Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

AGAMA Pramono Anung, Makna HUT Proklamasi dan Orkestra Kerja Nyata 17 Aug 2016 11:32

Article image
Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung. (Foto: Seskab.go.id).
Kerja nyata yang diterjemahkan oleh Presiden Joko Widodo yaitu kerja, kerja, kerja, dan kerja, yang dijalankan dalam satu orkestra.

JAKARTA,IndonesiaSatu.co -- Peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan selalu menjadi momentum untuk merefleksikan makna kemerdekaan. Lantas, apa yang Anda renungkan tentang makna HUT Proklamasi yang diperingati hari ini?

Bagi Pramono Anung, HUT Proklamsi selalu menjadi momentum untuk melakukan introspeksi terhadap keinginan founding fathers. Menteri Sekretaris Kabinet ini selalu merenungkan apakah pesan para pendiri bangsa, Soekarno-Hatta sudah diwujudkan saat ini.

“Introspeksi pertanyaan yang sederhana adalah apakah yang kita alami hari ini sudah sesuai dengan apa yang diharapkan, dicita-citakan, dibuat, dimerdekakan oleh pendiri bangsa pada waktu itu,” kata Pramono di ruang kerjanya, Gedung III Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) Jakarta, kemarin.

Menurut Seskab, dalam perjalanan bangsa selama 71 tahun muncul berbagai peristiwa, baik gembira maupun yang menyedihkan. Namun, bagi Pramono, founding fathers  telah mewariskan hal yang tidak diwarisi oleh negara lain.

“Bentuk negaranya ada, ideologinya ada, kemudian juga kita dipersatukan oleh bahasa yang kuat yaitu Bahasa Indonesia yang sebenarnya Bahasa Indonesia itu bukan bahasa mayoritas, kalau mayoritas kan bahasa Jawa. Tetapi inilah yang sebenarnya mempersatukan kita sebagai Bangsa. Dan sampai hari ini teruji setelah 71 tahun Indonesia tetap kuat, Indonesia tetap merdeka, dan Indonesia tetap dihargai, dihormati bangsa-bangsa dunia,”ujar Pramono dikutip Setkab.go.id.

Saat ditanya terkait tantangan Indonesia dalam usinya ke-71 tahun, Pramono Anung mengatakan, yang paling utama adalah masalah kebodohan,  pendidikan, ketimpangan kaya miskin, dan masalah kebhinekaan.

“Jadi hal-hal mendasar itulah yang sebenarnya sudah dipikirkan oleh para pendiri bangsa dengan ideologi Pancasila, dan itu semuanya ada,” kata Pramono.

Tantangan lainnya, kata Pramono, terkait demokrasi. Menurut Seskab, sebenarnya sudah ada tools (alat, aturan, sistem, red.) yang menjadi panduan kehidupan berdemokrasi. Tetapi, menurut Seskab, kita belum cukup dewasa menjalankannya.

“Saya melihat bangsa ini tetap survive, adalah bangsa yang besar dengan jumlah puluhan ribu pulau, 17 ribu lebih. Karena apa? Karena founding father telah memikirkan jauh-jauh hari. Dan itu terbukti dari bahasa yang dipilih, dari bentuk negara, dari negara kesatuan, sebab kalau kita federalisme, saya yakin pasti akan ada ketimpangan yang makin kuat antara satu daerah dan daerah lainnya,” terang Seskab.

Saat ditanyakan mengenai arti  “Kerja Nyata” yang diangkat sebagai tema peringatan HUT ke-71 tahun, Pramono menjelaskan, kerja nyata yang diterjemahkan oleh Presiden Joko Widodo yaitu kerja, kerja, kerja, dan kerja, yang dijalankan dalam satu orkestra.

“Orkestra kerja adalah orkestra yang memberikan bentuk nyata dari kerja,”ujarnya.

Seskab mengatakan, salah satu kerja nyata yang dilakukan pemerintahan Jokowi yaitu membangun infrastruktur hingga ke pelosok.

“Kita sekarang menjadi role model dunia, di negara demokrasi, negara Islam, dan negara yang dianggap berbhinneka. Makanya sekali lagi, apa kerja nyata yang ada? Adalah satu, tentunya membuat menghilangkan perbedaan kaya dan miskin, yang kedua menghilangkan kebodohan, yang ketiga yang paling penting adalah membuat rakyat sejahtera,” kata Pramono.

--- Very Herdiman

Komentar