Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

SASTRA Puisi-Puisi Gusty Fahik 02 Oct 2016 13:12

Article image
Dalam puisi-puisi berbobotnya ini, Gusty Fahik mengulas penderitaan, negara, dan realitas kota Jakarta.

Tiga Irama Sepi

 

Tiga puluh untai doa usai ia rapal, sedang amsal sesal

masih meronta di kering bibir

“Ah tuhan,

tuhan yang sedih

kenapa sahaya

kau biarkan berjarak dari nasib baik?”

Sepi

            Lelah ia terkulai dengan rahim membara, terbakar kesumat

            di luar, malam lepuh sebab khianat

            “Waktu,

            waktu nan jalang

            haruskah aku

            kau beri hidup penuh sesal?”

            Sepi

Angin telah berhenti menyuguhkan dingin

sisa tangis mengental perih

“Biar,

biarkan terjadi

agar kelak menjadi ingatan

bahkan seorang bayi, sudah cukup tua

untuk mati1

Sepi

 

Kupang,  September 2016

(1bdk. Martin Heidegger, “When a babby was born, he or she is old enough to die”)

 

Menjelma Bibir

 

Di negeriku,

segala sesuatu menjelma bibir

tak henti meracau

melayangkan cibir

 

Para petinggi hingga televisi

Semua menjelma bibir

Obrolkan pertiwi

Sampai urusan lendir

 

Bicara pesinden hingga presiden

sebatas igau dalam tidur yang galau

 

 Kupang, September 2016

                                   

Pengungsi

 

“Karena ini tanah buangan,

Tuhan melupakan nasib kami”

ia bertutur  mengawali kisah

 

Tujuh belas tahun mengeja hidup di barak pengungsian,

masihkah Jakarta menaruh peduli?”

getar suaranya, melawan resah

  

“Seumpama politik, cinta akan membuatmu berkhianat

berkali-kali,” kisah berakhir

 

Lalu diam yang panjang

bersama pahit yang hening

singgah di terik siang

 

 Noelbaki, September 2016

 

*) Gusty Fahik, lahir 1986 di pedalaman Timor-NTT. Aktif menulis di beberapa media lokal NTT, juga portal berita online. Pernah bergiat di kelompok teater Aletheia, dan komunitas Arung Sastra-Ledalero. Kini bermukim di Kupang dan bergiat sebagai desainer dan wartawan  Majalah Bulanan Kabar NTT.

Tags:
Sastra Seni

Komentar