Breaking News

OPINI Proficiat Mgr Sensi: Pendamping Spiritual, Rekan Imam, dan Uskup Saya 24 Apr 2021 15:32

Article image
Penulis mendampingi Mgr Sensi (bertopi hitam) ketika di Sachseln, Swiss, akhir September 2017. (Foto: ist)
Bagi saya dan teman-teman, Romo Sensi membantu memanusiakan calon imam dengan cara yang paling manusiawi.

Oleh Stefanus Wolo Itu

 

HARI ini 23 April 2021, Mgr Sensi merayakan jubileum 15 tahun tahbisan uskup. Beliau ditahbiskan di Gelora Samador Maumere tanggal 23 April 2006, sebagai uskup pertama keuskupan baru Maumere. Beliau memilih motto kegembalaan yang cukup menantang. "Praedica Verbum Opportune, Importune = Wartakanlah Firman, baik atau tidak baik waktunya"(2 Thimoteus 4,2).

Ketika itu umat Keuskupan Agung Ende dan Maumere masih berada dalam suasana duka karena kepergian Mgr. Abdon Longinus Da Cunha. Meski demikian perayaan liturgi tahbisan yang dipimpin Kardinal Julius Darmaatmadja dan dihadiri hampir semua uskup se Indonesia berlangsung meriah. Ratusan imam, biarawan/wati dan ribuan umat turut serta dalam peristiwa berahmat itu. Sayapun hadir pada kesempatan itu. Saya berbahagia karena pendamping spiritual dan rekan imam senior saya terpilih menjadi uskup.

Saya mengenal Uskup Sensi pertama kali pada pertengahan Juli 1989. Kurang lebih 32 tahun lalu di Lela Maumere. Sebagai imam muda beliau dipercayakan Uskup untuk menjadi pendamping spiritual kami di tahun rohani. Tampilan lahiriah beliau sangat menarik. Orangnya tinggi, ganteng, berambut ombak, atletis, dan senyuman menawan. Ke mana-mana beliau mengendarai motor GL Hitam, mengenakan baju dan jacket jeans dan rayben hitam. Sebagai imam, beliau tampil agung saat mengenakan jubah, kasula dan memimpin misa. Suaranya merdu dan kotbahnya memukau. Kami sangat bangga dengan tampilan elegan pendamping spiritual kami.

Sebagai pendamping spiritual bersama Socius, Rm Ansel Leu kerja mereka tidak ringan. Mereka harus mendampingi satu kawanan besar calon imam gereja lokal: 80-an orang. Kami berasal dari keuskupan Denpasar, Ruteng, Ende(Maumere masih bergabung dengan Ende), Larantuka, Atambua, Kupang, Weetabula dan Samarinda. Latar belakang kultur kami berbeda, karakter dan perilaku kami amat bervariasi. Tapi asyik, kami punya cita-cita yang sama yakni menjadi imam gereja lokal. Segala perbedaan justru memperkaya kebersamaan dan formasi lanjutan kami. Kami belajar sapaan-sapaan khas dan tidak lupa "kata-kata khusus" dalam bahasa lokal kami. Rio Sarman dari Metropolitan, Wawan Swantono dan Anton Parmo dari Jawa Tengah yg tadinya halus dengan gaya tutur Jawa, akhirnya "ketularan" dialek-dialek lokal NTT.

 

Tahun Rohani

Selama setahun, Romo Sensi dan Ansel mendampingi kami. Tahun rohani menjadi tahun penuh sukacita dan babak istimewa menuju imamat. Kami mendalami aspek-aspek kecakapan yngg mesti dimiliki seorang calon imam seperti: Hidup rohani dan spiritualitas, intelektual, kesehatan dan sosial. Setiap hari kami bergumul dengan tema-tema itu. Kami diperkaya dengan latihan-latihan praktis yang sangat menggembirakan. Irama kehidupan kami mulai bangun pagi hingga tidur malam begitu dinamis dan menyenangkan.

