Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

SASTRA Puisi-Puisi Redem Kono 25 Sep 2016 12:55

Article image
“Tuhan, beri aku malam yang kekal." (Foto: Ist)
Dalam puisi-puisinya ini, Redem Kono mengangkat denyut hidup para pramuria.

 

TETRALOGI ZIARAH MAYA

 

(1) Ziarah Cermin

 

Kau adalah pustaka di depan cermin, Maya!

Tergesa kau lukis lagi tubuhmu:

Gurat lepuh kulitmu telah ruah oleh narwastu,

Putih renta rambutmu banjir, hujan minyak kemiri

Di luka wajahmu ada kanvas bedak

Lalu, gaun berusia 25 tahun bertandang lagi

Ke tubuhmu, ya ke tubuhmu!

Dan kau kian tahu,

“ini hanya awal ziarah,

Pada sepotong malam yang terlampau lamban.”

 

Engkau pun terisak, Maya.

Di depan cermin yang jujur!

 

 (2) Ziarah Jalan

 

Kau kini menemani jalan, Maya!

Jajalangan pun turut membaca wajahmu

Pura-pura kau melengos:

kau tahu bahwa rindu adalah doa-doa yang berasap dari azan Maghrib

Hahaha, kau akhirnya tetap berdoa juga, Maya!

“Tuhan, beri aku malam yang kekal,

Beri aku rel-rel kereta yang sepi

Beri aku rupa-rupa tubuh:

Kuku-kuku yang terpotong,

Janggut-janggut yang disembelih,

Rerambutan yang diminyaki.

Tuhan, di tepi jalan ini sunyi hatiku merindukan Dikau.”

Tanpa “Amen”, kan Maya?

 

Dikau terus berjalan, Maya.

Jalan yang entah.

 

 (3) Ziarah Kuburan

 

Kau adalah malam yang terjaga, Maya!

Malam yang ramah bagi ojek, tukang bubur, mahasiswa:

berganti-ganti mereka merapalmu!

Tapi, besok adalah harimau yang buas.

Dan, kau tahu harus bertandang ke mana:

“di kuburan telah ada namamu,

Terselip dalam doa-doa yang tiada,

Engkau menunggu Imannuel,

Dalam desah kanak-kanak lapar.”

 

Tapi kau belum mati, Maya.

Di kubur masih ada rinai keringat-keringatmu,

Berpacu dengan mentari yang tak kenal ampun.

Di kuburan, hidupmu adalah puisi Chairil Anwar:

aku mau hidup seribu tahun lagi!

 

(4) Ziarah pulang

 

Duh, mentari!

Engkau selalu datang terlampau dini:

Mengusir sri pahlawan malam.

“mestikah ia berziarah mengunjungi anak-anaknya,

dengan sebungkus nasi di tangan yang lumpuh?”

 

Dan Maya pun kian dekat.

Dari tiga kilo kaki gontai memeluk jembatan!

 

 

Bandung, 25 September 2016

 

Redem Kono adalah wartawan IndonesiaSatu.coPuisi-puisi ini adalah koleksi pertamanya di media.  

 

Komentar