Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

BOLA Polemik ETMC, PSN: Bukan Undur Diri, Kami Diarahkan ke Ruang Ganti 11 Aug 2017 16:35

Article image
Pemain PSN Ngada yang akan melakukan sepak pojok harus "minta izin" ke penonton yang berjubel hingga bibir lapangan. (Foto: Ist)
Perlu diluruskan bahwa PSN Ngada tidak mengundurkan diri, tapi diarahkan pihak keamanan masuk ke "locker room" karena situasi tidak kondusif.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Gelaran Liga III Eltari Memorial Cup (ETMC) 2017 telah usai. Namun catatan perbaikan terurai kian panjang oleh karena menyisakan ketidakpuasan, kegalauan, kecemasan, bahkan amarah dan dendam di kalangan pemain hingga suporter ETMC. Satu kasus yang paling menyita perhatian warga NTT saat ini adalah pecahnya kerusuhan di tengah laga final yang memaksa pertandingan antara tuan rumah Perse Ende dan PSN Ngada dihentikan.

Pertandingan pemungkas yang sangat dinantikan oleh jutaan mata pencinta sepakbola NTT itu tidak dimungkinkan untuk dilanjutkan oleh karena para suporter kedua tim menyerbu masuk lapangan. Ada yang ingin menyelamatkan diri, sementara yang lainnya berniat menyerang pihak lawan.

Pelatih PSN Ngada Kletus M Gabhe mengungkapkan, para pemainnya sempat dikejar suporter Perse Ende dengan menenteng potongan kayu dan balok. Sementara sebelumnya, pemain PSN Ngada pun dilempari botol air mineral saat laga berjalan, hingga mendapat hujan batu saat kisruh terjadi. Tak pelak hingga seremoni penutupan ETMC, segalanya tidak terkoordinasi dengan baik.

Kepada IndonesiaSatu.co, Kletus pun meluruskan beberapa hal seputar kejadian yang diklaimnya dipaksakan sebagai dasar pengambilan keputusan Perangkat Pertandingan ETMC dan Asprov NTT. Menurut panitia dalam hal ini Perangkat Pertandingan (PP), tim PSN dinilai meninggalkan lapangan pertandingan sebelum laga usai, sehingga dengan dalih peraturan FIFA, PSN Ngada dinyatakan Walk Out (WO) karena dianggap tidak ingin melanjutkan pertandingan.

Padahal kondisi sebenarnya, terang Kletus, PSN Ngada tidak pernah menyatakan mengundurkan diri dan tidak ingin melanjutkan sisa pertandingan. Keberadaan PSN Ngada di locker room (ruang ganti) justru atas arahan pihak keamanan, guna menghindari amukan suporter lawan yang sudah menguasai lapangan.

"Perlu diluruskan bahwa PSN Ngada tidak mengundurkan diri, tapi diarahkan pihak keamanan masuk ke locker room karena situasi tidak kondusif. Namun pada selanjutnya PP menilai PSN tidak bersedia melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah WO. Padahal tidak ada itu prosedur yang dilakukan PP seperti info mereka di sejumlah media massa," jelas Kletus yang dihubungi IndonesiaSatu.co dari Jakarta, Jumat (11/8/2017).

Prosedur oleh PP yang dimaksud Kletus adalah bahwa PP mengklaim telah membujuk PSN Ngada untuk bersedia melanjutkan pertandingan, padahal hal itu sejatinya tidak dilakukan sama sekali.

"Di locker room kami malah didatangi Wakil Bupati Ende. Lha, dalam kapasitas sebagai apa beliau datang jika terkait peraturan pertandingan? Dan Pak Wabup pun hanya sekadar menyampaikan simpati terkait kejadian yang menimpa tim PSN Ngada. Jadi bukan perangkat pertandingan (PP) yang mendatangi kami," tegas Kletus.

Sesuai regulasi, jelas Kletua, PP harus memutuskan pertandingan tersebut pantas dimulai, ditunda atau dihentikan terkait Pasal Keamanan dan Kenyamanan dalam Regulasi Liga 3 2017, bukan menanyakan ke pihak keamanan apalagi tim yang bertanding.

PP Lakukan Pembiaran

Terkait kericuhan yang memaksa pertandingan dihentikan, Kletus menilai ada kesan "pembiaran" terutama kepada penonton yang masuk stadion melebihi kapasitas. Pasca renovasi, stadion Marilonga diklaim menampung hingga 8 ribu penonton. Pada kenyataannya, laga final ETMC 2017 "dikepung" penonton yang diperkirakan mencapai 25 ribu orang, hingga menyesaki bibir lapangan.

"Akhirnya penonton yang bebas masuk membawa botol air mineral ke dalam lapangan sebenarnya menunjukkan lemahnya Panpel mengantisipasi. Apalagi ada kayu dan balok. Ini sudah melampaui batas kewajaran," tandas Kletus.

Pembiaran lainnya oleh PP, lanjut Kletus, ketika jadwal final molor hingga 1 jam dari waktu seharusnya yakni pukul 19.00 WIT, tanpa ada pemberitahian kepada tim PSN Ngada. "Kami dibiarkan di dalam locker room tanpa informasi yang pasti," keluh Kletus.

Selain itu, Kletus juga menyoroti papan skor dan timer yang "terkesan" dibiarkan mati dan suporter PSN yang "sengaja" ditahan di luar pintu stadion selama tiga jam.

"Ini sebagai bentuk kesengajaan untuk memberi kesempatan bagi Persemania memenuhi seluruh stadion, karena blok tribun hanya akal-akalan saja. Nyatanya tidak ada pembatas antara blok A, B, C dan D, sehingga potensi bercampurnya suporter kedua tim sangat mungkin terjadi dan memperbesar gesekan dan benturan yang terjadi di partai final kemarin," papar Kletus.

Kletus menambahkan, banyak kejanggalan juga terkait jadwal pertandingan, yakni ketika antar partai semifinal dan final tanpa interval bagi salah satu tim. Alasan PP, jadwal tersebut telah dibuat jauh-jauh hari, dan tidak ada komplain dari peserta sehingga dianggap sah. "Padahal tanpa menunggu komplain sekalipun jadwal ini harus direvisi karena patut diduga menguntungkan salah satu tim," jelas Kletus.

Dengan sejumlah kejanggalan dan potensi konspirasi antara PP dan Asprov NTT, Kletus menegaskan bahwa PSN Ngada akan membawa masalah ini ke Komdis PSSI di Jakarta.

"Sedang kami rampungkan surat pengaduan dan kumpulkan bukti-bukti terkait untuk dikirimkan ke PSSI di Jakarta. Supaya persoalan ini segera diinvestigasi dan diselesaikan karena tidak sehat bagi iklim sepak bola di NTT," tutup Kletus.

--- Sandy Romualdus

Komentar