Breaking News

KOLOM Politik di Indonesia: Tuhan pun Dibuat Tidak Berdaya? 02 Mar 2019 18:00

Article image
Politik membuat manusia sebagai pusat, menyingkirkan Tuhan dari agama. (Foto: Ist)
“Tuhan” dalam politik sebagaimana ditunjukkan Neno adalah “Tuhannya para politisi”, dan bukan “Tuhan bagi kemanusiaan.”

Oleh Redem Kono

 

SATU hal yang mencitrakan politik Indonesia saat ini adalah realitas politik kita telah mengakibatkan “pembelahan religius” yang tajam dalam masyarakat: politisi religius vs irreligius, partai agama vs partai nasionalis, politisi dari agama mayoritas vs politisi dari agama minoritas dan lain-lain. Bukan rahasia bahwa branding cita rasa religius dapat mengonstruksi citra seorang politisi sebagai sosok yang bersih, jujur, dan penuh pelayanan. Indikatornya adalah seorang politisi harus dekat dengan pemuka agama, hadir dalam kegiatan-kegiatan agama, rajin mengunjungi tempat-tempat keagamaan ataupun memberikan sumbangan finansial untuk kegiatan (pelayanan) keagamaan. Kini, debat program berubah menjadi debat keagamaan.

Agama menjadi “jualan yang cantik” dalam politik. Terbaru adalah barisan kalimat yang disampaikan Neno Warisman dalam orasinya di Monas. Kutipan paragraf lengkapnya sebagai berikut:"Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami, dan menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu. ” Kalimat dibuat dalam konteks “konsolidasi politik” pertarungan Pilpres 2019.

Tentu beragam tafsiran telah dibuat atas kalimat itu. Saya pun memiliki tafsirannya. Kalimat ini menjadi (salah) satu pertanda: politik (keagamaan) telah memasuki babak baru. Tidak hanya menggunakan “Tuhan” sebagai komoditas, tetapi politik memasuki zaman baru: Tuhan pun dibuat tidak berdaya, diarahkan untuk berpolitik praktis! Untuk mencapai kekuasaan politis, Tuhan seperti dipaksa (diancam) untuk menyetujui preferensi atau pilihan politik tertentu.

Kalimat di atas mengingatkan saya pada argumentasi sosiolog Max Weber dalam bukunya Economy and Society (1978). Weber mengartikan kekuasaan sebagai kesanggupan untuk mengeliminasi perlawanan kekuasaan yang lain, supaya memaksakan apa yang diinginkan agar disetujui (dilaksanakan) orang lain (bdk. hlm. 53). Kekuasaan adalah momen mengeliminasi kekuasaan-kekuasaan yang lain, agar agenda yang diinginkan dapat tercapai.

Dari argumentasi Weber izinkan saya memulai. Bagi saya kalimat yang diucapkan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu tidak hanya dibaca secara politis, tetapi juga teologis. Kalimat ini menunjukkan preferensi politik kekuasaan yang ingin menghentikan preferensi politik kekuasaan yang lain. Tidak berhenti sampai itu, upaya mencapai kekuasaan dilanjutkan dengan memberikan pembelaan teologi politik. Neno mendekati Tuhan dari sisi preferensi politik pribadi dan kelompok, yakni Tuhan bisa diajak (bahkan diancam) untuk mendukung pilihan politik seseorang atau kelompok.

Bagi saya, pengandaian bahwa Tuhan bisa diajak, diancam, atau dipaksa untuk kepentingan manusia memberikan satu konsekuensi teologis yang serius: pertanyaan tentang Kemahakuasaan Tuhan. Kita tahu bahwa teologi agama-agama hampir seluruhnya menekankan aspek imanensi dan transendensi Tuhan. Tuhan Maha Kuasa, yang transenden, salah satunya memiliki karakter misteri dan adikodrati, bahwa segala kehendak dan langkah-Nya tidak terselami, tidak diprediksi, tidak dapat dikuasai, tidak dapat diarahkan.

Jelas: mengarahkan Tuhan untuk mendukung pilihan politik adalah sebentuk gugatan terhadap Kemahakuasaan Tuhan.

Dalam teologi, gugatan terhadap Kemahakuasaan Tuhan bukan diskursus baru. Salah satunya, pemikir Hans Jonas. Dalam buku The Imperative of Responsibility (1984), teolog berkebangsaan Yahudi itu mempertanyakan Kemahakuasaan Tuhan, misalnya, dalam pengalaman penderitaan ataupun kejahatan. Mengapa Tuhan tidak hadir dalam penderitaan manusia (misalnya bencana Tsunami yang merampas hak hidup bayi tak berdaya), ataupun kejahatan politik (yang menyengsarakan rakyat miskin).

Di mana tanggung jawab Tuhan terhadap Kemahakuasaan-Nya? Jika Maha Kuasa, mengapa Tuhan membiarkan penderitaan dan kejahatan itu terjadi? Namun yang kasat mata adalah kejahatan dan penderitaan terus terjadi. Bagi Jonas, diamnya Tuhan bukan karena hilangnya “Tuhan yang Maha Kasih”, tetapi tidak berdayanya “Tuhan yang Maha Kuasa.” Kata Jonas: “Kini Tuhan hanya bereaksi dengan bujukan yang mendesak namun sekaligus tanpa daya, yang lahir dari tujuannya yang tidak tercapai.” (Jonas dalam Kleden: 2006, 242). 

