Breaking News

HANKAM Polri Konfirmasi Keterlibatan Kopassus dalam Penangkapan Terduga Teroris 17 May 2018 07:37

Article image
Pasukan elit Indonesia, Kopassus. (Foto: Ist)
Perihal alasan keikutsertaan Kopassus tersebut adalah membantu kepolisian saat melakukan penggerebekan. Termasuk juga menjaga tempat-tempat objek vital.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Polri telah bekerja sama dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD dalam menangkap para terduga teroris.  

Demikian informasi Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (16/5/2018).

"Kami sudah berkerja sama dengan Kopassus. Kemarin Kapolri sudah menyampaikan Kopassus masuk," ujar Setyo.

Perihal alasan keikutsertaan Kopassus tersebut adalah membantu kepolisian saat melakukan penggerebekan. Termasuk juga menjaga tempat-tempat objek vital.

Kerja sama ini, kata Setyo, sudah dilakukan sejak penggerebekan terduga teroris di sejumlah tempat, seperti di Sumatera Utara dan Jawa Timur.

"Ya kerja sama ini sejak ada penggerebekan-penggerebekan," ujarnya.

Diketahui dalam tiga hari paska Bom Surabaya, Densus 88 terus memburu anggota terduga teroris, seperti di Jawa Timur dan Malang. Pengejaran juga dilakukan di Tanjung Balai, Sumatera Utara; dan Palembang, Sumatera Selatan, Tangerang, Probolinggo, dan Sidoarjo.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian telah meminta bantuan dari TNI untuk melakukan operasi bersama penangkapan teroris setelah terjadi tiga ledakan bom di Surabaya.

"Saya sudah minta bapak Panglima TNI, beliau kirimkan kekuatan untuk lakukan operasi bersama melakukan penangkan sel-sel JAD dan JAT yg diduga akan melakukan aksi," kata Tito di Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Jaringan Jemaah Ansarut Daulah (JAD) dan Jemaat Ansarut Tauhid (JAT) diduga sebagai jaringan yang terlibat dalam pengeboman di Surabaya. Tito mengatakan pelaku bom Surabaya, yaitu Dita Upriyanto adalah pimpinan JAD Surabaya.

 Dita melakukan aksi bom bunuh diri beserta lima anggota keluarganya yang terdiri dari istri dan empat anaknya. Satu keluarga ini melakukan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, yaitu Gereja Pantekosta, GKI Diponegoro dan Gereja Santa Maria Tak Bercela.

Menurut Tito, operasi bersama TNI-Polri dibutuhkan karena para anggota teroris adalah orang yang terlatih.

 "Mereka mengerti cara hindari deteksi intelijen, mereka paham," paparnya. 

--- Redem Kono

Komentar