Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Putuskan Jerman Tak Ikut Aliansi Serang Suriah, Kanselir Merkel Tuai Kritik 13 Apr 2018 14:39

Article image
Kanselir Jerman Angela Merkel. (Foto: faz.net)
“Sangat disayangkan, Kanselir Jerman menutup kemungkinan untuk terlibat dalam upaya menghancurkan kejahatan rezim al-Assad di Suriah.”

BERLIN, IndonesiaSatu.co Kanselir Jerman Angela Merkel memastikan negaranya tidak akan ikut  ambil bagian dalam aksi militer yang direncanakan beberapa negara Eropa ke Suriah. Dikutip dari laman Frankfurter Allgemeine Zeitung/faz.net, Jumat (13/4/2018), hal itu ditegaskan Merkel dalam keterangannya kepada media di Berlin, Kamis (12/4/2018).

“Jerman pada situasi ini tidak akan terlibat secara militer, namun kami tetap mengamati dan mendukung sepenuhnya, bahwa serangan dengan senjata kimia sungguh tak dapat diterima,” ujar Merkel seperti dikutip dari faz.net, Jumat (13/4/2018).

Keputusan Merkel menuai kritik tajam dari kalangan partai politik negara itu. Pemimpin Partai Liberal Jerman (FDP) menyesalkan ketakmampuan Merkel untuk menempatkan Jerman secara bertanggungjawab bersama negara-negara yang mesti menjadi sekutunya.

“Sangat disayangkan, Kanselir Jerman menutup kemungkinan untuk terlibat bersama mitra-mitra dekatnya memerangi kejahatan dalam serangan senjata kimia rezim Suriah,” ujar Alexander Graf Lambsdorff, Ketua Fraksi FDP di Parlemen Jerman, seperti dilansir faz.net, Jumat (13/4/2018).

Lambsdorff menambahkan, jika Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat (AS) telah memberikan sinyal untuk melakukan aksi militer karena ancaman kemanusiaan mengerikan dan nyata dari Presiden Suriah al-Assad, mestinya Merkel mendukung.

Seperti diberitakan, Inggris berencana melancarkan tindakan balasan terhadap otoritas Suriah yang telah menggunakan senjata kimia pada awal April lalu di kawasan Douma, Suriah. Perdana Menteri Inggris Theresa May diinformasikan telah berbicara dengan Pesiden AS Donald Trump mengenai Suriah dan menyimpulkan bahwa Presiden Suriah Basha al-Assad telah melakukan serangan dengan menggunakan senjata kimia dan mesti dibalas dengan aksi militer.

Selain Inggris, Prancis juga siap melakukan aksi militer untuk menghentikan serangan senjata kimia Suriah. Presiden Emmanuel Macron menyatakan, aksi militer akan menargetkan semua jaringan dan fasilitas kimia rezim al-Assad di Suriah.

Rencana Prancis diumumkan setelah Presiden Macron mengantongi bukti bahwa rezim al-Assad menggunakan chlorine sebagai senjata kimia  dalam serangan ke kota Douma.

--- Rikard Mosa Dhae