Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

OPINI Potret dan Suara Miris Kartini Kendeng 24 Mar 2017 16:09

Article image
Aksi semen kaki yang dilakukan “Sembilan Kartini” di depan Istana Negara. (Foto: bhinnekanusantara.org)
Salah satu prinsip yang dipegang teguh masyarakat ini adalah pelestarian lingkungan dan bagaimana mereka anti eksploitasi alam secara berlebihan.

Oleh Santi Sima Gama

MENYIMAK dan merasakan peristiwa duka yang dialami seorang Ibu dari Kendeng, Pejuang HAM dan Lingkungan Hidup adalah bentuk empati kita sesama kaum hawa. Kilas balik tentang sembilan perempuan yang kini lebih dikenal sebagai “Kartini Kendeng” pada 12 April 2016 lalu melakukan aksi demo di depan Istana Negara. Para Kartini ini terdiri dari para petani di sepanjang pegunungan Kendeng yaitu Rembang, Pati, dan Grobogan, Jawa Tengah.

Penolakan berangkat dari pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Indonesia pada Juni 2014 silam. Dikeluhkan bahwa aktifitas pabrik semen telah menimbulkan pencemaran di kawasan pegunungan karst Kendeng. Sejak saat itu pula, masyarakat sekitar sudah mendirikan tenda di pintu masuk pabrik sebagai bentuk protes menolak.

Mereka menyadari bahwa jenis aksi protes yang mereka lakukan kali ini tergolong berbahaya. Namun berhubung suara mereka melalui rangkaian aksi protes sebelumnya tidak mendapat respon yang mereka harapkan, mereka nekat melakukan hal ini salah satunya dengan harapan Presiden Joko Widodo dapat bertemu langsung dengan mereka dan membahas tuntas perkara yang mengancam keberlangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka nantinya.

Dari peristiwa ini kita melihat secara kasat mata bahwa suara-suara para ibu telah berjuang membuktikan bahwa mereka adalah para pemikir yang dekat dan bersahabat dengan alam sehingga bisa melihat resiko akan nasib keberlangsungan hidup generasi berikutnya.

Dalam menyikapi kasus ini, tentu kita harus memiliki persepsi. Ada tiga sudut pandang yang perlu kita ketahui bersama antara lain dari Pakar lingkungan
seperti yang dikutip dari Tempo, Mantan Kepala Badan Geologi Surono mengatakan kawasan yang bakal menjadi lokasi penambangan merupakan Cekungan Air Tanah (CAT) merupakan daerah resapan, aliran, dan pelepasan air tanah. Kawasan tersebut merupakan penyimpan air tanah yang ikut menyuplai kebutuhan air di Pegunungan Kendeng Utara dan sekitarnya.
Pihak pabrik semen mengatakan bahwa sudah dilakukan studi kelayakan yang menunjukkan bahwa karst yang terkandung di lokasi tambang berjenis karst biasa dan tidak ada penanda bahwa kawasan karst tersebut terlindungi. Melalui Tempo, pihak PT Semen Indonesia mengatakan bahwa justru kawasan tambang tersebut adalah kawasan kurang subur dan nantinya akan membantu aktivitas pertanian warga dengan penyediaan saluran irigasi dan perluasan kawasan mata air. Sedangkan dari Petani sendiri mereka sudah merasa cukup dengan keadaan yang ada sebelumnya. Seperti disebutkan sebelumnya, ajaran Samin memiliki cukup banyak pengaruh terhadap cara berpikir masyarakat setempat yang mayoritas petani.

Salah satu prinsip yang dipegang teguh masyarakat ini adalah pelestarian lingkungan dan bagaimana mereka anti eksploitasi alam secara berlebihan. Dari tiga sudut pandang ini jelas ada pro dan kontra yang tidak menghasilkan kata mufakat hingga puncaknya berujung aksi demo di depan Istana Negara. Dan lebih miris lagi dengan peristiwa kematian seorang Kartini Kendeng bernama Patmi.

Seberapa seriuskah permasalahan ini? Masyarakat tersebut sudah berpuluh-puluh tahun memanfaatkan alam seperlunya untuk memenuhi kebutuhan pribadi termasuk bertani. Kelestarian alam yang utuh sudah menjadi bagian hidup mereka. Pemikiran 'sebuah perubahan besar akan terjadi' pun tidak dapat dihindari untuk terlintas di benak mereka yang kemudian beralih menjadi sebuah 'keresahan'. Sejauh ini keresahan mulai terjawab dengan beberapa ketidaknyamanan seperti sulitnya akses air bersih terutama pada musim kemarau. Dalam referensi yang sama yakni film dokumenter karya Watchdoc, seorang Ibu mengungkap expense yang harus dikeluarkan setiap bulannya menjadi jauh lebih mahal karena kini mereka tidak lagi dapat memperoleh air secara gratis. Mereka harus membelinya terutama ketika kemarau datang. Hal lain yakni muncul konflik terganggunya harmoni atas pecahnya mereka menjadi mereka yang pro dengan yang kontra; menimbulkan ketegangan yang tidak dapat dihindari.

Kematian Patmi tak surutkan perlawanan masyarakat Kendeng. Sejumlah orang dari berbagai elemen masyarakat yang bersolidaritas atas perjuangan penolakan pendirian dan pengoperasian pabrik semen PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng pada Selasa malam menggelar tabur bunga untuk mendiang, Patmi.  Duka Kendeng, duka petani Indonesia. Mungkin sebagian dari elite politik dan birokrasi memandang peristiwa ini sebagai sesuatu yang naïf dilakukan para perempuan Kendeng. Katanya Indonesia adalah Ibu Pertiwi, sudah dengarkah suara-suara pilu mereka? Ibu yang menjadi rahim bumi untuk melahirkan generasi-generasi baru, hilang satu nyawa berakhir nestapa. Dari Yogyakarta, Saya berkabung.

Penulis adalah pemerhati masalah perempuan, mahasiwa pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Komentar