Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

SASTRA Puisi-Puisi Joan Udu 04 Sep 2016 18:25

Article image
Ilustrasi. (Foto: Ist)
Dalam puisi-puisinya ini, Joan Udu merefleksikan tentang hidup, takdir, persahabatan, dan Tuhan.

 

Puisi-Puisi Joan Udu

 

DARI MEDAN PERANG, URIA MENULIS JANJI

 

Bertahun-tahun kurelakan kau

pergi menemukan lengan takdir

yang kadang menghadirkanmu sekeping

ngilu dan keluh campur nyeri.

 

Seperti jalan setapak di samping rumahmu

rela menerima kata pisah di suatu persimpangan,

kuikhlaskan kau pergi pada sebuah dunia

yang memberimu berlaksa tanya dan kira-kira.

 

Tapi, begini Betsyeba,

kau boleh saja pergi

ke dalam rimba pisah. Menjadi senja

di atas kepalaku. Tapi di kebun belakang rumahmu

aku akan menjelma muslihat ular

meneguk sepenuh bau basah

harum tubuh dan asin bibirmu.

 

Jakarta, 26 Agustus 2016

 

BERSEMBILAN, KITA DI LAWSON SALEMBA

 

sekali lagi kita nongkrong minum anggur

sesudah gemuruh angin sakal berhasil

menggoda pinggul pepohonan di jalanan

‘tuk berlenggok gemulai dan lihai nian

bagi hujan yang baru pulang

dari kepergian yang jauh.

 

seorang bocah lewat, mampir di tempat kita mangkal

bajunya basah kuyup, giginya berdenting. Ia menggemelutuk

ia menggigil tak kepalang, dan bengong melihat

bebotol anggur berbaris di depannya, seperti hendak menyerang

ia terkesiap, tatapannya menombak, lalu menunjuk menuduh:

“hei kalian…dasar pelahap dan peminum !!!”

semua tersentak, berang, tanda darah sudah mendidih

 

Teobaldus, yang merasa paling bijaksana, terpancing

haaa? kau bilang apa kepada kami?

 peminum dan pelahap? puih!

 eh, bocah kutil, dulu datang seorang nabi:

tidak makan dan minum anggur

makannya cuma belalang dan madu hutan

kau bilang: orang gila

kini kami datang di Lawson:

minum anggur dan makan keripik

lalu kau bilang: peminum dan pelahap

adooo mama sayang eee,,,kami juga bisa lapar dan haus tauuu…!

sana, pergi…enyahlah kau dari hadapan kami!”

 

Scotus, 3 September 2016

  

RUPA TUHAN

 

di dalam kantung lambungmu suatu pagi

aku blingsatan mencari diriku sendiri, lindap

ditelan desing detak jantungmu

 

aku merangsek ke tengah: di serambi hatimu

aku berdiri. sedikit kedinginan

aku mengetuk dengan lembutnya

“halo, bolehkah aku masuk?”

“siapa?”

“aku, yang kemarin kau teguk di beranda”

            ***

kulihat, gelembung di hatimu timbul tenggelam

ada haru, mekar jadi harum kenangan

sumringahmu melebar: atas nama rindu,

mungkin cinta.

 

namun, aku masih saja bertanya

“siapakah dirimu sebenarnya, puan?”

mungkinkah kau adalah rupa tuhan

yang menjelma semalam?

 

Scotus, 25 Agustus 2016

 

Joan Udu  adalah Pemimpin umum jurnal filsafat  Driyarkara dan berkesenian di Bengkel Sastra "F-Minor" Jakarta

 

Komentar