Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

SASTRA Puisi-Puisi Yohanes Arlindo 16 Oct 2016 13:24

Article image
Kehangatan seorang ibu. (Foto: Ist)
Dalam puisi-puisinya ini, Yohanes Arlindo mengungkapkan sisi Maria, Ibu Yesus dalam kepercayaan Katolik untuk berbicara tentang spiritualitas doa.

 

Puisi-Puisi Yohanes Arlindo

 

MARIA

Pada suatu saat di bulan yang keenam,
saat kejujuran mulai berbicara kepada semesta,
tampilah Maria dengan penuh pesona.
Wajahnya begitu anggun dengan kelopaknya laksana nirmala surgawi.
hatinya menampakkan keindahan bumi yang paling suci
berparas megah mahakota raja.

Ah Maria…….
tirai semesta akan merobek pusarmu,
dan kau mengambil langkah, lalu terkejut!
seketika hatimu kau gantungkan pada dagu.
hingga air matamu seperti selokan rancangan sungai.

Aduh, keanggunan yang tak mengenal keadaan
ketika keperkasaanmu mereka gantungkan pada salib,
kau masih duduk menggali sumber untuk kekuatan doa
dan kau peluk hingga seluruh keyakinan
menyanyikan pujian dari samudera atas
dan menjelma kembara putih permukaan.

Maria…
Kami akan berkata-kata kepada yang lain
bahwa butir-butir setiap larik berisi tangisan khusuk yang sudah beribu tahun.Betapapun padat hati,
tidak terbenam.

 

 “sesungguhnya aku ini adalah hambaMu,
terjadilah padaku menurut perkataan itu.”

 

             Pondok Bambu, Oktober 2016

 

 IA MELATI

 

Ia bak wewangian pada musim tanpa nama?

“tidak, tidak!”
Ia gadis Melati,
berjalan berpandang sabana,
menulis rahasia-rahasia suka
dalam sekuntum kasih di sana.

Ia gadis Melati,
mengerti duka lara
pemetik doa-doa serupa bulan kepada matahari.
pengantara yang kekal setia pada Bapa.

Ia gadis Melati
penyayang segala rahim
pelukis kata-kata cinta sederhana
yang memangku asmara kepada putera mahakota.

Salam…
Ia gadis Melati.

 

Pondok Bambu, Oktober 2016

 

Yohanes Arlindo adalah anggota komunitas sastra Tunas Verbist dan PELITA Jakarta.

 

 

Komentar