Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KESEHATAN Puskesmas Limo-Depok Raih ICT Kesehatan Terbaik di IndoHCF Award 2018 30 Apr 2018 19:25

Article image
Kepala UPT Puskesmas Kecamatan Limo, Depok-Jawa Barat, dr. Titin Hardiana, usai menerima award di Jakarta, Kamis (26/4/2018). (Foto: ist)
ICT Kesehatan ini dikembangkan sejak tahun 2017 silam di wilayah pelayanan Puskesmas kecamatan Limo, dan kini telah masuk menjadi proyek wajib di setiap puskesmas Kota Depok.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- UPT Puskesmas Kecamatan Limo, Depok-Jawa Barat meraih penghargaan terbaik untuk kategori inovasi ICT Kesehatan di ajang IndoHCF Innovation Awards 2018 (Indonesia Healthcare Forum) dengan karya Sistem Informasi Pemetaan Profil Lingkungan.

Kepala UPT Puskesmas Kecamatan Limo, Depok-Jawa Barat, dr. Titin Hardiana menjelaskan, ICT Kesehatan ini dikembangkan sejak tahun 2017 silam di wilayah pelayanan Puskesmas kecamatan Limo, dan kini telah masuk menjadi proyek wajib di setiap puskesmas Kota Depok.

Dia menjelaskan, pemetaan profil Kesehatan Lingkungan UPT Puskesmas Kecamatan Limo adalah sistem informasi berbasis Web dan Android yang menggunakan basis data GIS untuk input data sekaligus memetakan data profil kesehatan lingkungan di seluruh wilayah Kecamatan Limo Kota Depok Jawa Barat.

“Jadi semua agen kesehatan kita di Puskesmas Limo dan juga di masyarakat akan terus menginput semua kejadian terkait kesehatan dan kondisi lingkungan melalui aplikasi android, sehingga bisa dilakukan tindakan bila ada hal-hal yang perlu perbaikan,” kata dr. Titin Hardiana di Jakarta, Kamis (26/4/2018).

Dia menambahkan, pihaknya juga mengembangkan inovasi baru berupa aplikasi pengingat bagi pengidap Tuberkulosis (TB). Terobosan tersebut dirancang setelah puskesmas tersebut sukses menciptakan inovasi Sistem Informasi Pemetaan Profil Kesehatan Lingkungan (SIPP KLING) serta Sistem Informasi Posyandu (Sindu).

“Kita ingin memantau penderita TB agar selalu tepat waktu meminum obat. Jadi ada reminder kepada pasien sehingga penyakit ini berkurang dan tidak menular kepada yang lainnya,” ucap dr. Titin Hardiana. Dia menambahkan, aplikasi ini akan segera dirancang. Pasien hanya perlu mengunduh di playstore secara gratis. Pasien pun akan terus diingatkan serta diedukasi melalui aplikasi tersebut.

Inovasi ICT Kesehatan yang juga masuk nominasi menarik adalah aplikasi Si Ali Jadul. Aplikasi ini merupakan inovasi ICT yang diterapkan di RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, berupa sistem pendaftaran online terjadual waktu layanan yang didedikasikan untuk masyarakat pengguna layanan RSUD Budhi Asih agar tidak lagi mengantri sejak subuh dan berdesak-desakan.

"Dengan pendaftaran online, masyarakat tidak perlu antri sampai ke jalan dan terjerat calo pendaftaran. Dan kamipun  dapat mengatur waktu dan hari layanan," ungkap Arbi Iskandar, staf IT RSUD Budhi Asih.

Selain itu Keuntungan lain dari inovasi  ICT Si Ali Jadul adalah tenaga rumah sakit lebih tenang, tidak stres menghadapi banyaknya pasien, hingga difitnah menolak pasien. Dengan inovasi ini, pegawai di RSUD dapat mempersiapkan dokumen rekam medik lebih awal sehingga dapat menghemat biaya dan SDM.

Untuk masyarakat rumah sakit, keuntungannya dalam era JKN, bisa saling share pasien dan jaga mutu layanan dengan menetapkan kuota optimal layanan. “Dengan penyelenggaraan award ini menjadi wadah untuk menciptakan inovasi tentang peningkatan layanan kesehatan sesuai dengan perkembangan era saat ini," ungkap Arbi Iskandar.

Untuk diketahui, IndoHCF Innovation Awards 2018 dibagi dalam lima kategori yakni SPGDT, KIA, GERMAS, ALKES, dan ICT HEALTH. Untuk tahun ini khusus kategori SPGDT, KIA, dan GERMAS  penghargaan diberikan kepada pemerintah daerah yang sudah berupaya melakukan inovasi terhadap 3 program di atas dan sudah langsung ditetapkan pemenang yang akan menerima penghargaan.

Pemenang IndoHCF Innovation Awards 2018 untuk Kategori SPGDT, diberikan kepada pemerintah daerah, yakni Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang memiliki  inovasi program SPGDT dalam membangun jejaring antara Propinsi dengan Kabupaten/Kota di wilayahnya. Kemudian Kota Bandung yang memiliki inovasi jejaring lintas sektoral. Penghargaan juga diberikan untuk Kabupaten Kepulauan Sula, walaupun dengan segala keterbatasan kemampuan daerah yang terdiri atas beberapa kepulauan, ternyata mampu melakukan inovasi dalam proses rujukan antar pulau.

Selanjutnya, Kategori KIA, penghargaan diberikan kepada Pemerintah Daerah Kota Semarang  dengan program GIAT (Gerakan Ibu Anak Sehat) bersama Gasurkes KIA (Petugas Surveilans Kesehatan Ibu Anak) dengan inovasi deteksi dini terhadap permasalahan Kesehatan Ibu dan Anak, yang diharapkan dapat mempercepat penanganan masalah KIA.

Demikian pula Kategori INOVASI GERMAS, penghargaannya diberikan kepada Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta, dengan inovasi gerakan masyarakat melalui optimalisasi Kelurahan Siaga. Penghargaan juga diberikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Utara, dengan inovasi gerakan masyarakat yang multietnis dan lintas sektoral.

Sementara pemenang inovasi Alkes yakni Prof. Dr. Aulanni’am, Drh, DES dari Universitas Brawijaya Malang, dengan karya Biosains Rapid Test GAD65, produk rapid test untuk mendeteksi Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 dan tipe 1,5.

--- Sandy Romualdus

Komentar