Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Presiden Putin Kirim Sistem Pertahanan Udara S-300 ke Suriah 03 Oct 2018 11:44

Article image
Salah satu unit sistem pertahanan S-300 Rusia. (Foto: DPA via faz.net))
Keputusan Moskow untuk memperkuat kemampuan pertahanan Suriah dengan sistem S-300 ditegaskan pasca insiden ditembak jatuhnya pesawat militer Il-20.

DAMASKUS, IndonesiaSatu.co -- Pemerintah Rusia dipastikan telah mengirim sistem pertahanan udara S-300 dan sejumlah besar perangkat keras ke Suriah untuk meningkatkan kekuatan militer dan sistem pertahanan negara itu.

Seperti dikutip dari faz.net, Rabu (3/10/2018), pengiriman S-300 itu dipastikan oleh Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu. Ia menyatakan, Rusia juga mengirim 49 perlengkapan militer termasuk radar, kendaraan control, dan empat peluncur rudal.

“Kami mengumumkan, bahwa Rusia telah menyelesaikan pengiriman sistem S-300 ke Suriah,” ujar Shoigu dalam keterangan kepada media, seperti dikutip dari faz.net.

Shoigu juga menyatakan, proses instalasi sistem pertahanan udara tersebut akan diselesaikan pada 20 Oktober mendatang.

Selain itu, tim khusus asal Rusia ditugaskan untuk melatih dan mempersiapkan tim Suriah untuk mengoperasikan sistem pertahanan tersebut.

Keputusan Moskow untuk memperkuat kemampuan pertahanan Suriah dengan sistem S-300 ditegaskan pasca insiden ditembak jatuhnya pesawat militer Il-20 Rusia beberapa pekan lalu.

Insiden yang menewaskan 15 tentara Rusia itu memicu ketegangan Rusia dan Israel. Moskow menuding Tel Aviv sengaja menjebak Il-20 saat Suriah menembakkan rudal ke arah jet-jet tempur Israel.

Dengan sistem pertahanan yang baru Suriah akan semakin mampu mengatur navigasi satelit, radar dan sistem komunikasi pesawat tempur di Laut Mediterania, termasuk kemampuan mencegah terjadinya “tindakan tidak pantas yang membahayakan pasukan Rusia.”

--- Rikard Mosa Dhae