Breaking News

REFLEKSI Politisi (Bahkan Siapapun) Perlu Belajar "Bertapa" 15 Mar 2021 10:25

Article image
Ilustrasi meditasi. (Foto: NPR)
Meditasi adalah proses pengetahuan-diri yang kuat yang menyebabkan peningkatan luhur, tetapi itu juga dapat membawa kita jauh ke dalam jurang alam bawah sadar.

Oleh Valens Daki-Soo

 

Beberapa hari lalu saya ditelepon abang yang baik, Dr. Andreas Hugo Pareira (Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan). Beliau bertanya tentang keadaan dan posisi saya, karena seperti hilang dari "dunia nyata". Dengan gaya bercandanya yang khas, Bang Andre berujar, "Ari (adik), jangan-jangan Ari sedang bertapa di Gunung Ebulobo (gunung berapi di Nagekeo, Flores)." Setelah itu kami bincang-bincang hal yang lebih serius, termasuk tentang proyeksi politik ke depan.

Namun, ini poin yang lebih penting: para politisi bahkan siapa saja yang ingin hidupnya "seimbang dan terkendali" seyogianya memang perlu belajar untuk "bertapa". Maksudnya, belajar hening dalam kebisingan hidup ini. Para raja dan pangeran pada zaman dulu suka bertapa di hutan, gua atau gunung. Dengan itu mereka menemukan keseimbangan lahir-batin, ketenangan dan kedamaian. Dengan bertapa mereka bahkan menjadi lebih tangguh dan sakti, menjadi jago perang ataupun figur yang lebih bijak bestari.

Melakukan khalwat atau retret rohani (dari kata "retreat" yang berarti mengundurkan diri, mengambil jarak secara fisik maupun spiritual) adalah kebiasaan yang sering dilakukan para biarawan/wati atau rohaniwan/wati dari berbagai agama. Bhiksu/bhiksuni Buddha bahkan nyaris sepanjang waktu belajar hidup dalam keheningan. Begitu juga biara-biara tertentu dalam tradisi Katolik.

Fabrice Devanne dalam artikelnya berjudul  “Bring out a new reality through meditation” (Logon.media, 23/2/2018) menulis, mengatakan bahwa meditasi sedang populer saat ini adalah semacam eufemisme. Di Barat, meditasi pertama kali diadopsi oleh orang-orang yang mencari spiritualitas, misalnya melalui Buddhisme Zen, dan kemudian dipopulerkan dalam berbagai bentuk.

Keberhasilan praktik ini tidak dapat disangkal terkait dengan manfaat nyata yang dibawanya bagi mereka yang bermeditasi. Misalnya, yayasan sutradara Amerika terkenal David Lynch telah mengembangkan manfaat Trancedental Meditation (Meditasi Transendental) di seluruh dunia selama beberapa dekade bagi mereka yang mengalami stres berat.

TM ini, yang diperkenalkan ke dunia oleh guru spiritual India Maharishi Mahesh Yogi, telah diajarkan kepada veteran perang, orang yang dipenjara, wanita yang menderita kekerasan dalam rumah tangga, dan tunawisma. Metode ini juga memungkinkan siswa untuk mengatasi stres ujian, dan membantu menenangkan gangguan attention deficit dan hyperactivity di kalangan anak-anak dan remaja.

Di Prancis, bukan seorang guru oriental tetapi psikiater ramah media Christophe André yang termasuk di antara buku terlaris dalam meditasi. Dia memfasilitasi kelompok meditasi kesadaran penuh di rumah sakit Sainte-Anne di Paris untuk membantu pasiennya melewati rasa sakit dan mendapatkan kembali nafsu makan untuk hidup.

