Breaking News

HUKUM Polres Ende Diminta Proaktif dan Profesional Ungkap Kasus Kematian Misterius Ansel Wora 14 Nov 2019 14:31

Article image
Korban Anselmus Wora saat disemayankan di ruang jenazah RSUD Ende disaksikan anggota keluarga. (Foto: Ist/KabarRakyat.ID)
"Polisi harus memastikan status hukum terhadap kasus ini agar tidak menimbulkan interpretasi yang membias dari publik," tandas Petrus.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Pihak penyidik Kepolisian Resor (Polres) Ende, diminta proaktif dan bertindak profesional dalam menindaklanjuti dan mengungkap peristiwa kematian misterius Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Ende, Anselmus Wora yang ditemukan tewas mengenaskan di Kampung Ekoreko, Desa Rorurangga, Kecamatan Pulau Ende, Kamis (1/11/19) lalu.

Hingga dua Minggu sejak kejadian, Penyidik Polres Ende yang menangani kasus tersebut belum menunjukkan tanda-tanda penanganan serius termasuk penetapan status hukum terhadap kasus yang diduga ada motif pembunuhan berencana ini.

"Kami mendukung sepenuhnya kinerja Penyidik Polres Ende. Namun, setelah dua Minggu belum ada penanganan lanjutan bahkan keterangan dari para saksi, kami kembali mendesak agar pihak Polres Ende bertindak proaktif dan profesional terhadap kasus ini. Kami mengharapkan keadilan dan kejelasan status hukum terhadap kasus kematian yang kami nilai tidak wajar ini," ungkap salah seorang anggota keluarga korban, MM saat dikonfirmasi media ini, Selasa (12/11/19) usai menggelar ritual adat 'tola bala' bersama keluarga korban.

MM menerangkan, jika mencermati kronologi kejadian juga keterangan para saksi dan barang bukti yang telah dikantongi oleh Penyidik Polres Ende, maka semestinya pihak penyidik Polres Ende sudah menunjukkan titik terang bahkan status hukum terhadap kasus ini.

"Jika sudah dua Minggu belum ada titik terang, keluarga menduga jangan sampai ada muatan lain di balik pengungkapan kasus ini. Kita meminta agar para penegak Hukum bekerja sesuai koridor hukum dan jangan sampai 'masuk angin' apabila kasus ini terus diendapkan. Keadilan dan martabat hukum harus dijunjung dan ditegakkan," tegas MM.

Fokus Pada Kedua Rekan Korban

Sebelumnya, tanggapan senada disuarakan oleh Sekretaris Pusat Kajian dan Advoksi Masyarakat (PUSAM) Indonesia, Oskar Vigator.

Dilansir suaranusabunga.com, Oskar menilai Penyidik Kepolisian tentu memahami bagaimana perasaan isteri, anak-anak dan keluarga korban saat pertama kali melihat kondisi jenasah dengan bekas luka dan gumpalan darah beku di bagian ubun-ubun serta lembek di bagian kepala sehingga kematian Ansel dianggap tidak wajar dan diduga dibunuh.

Menurutnya, Penyidik tentu memiliki keahlian yang sangat luar biasa untuk mengungkap Misteri kematian ini karena Menurut kepergian Ansel Wora ke Pulau Ende tidak sendiri tetapi bersama rekannya yang mengajak korban.

"Oleh karena itu, kedua rekan korban tersebut harus bertanggung jawab. Penyidik sebaiknya fokus pada kedua rekan Almarhum dalam melakukan Penyelidikan sehingga bisa mengetahui rekam jejak keberadaan Almarhum di Pulau Ende sampai ditemukan meninggal," desak Oskar.

Ia berkeyakinan, saat ini publik dan khususnya masyarakat Kabupaten Ende sedang cemas dan gelisah menanti hasil Penyelidikan yang sudah dilakukan oleh Penyidik Polres Ende karena terkesan terlalu lama.

"Kalau tidak mampu mengungkap motif dan aktor sehingga berani menghilangkan nyawa orang, sebaiknya Penyidik Polres Ende segera meminta dukungan dari Polda NTT bahkan Bareskrim Mabes Polri agar kasus kematian Ansel Wora tidak menjadi teka-teki tanpa kepastian hukum,“ timpal Oskar.

Ketika disinggung berkaitan dengan dugaan adanya pihak- pihak yang sengaja menghambat Penyidik dalam mengungkap kasus tersebut dengan cara menghilangkan Barang Bukti di Tempat kejadian Perkara (TKP) dan atau memindahkan TKP, Oskar tetap berkeyakinan hal itu akan terungkap.

"Yang namanya darah dan nyawa, kapan pun pasti akan terungkap dan Polisi tentu punya strategi dan kemampuan lebih karena mereka dididik secara khusus soal Pengungkapan kasus. Kita percaya bahwa Polisi tidak sedang memperlambat dan bermain-main dalam mengungkap tabir misteri di balik kasus tragis ini," yakinnya.

Stigma Tajam-Tumpul Hukum

Sementara Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) menyoroti lambatnya penanganan dan pengungkapan terhadap kasus ini menjadi tolok ukur terhadap citra dan wibawa hukum di lingkup Polres Ende bahkan Polda NTT.

"Jangan lagi ada stigma terkait penegakan hukum yang identik dengan istilah tajam ke bawah, tumpul ke atas. Hukum tak boleh kompromi dan pandang buluh. Semua harus diperlakukan sama di mata hukum. Semua mata publik kini fokus melihat kinerja Polres Ende. Jika tidak mampu, Polda NTT dan Bareskrim Mabes Polri diminta untuk intervensi demi rasa keadilan publik dan para pencari keadilan," ungkap Koordinator TPDI, Petrus Selestinus.

Advokat Peradi ini juga menyayangkan kinerja Penyidik Polres Ende yang lambat dan terkesan mengulur-ulur dalam mengungkap fakta sesungguhnya di balik kasus ini.

"Heran dan aneh jika hingga kini Penyidik Polres Ende belum mampu mengantongi dua alat bukti sebagai dasar untuk menetapkan status hukum kasus ini," sentilnya.

Sementara, kata Petrus, ada keterangan dari para saksi termasuk kedua rekan yang bersama-sama dengan korban menuju Pulau Ende hingga menemukan korban dan menghantar jenazah korban ke RSUD Ende, juga alat bukti HP milik korban yang sempat berkomunikasi dengan sesorang via telepon sebelum ditemukan tidak bernyawa.

"Polisi harus memastikan status hukum terhadap kasus ini agar tidak menimbulkan interpretasi yang membias dari publik," tandas Petrus.

--- Guche Montero

Komentar