Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

GAYA HIDUP Psikolog: Perasaan Bersyukur, Resep Usia Panjang 24 Nov 2018 17:10

Article image
Ilustrasi wanita bahagia (Foto: evgenyatamanenko)
"Perasaan bersyukur setiap hari seperti vitamin bagi tubuh, mental, pikiran dan psiko-emosional seseorang. Dengan bersyukur, usia kita menjadi lebih panjang," kata profesor psikologi David Desteno.

AMERIKA SERIKAT, IndonesiaSatu.co-- "Perasaan bersyukur setiap hari seperti vitamin bagi tubuh, mental, pikiran dan psiko-emosional seseorang. Kita terbiasa mengucapkan ‘terima kasih’ ketika mendapat sesuatu atau bantuan. Teman yang baik, keluarga, rumah, dan kebaikan orang lain adalah sebagian dari kebahagiaan yang perlu kita syukuri setiap hari. Dengan bersyukur, usia kita menjadi lebih panjang," kata profesor psikologi David Desteno, dari Universitas Boston, Amerika Serikat.

Destono tidak hiperbolik. Kini para ilmuwan menemukan bahwa rasa syukur bisa meningkatkan kesehatan mental (psiko-emosional) maupun fisik. Penelitian bahkan membuktikan kaitan erat antara orang yang selalu bersyukur dengan penurunan rasa nyeri, peningkatan kualitas tidur, kenyamanan dalam bekerja, kebahagiaan di tengah kesulitan serta keyakinan di setiap situasi yang dialami.

Penelitian selama 15 tahun yang dilakukan profesor psikologi, Robert Emmons menunjukkan hal tersebut. Dalam satu penelitiannya, ia meminta sekelompok partisipan studi untuk menuliskan lima hal yang mereka syukuri seminggu sekali selama 10 minggu.

Hal-hal sederhana seperti; sinar matahari yang hangat, menjadi seorang kakek, ataupun mendapat uang tambahan, merupakan ungkapan syukur yang dicatat para partisipan. Di akhir penelitian, orang yang rajin menuliskan hal yang disyukuri merasa tingkat kebahagiaannya naik 25 persen. Selain itu, perasaan syukur atas kehidupan yang dimiliki juga mendorong mereka untuk menjaga kesehatan tubuhnya dengan cara rutin berolahraga. Keluhan fisik akibat gangguan kesehatan pun berkurang.

Penelitian lain yang dimuat di Journal of Health Psychology juga menunjukkan, perasaan syukur membuat para partisipan tidur lebih nyenyak dan tekanan darahnya turun.

Selain kaitan erat antara tubuh dan pikiran, ternyata ada penjelasan mengapa perasaan bersyukur menyehatkan. Ketika kita merasa tegang dan kelelahan, entah karena tenggat pekerjaan atau masalah keluarga, sistem saraf kita akan berada dalam kondisi waspada. Kondisi itu juga membuat hormon kortisol membanjiri tubuh yang akhirnya memicu gangguan kesehatan. Misalnya,tekanan darah naik, susah fokus, hingga inflamasi.

Sebaliknya, ketika kita merasa bersyukur dan tenang, otak akan mengirimkan sinyal pada tubuh bahwa semuanya terkendali. Sebenarnya tidak sulit untuk bersyukur. Kita bisa memulainya hingga akhirnya menjadi kebiasaan.

"Rasa syukur adalah pilihan, dan kita bisa menciptakannya pada momen apa pun yang terjadi. Lama-kelamaan, hal itu menjadi otomatis. Kita jangan hanya membuat daftar hal yang disyukuri, tetapi renungkan juga alasannya secara spesifik,” kata Emmons.

--- Guche Montero

Komentar