meminta kepada semua penyintas Covid-19 untuk dengan sukarela melakukan donor plasma. Walau tidak semua penyintas dapat melakukannya karena terganjal  persyaratan. Sebut saja di lapangan diketemukan banyak penyintas tidak mengantongi hasil PCR terakhir,juga  penyintas tidak dibekali tentang donor plasma saat dirawat di rumah sakit.

Selain itu pengurus ISKA ini pun mengajak para warga yang sehat untuk melakukan sesuatu demi mendukung kampanye Plasma Konvalesen tersebut dengan cara memberi informasi yang benar tentang Plasma Konvalesen.

Cara lain yang  juga bisa dilakukan adalah  menjadi penghubung antara pasien dan donatur. “Bagi mereka yang sehat bisa melakuka pendampingan hingga selesai terhadap pasien, mengkampanyekan donor plama dan menjadi agent of donor from survivor,” ujarnya.

Sementara Yohannes Deddy, penyintas yang sembuh oleh donor Plasma Konvalesen memberi kesaksian akan keselamatan nyawanya oleh Plasma Konvalesen. “Saya merasa bersyukur karena saya bisa sembuh dari Covid. Sehingga saya bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan bisa melayani Tuhan di ‘Ayo Sekolah’. Puji Tuhan juga Plasma Konvalesen itu sangat membantu menolong saya di saat saya tidak tahu lagi jika Saturasi saya saat itu makin menurun, dan tanpa bantuan plasma itu. Ternyata karena Plasma Konvalesen itu saya ada di sini dan juga sudah sehat.   Pesan saya semoga dengan kesaksian saya ini semakin banyak pendonor dapat membantu para penderita Covid 19 agar semakin banyak orang yang disembuhkan”, tutur Dedy dengan nada terharu sekaligus menyampaikan terimakasih secara khusus buat Pak Pras yang kebetulan menjadi penyumbang Plasma buat penyembuhan dirinya.

 

--- Bernard Baran

Komentar