Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

SASTRA Puisi-puisi Yosman Seran 27 Nov 2016 14:23

Article image
Dalam puisi-puisinya ini, Yosman menulis pengalaman eksistensialnya dalam bungkusan ziarah fisik dan ziarah batin.

Oleh Yosman Seran

 

Cinta Kita Mati di Kaki Gunung Ebulobo

untuk itulah aku datang lagi
menyaksikan daun-daun cengkeh
mencekik rusuk-rusuk yang kau ambil
di taman Eden. batu-batu berdiri terbata-bata
menyulam peradaban yang lama menatap
wajah mereka. aku tabah.
di kaki gunung Ebulobo yang dingin meringkik
kita berdiri pasif. cinta kita bagai tali yang kau tarik
tegang rasanya di ujung sudut tubuhku
aku ini bukan parasit. pada telapak tangan ibumu
aku wasiatkan waktu. di kaki gunung Ebulobo
senyum itu tak abadi.

Desember, 2014.

Pembunuh Tuhan

surga paling abadi adalah luka yang
terus kita biarkan merana dan menanak
di hati kawula tuhan.

neraka paling suci ada di dalam
tubuh kita.

sesungguhnya,
manusia tidak saja mengenal
dan memelihara tuhan dalam agamanya
namun ia juga adalah pembunuhnya.

Oktober, 2016.

Burung-Burung Liar

nafas yang kau hembus itu
lebih tajam menikam kepalaku
daripada tombak milik para serdadu
yang menikam lambungmu

aku bersimpuh di hadapan para tetua
mempersembahkan sajian pilu
meracik gemercik dengan
menggenggam tasbih
licik merapal tanpa menimpal

dunia ini masih murung
menyaksikan burungburung
yang tak lagi terkurung dalam sangkar
tuannya.

Mataloko, awal Oktober 2016.

Kau Ingin

kau ingin menjumpaiku
tak mungkin
angin menyembunyikanku
di bawah kaki gunung Inerie

kau ingin mendekapku
tak mungkin
sungai telah merebahkanku di ujung muara

kau ingin menciumku
tak mungkin
tanah telah membungkusku
di dalam kanal buatan ayahmu

kau kutinggalkan jejak
biar matamu lebih melek
menatapnya suatu kelak.

Mataloko, 2016.

 

*Yosman Seran, giat menulis puisi, cerpen dan artikel pada media lokal dan media daring. Sekarang menjadi Staf Pengajar Pada Seminari, St Yoh. Berkhmans Todabelu-Mataloko, Bajawa-Ngada, dan  pengelolah komunitas LASTRAWAN (Ladang Sastra Berkhmawan) dan bengkel teater KATA.

Komentar