Breaking News

INTERNASIONAL Presiden Brasil Tolak Dana Negara-negara G7 untuk Padamkan Kebakaran Amazon 28 Aug 2019 07:56

Article image
Salah satu titik kebakaran di hutan Amazon, Brasil. (Foto: Reuters/Ueslei Marcelino)
Kebakaran hutan Amazon pada tahun ini telah mencapai rekor tertinggi sejak 2013 dan meningkat 83 persen dibanding tahun lalu.

BRASILIA, IndonesiaSatu.co -- Presiden Brasil Jair Bolsonaro menolak tawaran negara-negara G7 untuk membantu upaya pemadaman kebakaran hutan Amazon, Brazil, yang kini mencapai rekor tertinggi sejak 2013.

Seperti dikutip dari Spiegel Online, Rabu (28/8/2019), Bolsonaro menolak dana sebesar 20 juta euro atau sekitar 316 miliar rupiah dari negara-negara G7 yang diumumkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Macron mengatakan, negara-negara G7 yang terdiri dari AS, Prancis, Jerman, Inggris, Jepang, Italia, dan Kanada, akan menyusun inisiatif untuk Amazon yang akan dipaparkan pada Sidang Umum PBB di New York, September mendatang.

Kepala Staf untuk Presiden Jair Bolsonaro, Onyx Lorenzoni, menyatakan, dana dari negara-negara G7 lebih baik dimanfaatkan untuk reboisasi Eropa.

"Kami menghargai tawaran G7, tapi sumber daya itu lebih baik digunakan untuk menghutankan kembali wilayah-wilayah di Eropa," ujar Lorenzoni seperti dikutip dari Spiegel Online, Rabu (28/8/2019).

Tawaran dana tersebut juga dikritik Presiden Bolsonaro sebagai “tawaran kepada negara jajahan”. Presiden dari kubu sayap kanan Brasil itu menyatakan, inisiatif Emmanuel Macron adalah serangan terhadap kedaulatan Brasil.

"Sulit diterima bahwa seorang Presiden Macron melepaskan serangan yang tidak masuk akal di Amazon, juga tidak menyamarkan niatnya di balik gagasan 'aliansi' dari negara-negara G-7 untuk 'menyelamatkan' Amazon, seolah-olah kami adalah koloni atau tanah tak bertuan," ungkap Bolsonaro melalui akun Twitter.

Kebakaran hutan Amazon pada 2019 telah mencapai rekor tertinggi sejak 2013 dan meningkat 83 persen dibanding tahun lalu. Kondisi wilayah yang menyumbang sekitar 20 persen oksigen dunia itu menjadi perhatian masyarakat internasional.

--- Rikard Mosa Dhae