Bagi saya dan teman-teman, Romo Sensi membantu memanusiakan calon imam dengan cara yang paling manusiawi. Kami dilatih untuk mengenal, mengekspresikan diri dan menemukan kembali diri bila kita kehilangan identitas. Saya pribadi belajar menghidupi "life-giving experience", menerapkan secara arif "self love dan self care". Di sinilah bekal penting seorang pendamping spiritual dan saya rasakan kekuatan dan manfaat bekal itu hingga kini.

Saya coba mengenang kembali teman-teman angkatan saya di TOR 89. Tampilan kita saat itu amat bervariasi. Ada yngg kocak, jenaka dan suka usik. Ada manusia kamar dan ada raja pesiar. Ada yang tampil adem, sopan dan "kudus taktis". Satu kesempatan Romo Spiritual mendapat informasi bahwa "beberapa teman" kami "bermain mata" dengan WTS. WTS ini tidak lain adalah Wanita Tetangga Sebelah yakni anak-anak SPK Lela.

Seorang sahabat kocak kami, Lorens Murin Hera, pernah mengarang lagu dengan judul "SPK-TOR". Pendamping Spiritual kami cukup terganggu dengan lagu ini. Beliau mengumpulkan kami dan membuat konferensi singkat. Beliau kaget karena beberapa orang yang kelihatan kalem dan tenang ternyata "makan dalam". Beliau katakan "Mulai hari ini saya tidak percaya lagi bahwa ada orang kudus" di TOR ini. Satu cara terbuka seorang pendamping untuk merawat panggilan kawanan pendampingannya.

Saya coba menghitung, ternyata banyak di antara kami yang sukses. Ada yang mencapai gelar akademis tertinggi tingkat doktorat dan menjadi bagian "think tank" keuskupan. Ada yg menjadi birokrat gereja lokal. Ada yang menjadi formator, pendidik, akademisi dan penulis produktif. Ada yang menjadi pastor hebat dan gembala yang mencintai dan dicintai umatnya. Dan tidak lupa banyak teman yang menjadi bapak keluarga, awam yang bekerja di pelbagai bidang tata dunia. Asyiknya saat bertemu atau ngobrol di grup WA, kami tetap memposisikan diri sebagai teman dan sahabat TOR 89.

Selanjutnya saya mengenal Romo Sensi lebih jauh sebagai rekan imam gereja lokal KAE. Saat saya ditahbiskan imam tahun 1997 beliau mengemban tugas sebagai Direktur Puspas KAE. Beliau memimpin "think tank atau dapur pemikiran" keuskupan. Tugas ini tentu saja tidak ringan. Beliau dan teman teman harus memikirkan dan merancangkan proses pastoral di keuskupan. Mereka merumuskan visi, misi, strategi, rencana kerja pastoral. Mereka juga memberikan masukan dan pertimbangan pada uskup tentang pelbagai kebijakan pastoral. Ya, kerja berat untuk menata karya pastoral seluruh keuskupan yg lebih terarah.

Sebagai Direktur Puspas, beliau adalah figur penting di balik kesuksesan penyelenggaraan Muspas KAE tahun 2000 di Maumere dan 2005 di Mataloko.

Kami sering bertemu dan merajut kasih persaudaraan se-imamat melalui kerja-kerja persiapan muspas, sidang-sidang komisi dan sidang lintas perangkat pastoral.

Kami juga sering bertemu ketika beliau mendampingi Uskup Longinus saat kunjungan pastoral ke paroki-paroki. Uskup Longinus sering mengungkapkan kasih pastoral kepada rekan imamnya dengan nasihat, peneguhan lewat sapaan, kotbah dan pertemuan pastoral. Mgr. Longinus juga sering terbuka dan tegas "mewartakan kelalaian para imamnya" di depan umat parokinya sendiri. Imam yang sering lalai butuh ketahanan mental dan batin. Menarik bahwa ketika kita merasa "babak belur dan gundah gulana" Romo Sensi hadir. Biasanya setelah pertemuan, dengan caranya tersendiri beliau ibarat menegakan kembali "buluh yang patah terkulai", mengangkat kembali "waka" (wibawa) para imam yang kena semprotan kasih kegembalaan Uskup Longinus.

