Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

SASTRA Puisi-Puisi Yosman Seran 13 Nov 2016 17:47

Article image
"Satu-satunya caraku menjagamu adalah menjaga diri sendiri." (Foto: Ist)
Dalam puisi-puisinya ini, Yosman menggulati dirinya dalam hubungannya dengan Tuhan, kata, peristiwa, dan kesendiriannya.

Burung Tuhan

pintu kapel sudah terbuka
burung-burung tuhan berkeliaran di atas altar.

“Dalam tiga hari akan kukandangkan kembali
dan berpuasa bersama mereka
selama empat puluh hari lamanya,
semoga mereka
tidak lagi cerdik seperti merpati dan licik
seperti ular.” Kata nenek.

Mataloko, 2016.

BBM

malam jadi panjang
kau mengunjungiku dan menjadikan kata berbicara
senyum senyum sendiri
bingkai foto bergambar kudus dan suci
yang bergantung di kamarmu berubah
wajahnya menjadi malu-malu.

di luar sana
kucing meraung-raung
seperti ada sunggi berkeliaran di depan pintu
kamarmu

sebelum kau kujumpa
berharap cinta itu masih tidur
bahkan tak ada kata lagi
yang meronta-ronta di layar handphonmu

kekasihku,
aku tak punya cara lain.
satu-satunya caraku menjagamu adalah
menjaga diri sendiri.

Mataloko, 2016

Jangan Panggil Aku Penyair

aku bukan penyair
katakata yang keluar dari mulutku
adalah bau kentut yang tidak perlu kau hirup

jangan kau panggil aku penyair
jangan kau percaya katakataku

kau akan mati berulang kali
dan aku akan bangkit berkalikali

panggil saja aku pemulung
aku lebih tertarik memungut kata
dan kujadikan itu puisi.

Kota Kabut, November 2016.

Hujan Malam Itu

hujan malam itu membanting diri
di atap rumahmu
kau tertidur pulas
di kepalamu mimpi pun tumbuh polos

hujan malam itu
bersorak-sorai turun dari langit
mencekik daun dan ranting bunga-bunga
yang kau tanam di depan rumahmu

hujan malam itu
menari-nari di pantai
menghibur ombak yang sering sakit
menyaksikan orang-orang yang patah hati
berkejaran menyimpan rahasia di bibir laut

hujan malam itu
adalah tanda kau kembali
sebab untuk mengenang
kau harus pulang.

Mataloko, 2016

*Yosman Seran, giat menulis puisi, cerpen dan artikel pada media lokal dan media daring. Sekarang menjadi Staf Pengajar Pada Seminari, St. Berkhmans Todabelu-Mataloko, Bajawa-Ngada, dan  pengelola komunitas LASTRAWAN (Ladang Sastra Berkhmawan) dan bengkel teater KATA.

 

Komentar