Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

GAYA HIDUP Rahasia Panjang Umur Li Ching Yuen, Hidup Hingga 256 Tahun 18 Jan 2018 16:42

Li Ching Yuen. (Foto: ist)
Dari apa yang dijelaskan Li Ching Yuen, Wu Pei-fu cukup yakin bahwa ketenangan batin dan ketenangan pikiran menjadi kombinasi yang pas untuk hidup yang lebih panjang.

MENCAPAI usia panjang hingga lebih dari 80 tahun bagi sebagian besar orang adalah rahmat yang patut disyukuri. Tapi bagaimana kalau ternyata ada manusia yang mampu bertahan hidup lebih dari 200 tahun? Mungkinkah?

Li Ching Yuen, pria asal China mungkin patut dijuluki sebagai manusia dengan usia paling tua, yaitu 256 tahun. Dalam rentang umur yang begitu panjang, Li pernah menikah sebanyak 23 kali dan menjadi ayah bagi 200 anak.

Kisah hidup Li pertama kali ditulis New York Times pada 1930. Disebutkan, Wu Chung-chieh, seorang profesor di Universitas Chengdu, menemukan catatan pemerintah Imperial China dari tahun 1827 yang mengucapkan selamat kepada Li Ching-Yuen pada ulang tahunnya yang ke-150 tahun. Dokumen pun berlanjut sampai muncul ucapan selamat ulang tahun ke-200 pada tahun 1877.

Pada tahun 1928, seorang koresponden New York Times menulis bahwa banyak orangtua di lingkungan Li yang mengatakan bahwa kakek itu memang berusia “banyak”. Sebab, saat ditanya pada orang tua di sekitar rumah Li, mereka mengatakan bahwa Li sudah hidup lama sebelum mereka ada, sebelum orang-orang tua di sana lahir.

 

Siapa Li Ching-Yuen?

Banyak referensi menjelaskan bahwa Li adalah seorang herbalis sejak usia 10 tahun. Di usia itu, dia sudah mulai mengumpulkan ramuan dari tumbuhan di pegunungan dan mengetahui bahwa tanaman itu bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satunya untuk usia panjang.

Selama 40 tahun Li bertahan dengan diet herbalnya, seperti lingzhi, goji beri, ginseng liar, shoo wu, dan gotu kola. Tak ketinggalan, Li juga ternyata rutin mengonsumsi anggur yang terbuat dari beras (rice wine).

Sementara itu, di usianya yang ke-71 pada tahun 1749, Li diketahui pernah menjadi tentara China. Di sana dia diberdayakan sebagai guru bela diri. Li dikenal sebagai tokoh yang sangat dicintai di komunitasnya.

Menurut cerita yang beredar, Li sudah bisa membaca dan menulis sejak kecil dan pada ulang tahunnya yang ke-10, Li telah melakukan perjalanan ke Kansu, Shansi, Tibet, Annam, Siam, dan Manchuria. Perjalanan itu dia dedikasikan hanya untuk menemukan tanaman herbal dan menciptakan obat alternative.

 

Rahasia umur panjang

Saat Li ditanya mengenai rahasia umur panjangnya, dia menjawab santai. ”Hati selalu tenang, duduk seperti kura-kura, berjalan dengan sigap seperti merpati, dan tidur seperti seekor anjing,” kata Li seperti ditirukan Wu Pei-fu, panglima perang China yang pernah bertemu Li.

Dari apa yang dijelaskan Li, Wu Pei-fu cukup yakin bahwa ketenangan batin dan ketenangan pikiran menjadi kombinasi yang pas untuk hidup yang lebih panjang. Tak lupa, teknik pernapasan yang baik juga mendukung tubuh untuk bekerja lebih baik, sehingga usia Anda lebih panjang.

Umur rata-rata manusia di dunia barat berkisar antara 70-85 tahun. Karena itu, kisah Li yang mencapai usia 256 tahun dipandang sebagai hal yang luar dari biasa. Steven Bancarz, pendiri ‘Spirit Science and Metaphysics’ menulis, “Tapi mengapa kita tidak percaya bahwa orang bisa hidup sepanjang ini?”

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan theeventchronicle.com, Bancarz menulis bahwa mencapai usia panjang seperti Li mungkin dengan beberapa argumen. Li tidak hidup pada era di mana orang mengalami stres karena memikirkan utang; mereka tidak menghirup udara kota yang penuh polusi; mereka selalu bergerak. Mereka tidak mengonsumsi gula atau tepung atau makanan yang sudah terkena pestisida. Mereka tidak hidup dengan standar diet orang Amerika.

Mereka tidak makan makanan berlemak, gula, dan makanan dari hasil rekayasa genetik. Mereka tidak mengenal obat antibiotik. Mereka tidak minum alkohol dan tidak merokok. Mereka tidak hanya diet makanan cepat saji tapi juga  mengonsumsi tumbuhan yang berguna buat organ dan sistem imunisasi.

Mereka juga memanfaatkan waktu luang untuk latihan pernapasan dan meditasi yang terbukti bisa memperbaiki kesehatan mental, fisik, dan spiritual. Mereka menghadapi setiap persoalan dengan tenang, berangkat tidur tepat waktu, dan menghabiskan banyak waktu di alam di bawah matahari.  

Ketika kita rileks di bawah sinar matahari, seketika itu juga kita merasa segar. Bayangkan kalau kita menjalani gaya hidup di atas di pegunungan dan mengombinasikan itu dengan mental yang sempurna, spiritual, dan fisik yang baik?

“Saya tidak ragu semenit pun bahwa bila kita semua melakukan hal-hal tersebut di atas, hidup 100 tahun akan menjadi biasa.  Bila kita melatih tubuh kita dengan benar, siapa tahu kita bisa hidup lama?” tulis Bancarz.

--- Simon Leya

Komentar