 

Uskup Maumere

Beliau bekerja sebagai Direktur Puspas KAE hingga tahta suci menunjuknya sebagai uskup Maumere 14 Desember 2005. Mgr Sensi menjabat Uskup Maumere hingga 14 April 2007, ketika Vatikan menugaskannya untuk mengisi situasi "Sede Vacante" di Keuskupan Agung Ende. Kami bersyukur karena "Sede Vacante" terisi kembali oleh uskup yang lahir dari rahim gereja lokal KAE. Dia memahami situasi pastoral dan dinamika gereja lokal KAE.

Ya, tidak mudah memimpin gereja lokal KAE dengan luas wilayah 5.804 km2. Tidak gampang menjaga kawanan 450-an ribu umat Allah dari Watuneso hingga Aimere, dari Kotabaru hingga Riung Barat. Tidak mudah mewartakan kabar gembira terutama ketika Flores dan NTT menjadi episentrum keprihatinan dunia karena Covid-19 dan bencana alam.

Tanggal 11 Mei tahun lalu Uskup Sensi merayakan 40 tahun imamat. Tahun ini beliau merayakan 15 tahun tahbisan uskup dan 70 tahun usia hidup. Karena situasi Covid yang mendunia, bapak uskup merayakan semua yubileum ini dalam kesederhanaan. Kesederhanaan itu adalah ekspresi belarasa dengan umat yang didera Covid-19 dan bencana alam NTT.

Beliau jadikan momen-momen yubileumnya sebagai berkat untuk sehati, seperjuangan dengan umat yang sedang menderita. "Memoria Passionis" akan situasi umat memberi inspirasi, memperkaya dan membaharui hidupnya lewat cara beriman umat gembalaannya. Ini ungkapan kerendahan hati seorang gembala. Gembala yang berani mengelak puji-pujian dalam pesta-pesta konvensional yubileum. Gembala yang berani memilih dan rela belajar dari cara beriman umatnya yang sederhana.

Tentang kerendahan hati Uskup Sensi, saya ingat 21 - 29 September 2017. Saat itu Uskup Sensi diundang khusus untuk menghadiri Jubileum 600 tahun Bruder Klaus, Bapak Pelindung bangsa Swiss di Sachseln Swiss. Setelah tiba di Bandara Zürich kami bergerak menuju Luzern. Sambil minum kopi Swiss, Karl Kistler, Albert dan saya menjelaskan sejumlah hal tehnis penting selama di Swiss. Karl, Albert bersama istrinya dan keluarga Swiss lainya ditugaskan khusus untuk mendampingi Uskup Sensi selama di Swiss.

Mereka menanyakan saya bagaimana baiknya mereka menyapa Uskup Sensi dalam keseharian. Herr Bischof, Monsigniur atau sapaan formal lainnya. Mereka tetap menghargai martabat luhur sebagai Uskup. Tapi mereka ingin luwes dan tidak kaku. Mereka butuh sapaan yang sangat bersaudara. Dan itu tidak lain harus menyapa dengan nama.

Saya tanya Bapak Uskup Sensi dalam bahasa Lio. "Ngere emba, ngala ta iwa, ebe ina pai bapa Uskup liba no'o naja Sensi. Demi ebe pai liba naja Sensi, ebe rasa, bapa Uskup ina, ame ebe, kae ebe, nara ebe, tuka bela ebe. Bapa beritahu sambil tertawa: "iwa apa ga, demi ina ada bheni miu leka ina, aku ndu kau, aku lele ebe pai no'o ate masa"/Artinya apa boleh mereka menyapa bapak Uskup dengan nama Sensi saja. Mereka rasa sangat bersaudara. Bapak Uskup menjadi bagian dari keluarga dan keseharian mereka. Bapak Uskup terima sapaan itu dengan hati gembira sebagai bagian dari kultur kesantunan orang Swiss.

Dari Eiken AG, Negeri Alpen Swiss saya ucapkan "Proficiat 15 Tahun Tahbisan Uskup Mgr. Sensi: Pendamping Spiritual, Rekan Imam Dan Uskup Saya".

 

Penulis adalah imam projo Keuskupan Agung Ende yang saat ini sedang bermisi di Eiken, Swiss.

Komentar