Breaking News
  • Divestai Tuntas, Freeport Ganti Status Menjadi IUPK
  • IHSG menguat menyusul akumulasi beli investor asing
  • Jawa Barat diantisipasi dalam Pemilu 2019 karena miliki pemilih paling banyak
  • Libur Natal 2018, 71 Outlet BNI Tetap Beroperasi
  • Menperin: industri tak terdampak tsunami Selat Sunda

GAYA HIDUP Psikolog: Stres Ibu Pengaruhi Psikologis Anak 22 Dec 2018 09:05

Article image
Foto: Ilustrasi seorang ibu yang sedang marah pada anaknya.
Pilihan untuk menjadi seorang ibu harus diimbangi dengan psikoemosional dan psikososial sehingga dapat membantu perkembangan dan kematangan psikologi anak.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Stres menjadi hal yang seringkali tidak terhindarkan bagi sebagian ibu yang harus menjalani banyak peran.

Sumber stres ibu beragam. Bisa jadi karena faktor internal, seperti padatnya kesibukan pekerjaan dan mengurus anak, serta suami yang kurang terlibat dalam proses pengasuhan. Ada pula faktor eksternal, seperti tekanan sosial karena anak dianggap tidak seperti anak lainnya. Jika tidak diatasi dengan baik, tingkat stres ibu dapat semakin meningkat.

Psikolog klinis, Liza M. Djaprie mengungkapkan adanya sejumlah studi yang menyatakan hal tersebut.

"Beberapa penelitian terbaru mengatakan bahwa para ibu sekarang gampang sekali mengalami stres, baik di kota maupun pedesaan dengan intensitas yang tinggi. Tingkat stres para ibu bisa mencapai 50 persen, lebih tinggi dari tingkat para ayah (39 persen) yang biasanya mengalami stress terkait dengan finansial," kata Liza pada acara perayaan hari ibu bersama Mothercare di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/18).

Liza mengingatkan bahwa stres yang dirasakan para ibu bisa menular ke anak dan mempengaruhi psikologi anak.

"Ketika hamil tujuh bulan anak ketiga, suami saya meninggal. Secara psikologis, faktor internal yang saya alami mempengaruh bayi saya. Dia berbeda dari kakaknya yang lain.Ternyata dia menyerap stres saya," kisah Liza.

Liza mengungkapkan bahwa ketika ibu memilih untuk menunjukkan kebahagiaannya pada anak, hal itu akan berpengaruh pula pada psikologis anak.

"Kebahagiaan menjadi seorang ibu adalah pilihan pribadi. Anak akan mencontohi kita. Jika kita tenang, rileks, itu akan diserap dengan baik oleh anak," kata ibu empat anak itu.

Ia memmbeberkan bahwa ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi para ibu agar jauh dari stres. Pertama, menghadapi komentar atau perbandingan antara anak satu dengan yang lain. Perbandingan terhadap anak semakin diperparah dengan adanya media sosial. Sejumlah ibu seringkali mengalami stres karena merasa dirinya tidak bisa seperti ibu lainnya dalam mengasuh anak, seperti yang dilihatnya di media sosial.

"Belajarlah untuk mengabaikan hal-hal negatif terutama bagi para ibu baru. Jangan larut dalam komentar negatif hingga membiarkan diri stres karena pengaruh negatif orang lain," tuturnya.

Kedua, dukungan sosial juga sangat penting bagi seorang ibu, terutama dari suami.

“Banyak suami yang kurang terlibat dalam pengasuhan anak sehingga beban yang dirasakan ibu sangat besar. Bentuk dukungan yang dibutuhkan ibu sebenarnya sederhana, misalnya ketika seorang ibu harus bangun malam karena anak rewel, mereka sebetulnya hanya ingin suaminya bangun dan menemani. Suami juga kadang tak mengerti hal itu apalagi ketika mereka masih menjadi ayah baru,” imbuhnya.

Stres berkepanjangan yang dialami oleh para ibu sangat berakibat pada perkembangan psikologi anak. Pilihan untuk menjadi seorang ibu harus diimbangi dengan psikoemosional dan psikososial sehingga dapat membantu perkembangan dan kematangan psikologi anak.

--- Guche Montero

Komentar