Bagi Jonas: Tuhan tidak berdaya, karena ketika menciptakan dunia dan segala isinya, Tuhan mengerahkan segala kemampuannya. Tuhan memberikan seluruh diri, kekuatan, kehendak-Nya, sehingga ketika dunia telah dijadikan, apapun yang dimilikinya telah tiada. Karena Tuhan telah mengorbankan dirinya, maka saatnya manusia harus berbalik membalas kebaikan Tuhan, dengan apapun yang dimiliki manusia. Manusia yang bebas dan berkehendak wajib berkorban bagi Tuhan yang kini tidak berdaya!

Namun, kalimat Neno Warisman dan Hans Jonas beranjak dari latar belakang berbeda. Gugatan Hans Jonas dimulai dari pengalaman pahitnya sebagai warga Yahudi, yang menyaksikan kekejaman Nazi. Jonas menyaksikan jutaan saudaranya dilenyapkan Adolf Hitler. Pertanyaan tentang Kemahakuasaan Tuhan dimunculkan dari pengalamannya sebagai “korban”, penderitaan sebagai manusia. Sedangkan Neno Warisman dimulai dari pengalamannya sebagai sosok oposisi dari kekuasaan (petahana). Ia menggugat kemakuasaan Tuhan dalam pembacaannya sebagai “korban” dari kekuasaan politis.

Izinkan saya membahas kalimat Neno. Bagi saya, pernyataan Neno lebih sebagai keangkuhan antroposentrik: manusia berusaha mempertanyakan Tuhan dari pengalaman subyektifnya, dan berusaha mengarahkan Tuhan demi kepentingan manusiawinya. Saya cenderung yakin, bahwa Neno sengaja menempatkan kalimat di atas demi maksud tersebut. Kalimat itu dibacakannya secara sadar.

Gugatan terhadap Tuhan adalah bentuk penyingkiran Neno terhadap Kemahakuasaan Tuhan. Mengapa dilakukan? Saya berpendapat bahwa untuk mencapai kekuasaan manusia dengan segala kepentingannya, atau supaya kekuasaan menjadi absolut, manusia menghancurkan sosok Tuhan yang Maha Kuasa, sehingga pembatasan kekuasaan manusia tidak terjadi lagi. Tuhan yang Maha Kuasa perlu ditiadakan supaya manusia bisa berkuasa. Inilah bentuk konkret dari “kehendak berkuasa manusia” (will to power).

Neno sengaja menyelipkan kalimat ini, untuk menegaskan keinginannya akan adanya kekuasaan absolut, yang bahkan tidak dapat dihentikan oleh Tuhan! Tuhan dibuat secara sengaja untuk tidak berdaya, karena hambatan berkuasa sebenarnya bukan oleh lawan politik. Namun Tuhan yang Maha Kuasa adalah hambatan terbesar untuk memegang tampuk kekuasaan absolut. Argumentasi Weber tentang wajah kekuasaan yang mengeliminasi kekuasaan lain relevan di sini.  

Bagi saya, tafsiran teologis tentang Tuhan wajar dalam teologi (ilmu pengetahuan), tetapi berbahaya ketika dikemudikan oleh wacana politik. Sejarah dunia membuktikan bahwa tafsiran teologi politik yang keliru akan membawa ongkos yang mahal dan berbahaya bagi peradaban. Contohnya, identifikasi pemimpin atau kaisar sebagai “wakil Tuhan” atau “manifestasi Tuhan”, bahkan “Tuhan” mendatangkan sosok pemimpin kuat, tetapi otoriter.

Pemimpin sebagai “Wakil Tuhan” atau “Tuhan” melekatkan sosok pemimpin teokratis-otoriter: pemimpin adalah sosok yang sempurna, tidak diganggu gugat, sumber satu-satunya aturan hukum, dan keputusannya tidak dibantah. Potensi kepemimpinan otoriter -dalam sejarah mendatangkan penderitaan dan kejahatan besar di dunia- lahir dari legitimasi teologis semacam ini.

Persoalannya: tafsiran tentang Tuhan cenderung dimunculkan untuk melegitimasi politik kekuasaan, daripada upaya memaknai hubungan personal yang mesra dengan Tuhan. Ataupun tafsiran tentang Tuhan secara ilmiah sebagai pergumulan eksistensial adalah langkah alternatif mendekati Tuhan Yang Maha Kuasa dari berbagai sisi. Akibatnya, “Tuhan” dalam politik sebagaimana ditunjukkan Neno adalah “Tuhannya para politisi”, dan bukan “Tuhan bagi kemanusiaan.”

Tafsiran (teologi) politis tentang Tuhan, jika tidak dikendalikan diskursus rasional, berbahaya bagi Indonesia, berbahaya bagi peradaban dunia.

*Redem Kono adalah Redaktur Pelaksana IndonesiaSatu.co, alumnus Pascasarjana STF Driyarkara

Komentar