Namun kebajikan meditasi melampaui bidang pribadi dan profesional - mereka sekarang bahkan menarik perhatian dunia politik. Desember lalu, Gubernur Negara Bagian Guerrero, Meksiko, wilayah yang dilanda kekerasan perdagangan narkotika berdarah, telah memanggil guru India Sri Sri Ravi Shankar untuk menyiarkan metode pernapasan dan meditasinya yang memungkinkan tubuh mengeluarkan lebih banyak serotonin, hormon kesejahteraan (350 juta orang telah mengikuti programnya di seluruh dunia).

Sebulan sebelumnya, pemimpin spiritual yang sama berhasil meyakinkan negosiator dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia, yang terlibat dalam proses perdamaian dengan pemerintah, untuk belajar bagaimana bermeditasi (lihat Le Monde, dalam artikel yang diterbitkan pada 8 Desember 2016).

Meditasi adalah pekerjaan alkimia mendalam yang terjadi di seluruh makhluk. Meditasi adalah proses pengetahuan-diri yang kuat yang menyebabkan peningkatan luhur, tetapi itu juga dapat membawa kita jauh ke dalam jurang alam bawah sadar, karena Cahaya Jiwa-Jiwa membuka kedok bayangan kita.

Meditasi kita menghasilkan banyak buah: iluminasi batin datang, bersama dengan transformasi fisiologis sejati yang dihasilkan oleh interaksi antara tiga kondisi kesadaran. Setelah beberapa waktu, hubungan antara tiga dimensi makhluk itu diperkuat. Ketika seorang pria atau seorang wanita melakukan pekerjaan pemulihan entitas surgawi "Jiwa, Jiwa dan Tubuh" ini, manfaat dari meditasi spiritual jauh melampaui lingkup pribadi mereka, karena tiga Manusia Asal, Manusia Mikrokosmik, terhubung ke Alam Semesta Agung, Makrokosmos.

Ini seperti memanen salju abadi yang paling murni dari puncak untuk dibawa kepada umat manusia di kaki gunung. Ketika Makhluk Surya mendapatkan kembali tempatnya dalam rencana ilahi, seluruh alam yang hidup - mineral, tumbuhan, hewan, dan kerajaan manusia - mendapat manfaat dari persembahan eter Cahaya ini.

Para politisi perlu belajar melakukan hal yang sama. Tidak perlu terlalu sering tetapi sesekali perlu ambil waktu untuk bermeditasi, agar lebih mampu mengontrol diri, menguasai segala kecenderungan, terutama tendensi untuk korupsi dan segala jenis "abuse of power" (penyalahgunaan kekuasaan).

Dari pengamatan saya selama ini, terkait dengan pekerjaan saya yang sejak awal bekerja di Jakarta banyak kali mengasistensi atau kerja bersama beberapa jenderal dan duta besar RI, terakhir menjadi tenaga ahli di kantor Staf Khusus Presiden, tampaknya banyak pejabat terutama politisi yang lebih cenderung riuh berkata-kata. Entahlah, mungkin saja mereka diam-diam "mengambil jarak" dalam keheningan. Namun, itu akan tercermin pada ucapan yang bernas-berisi, pada tindakan yang lebih mengutamakan kepentingan bangsa daripada diri/kelompok/partai sendiri.

Dari perspektif psikologis, meditasi dapat membantu terciptanya keseimbangan dan keselarasan dalam diri. Dari tilikan medis, meditasi mampu meredakan rasa sakit dan menolong proses pemulihan dari penyakit. Saya mengalami sendiri betapa meditasi membantu saya pulih dari trauma psikologis akibat pengalaman buruk masa lampau. Salah seorang guru meditasi saya adalah Pak Sonny Sumarsono Wuryadi yang ada juga di FB ini. Terima kasih, Pak Sonny.

Sekali lagi, para politisi perlu belajar bermeditasi agar tetap teguh memegang idealisme "berjuang demi rakyat" sehingga tidak mudah tergelincir dalam kasus nista seperti korupsi yang merugikan banyak orang dan mempermalukan bahkan menghina diri sendiri.

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar