Breaking News

INDUSTRI PT RAI Pertanyakan Penghapusan Proyek Pengembangan Pesawat R80 03 Jun 2020 15:37

Article image
BJ Habibie dan pesawat terbang regional Turboprop R80. (Foto: dw.com)
RAI dalam upaya mendapatkan PSN di 2017 mengusulkan perlunya industri penerbangan yang mempunyai visi strategis di mana R80 adalah salah satu ujung tombaknya.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Manajemen PT Regio Aviasi Industri (RAI) mempertanyakan penghapusan dua proyek pengembangan pesawat, yakni R80 dan N245, dari daftar proyek strategis nasional (PSN).

Diketahui, pemerintah pada hari Jumat, 29 Mei 2020, memutuskan menghapus dua proyek yang digagas almarhum B.J. Habibie untuk mengembangkan pesawat terbang regional turboprop R80.

Dalam siaran persnya yang diterima IndonesiaSatu.co (3/6/2020) dari Direktur Komunikasi Justino Djogo, MA, MBA, manajemen RAI mengklarifikasi keputusan pemerintah tersebut agar tidak terjadi salah persepsi mengenai rencana RAI membangun pesawat kebanggaan nasional R80, apalagi pesawat terbang itu merupakan proyek terakhir yang direncanakan oleh  B.J. Habibie.

Dalam kaitan ini, perlu diketahui juga bahwasanya pesawat terbang N245 pun yang direncanakan PT Dirgantara Indonesia (persero) sebetulnya berdasarkan konsep pesawat terbang CN235, rancangan lainnya oleh (alm.) Bapak B.J. Habibie.

Menurut RAI, R80 dimaksudkan untuk dapat mengisi pasar domestik dan regional menggantikan pesawat asing, melakukan regenerasi kemampuan teknologi bangsa, yang terhenti karena surutnya PTDI di tahun 2000-an dan menjadi salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi. R80 mengisi amanah yang diberikan dalam UU No.1 Penerbangan 2009 dan RIPIN 2015.

Tahun 2017, R80 resmi masuk dalam PSN karena memenuhi kriteria strategis di atas. Sebuah rentang waktu yang sangat singkat dalam berkolaborasi mempersiapkan pembuatan pesawat R80. Sedari awal, sesuai visi dan misi pembuatan R80, pemerintah mendukungnya sehingga bisa masuk dalam PSN.

Ada tiga hal substansial yang disampaikan manajemen RAI dalam hubungan ini.  Pertama, PSN memberikan pesan bahwa pemerintah mendukung rencana bisnis pengembangan R80.

Kedua, PSN  untuk R80 diberikan dengan catatan, antara lain pendanaan tanpa APBN,  tidak ada jaminan dari pemerintah, pendanaan diupayakan melalui PINA (Pembiayaan non APBN).

Ketiga, selama fase design konsep, R80 sepenuhnya dibiayai oleh alm. Bapak BJ Habibie dan pemegang saham RAI lainnya.

“Kami ucapkan terimakasih, selama kehadiran R80 dalam PSN, sudah dirasakan dukungan pemerintah dalam fase konseptual program R80, sebagai berikut.”

“Kami juga berterimakasih kepada masyarakat yang telah mendukung melalui jalur crowd funding dengan menggunakan plat form kitabisa.com. Donasi masyarakat dalam jumlah berapapun  sangat berarti, mendukung dan menunjukan semangat rakyat terhadap proyek R80.” 

RAI dalam upaya mendapatkan PSN di 2017 mengusulkan perlunya industri penerbangan yang mempunyai visi strategis di mana R80 adalah salah satu ujung tombaknya. RAI bersinergi dengan stake-holder industri penerbangan nasional mengusulkan kepada emerintah  untuk menyusun roadmap industri penerbangan nasional, yang awalnya dikoordinasikan oleh Kemenko Maritim RI dan saat ini dilanjutkan oleh Kemenristek BRIN.

Roadmap di dorong oleh stake holder industri, agar Indonesia  mempunyai visi dan rencana strategis ke depan industri penerbangan sebagai ekosistem dan merupakan bagian dari perencanaan pembangunan nasional. Proyek R80 tetap menjadi salah satu penggerak utama roadmap ini.

Dalam pandangan RAI, industri pesawat terbang angkut/ (large transport airplane) masih menjadi penggerak utama industri. Pengembangan wahana baru/ drone, merupakan pelengkap dan arah pengembangan teknologi masa depan menggunakan prinsip otomasi dan sistem propulsi listrik.

--- Simon Leya

Komentar