Breaking News

INSPIRASI Siap Kembangkan DAS Aesesa 28 Jun 2019 22:59

Article image
Dr. Nicolaus Noywuli
Nicolaus dalam ringkasan disertasinya berharap ilmu yang dipelajarinya bisa bermanfaat bagi banyak orang, khususnya masyarakat Ngada dan Nagekeo.

BAJAWA, IndonesiaSatu.co -- Dr. Nicolaus Noywuli, salah satu putra terbaik Ngada dalam studi doktoralnya dengan Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan di Institut Pertanian Bogor (IPB) mengangkat persoalan DAS (Daerah Aliran Sungai) di kawasan Aesesa, Nagekeo, dalam disertasinya. 

Disertasi yang berjudul “Model Kebijakan Pengelolaan Berkelanjutan DAS Aesesa Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur” dan dinyatakan lulus dengan hasil memuaskan oleh para penguji ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar doktor.

Disertasi tersebut dapat diselesaikan berkat bimbingan dan arahan dari komisi pembimbing. Mereka adalah Prof.Dr.Ir. Asep Sapei, M.S., selaku ketua komisi pembimbing; Dr.Ir. Nora Herdiana Pandjaitan, DEA., dan Prof.Dr.Ir. Eriyatno, MSAE., selaku anggota komisi pembimbing.

Nicolaus,seperti dikutip MillennialNews.id sangat mengapresiasi Dr.Ir. Latief Mahir Rachman,M.Sc selaku penguji luar komisi pada ujian tertutup dan pada sidang promosi, Prof.Dr.Ir. Hidayat Pawitan, M.Sc selaku penguji luar komisi pada ujian tertutup, dan Dr.Ir. Ludji Michael Riwu Kaho, M.Si selaku penguji luar komisi pada sidang promosi.

Ucapan terimakasih disampaikan pula kepada pihak-pihak lain yang telah membantu dan berkontribusi dalam penyelesaian penelitian disertasi, terutama kepada Pemerintah Kabupaten Ngada yang telah membiayai penelitian, Ketua dan segenap pengelola Program Studi Doktor PSL IPB yang senantiasa memberikan dorongan untuk menyelesaikan disertasi.

"Bersama ini, dengan penuh rasa syukur dihaturkan limpah terima kasih yang tak terhingga kepada almarhum Ayahanda Antonius Wuli dan Ibunda Katharina Paba, Romo Rofinus Neto Wuli, Pr dan kakak adikku atas segala limpahan kasih sayang serta perhatian yang diberikan. Terkhusus dengan penuh cinta diucapkan syukur dan terima kasih yang tak terhingga kepada istri tercinta dr. Yovita M.B.M. Due,MM, ananda Andro, Ancko, dan Alexo Noywuli yang selalu memberikan dukungan dan doa selama program doktor, kalian adalah penyemangatku untuk segera menyelesaikan studi di IPB. Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa dan Pengasih, atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan sehingga pada akhirnya disertasi dapat diselesaikan," ujar Nicolaus.

Nicolaus dalam ringkasan disertasinya berharap ilmu yang dipelajarinya bisa bermanfaat bagi banyak orang, khususnya masyarakat Ngada dan Nagekeo. Berikut ringkasan disertasi yang diberi judul 'Model Kebijakan Pengelolaan Berkelanjutan DAS Aesesa Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur'.

---

'Model Kebijakan Pengelolaan Berkelanjutan DAS Aesesa Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur'.

Daerah Aliran Sungai (DAS) dipahami sebagai satuan wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alamiah, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Pengertian ini menunjukkan bahwa DAS merupakan suatu wilayah dengan potensi sumber daya alam (SDA) berupa stock dengan ragam kepemilikan yang memiliki sumber interdependensi antar komponen dan antar pelaku di atasnya berupa proses hidrologi yang dapat menghasilkan produk barang dan jasa bagi kesejahteraan manusia. Dengan demikian pengelolaan DAS perlu mendapatkan perhatian dan pemahaman besar mengingat DAS merupakan suatu ekosistem alami yang terdiri dari sumber daya alam dan sumber daya manusia, serta tempat berlangsungnya proses biofisik hidrologis dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang kompleks.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Aesesa Flores (AF) merupakan salah satu dari tiga DAS prioritas di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki peran penting bagi masyarakat Kabupaten Ngada dan Nagekeo; sebagai lumbung pangan NTT dan objek pariwisata Flores. DAS AF memiliki luas 129.005 ha dan panjang 87 km. Berdasarkan fungsi/ciri dan pengelolaannya DAS AF terbagi ke dalam tiga bagian yakni bagian hulu yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Ngada, bagian tengah yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Nagekeo dan sebagian wilayah Kecamatan Wolomeze Kabupaten Ngada, serta bagian hilir yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Nagekeo. Permasalahan utama di wilayah ini adalah buruknya daya dukung DAS yang ditunjukkan dengan banyaknya lahan kritis, perubahan lahan bervegetasi menjadi lahan terbangun, menurunnya ketersediaan air, tingginya angka kemiskinan masyarakat dan tidak optimalnya fungsi kelembagaan pengelolaan DAS AF. Kemudian diperparah lagi dengan tidak adanya kebijakan pengelolaan DAS AF yang komprehensif dan berkelanjutan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendesain model kebijakan pengelolaan berkelanjutan DAS AF Provinsi NTT, yang dicapai dengan (1) menganalisis kondisi daya dukung DAS AF, (2) menganalisis status keberlanjutan pengelolaan DAS AF, (3) menganalisis kelembagaan pengelolaan DAS AF; dan (4) membangun skenario kebijakan pengelolaan berkelanjutan DAS AF.

Penelitian dilakukan sejak Juli 2017 sampai dengan Desember 2018, di tiga bagian (hulu, tengah, hilir) DAS AF Provinsi NTT. Pendekatan bagian digunakan karena karakteristik biofisik dan sosial ekonomi dari ketiga bagian DAS AF memiliki perbedaan yang cukup tinggi seperti ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, tutupan lahan dan kepadatan penduduk. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi antara kualitatif-kuantitatif dengan pendekatan sistem. Data primer dikumpulkan dari responden, pakar dan stakeholders yang termasuk dalam pengelolaan DAS AF dan data sekunder dari intansi terkait dan berbagai publikasi, termasuk peta citra satelit dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Ngada dan Nagekeo. Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan (1) adalah metode deskriptif terhadap 5 kriteria dan 15 sub kriteria berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. 61/2014. Tujuan (2) dijawab dengan menggunakan metode multi dimension scalling (MDS) dengan analisis rapid appraisal (Rap)-DASAF. Tujuan (3) dijawab dengan menggunakan analisis interpretative structural modelling (ISM). Tujuan (4) untuk membangun skenario kebijakan dijawab dengan analisis prospektif. Keempat pendekatan tersebut kemudian disintesis untuk mendesain model kebijakan pengelolaan berkelanjutan DAS AF Provinsi NTT.

Kondisi daya dukung DAS Aesesa Flores yang dikaji dengan 5 kriteria (lahan, tata air, sosial ekonomi dan kelembagaan, investasi bangunan air serta pemanfaatan ruang wilayah) dan 15 sub kriteria, menunjukkan bahwa kondisi daya dukung DAS AF secara umum berada dalam kondisi sedang mengarah ke buruk. Bagian hulu termasuk dalam kondisi buruk dengan nilai 110,50, bagian tengah dan hilir termasuk dalam kondisi sedang dengan nilai masing-masing sebesar 102,75 dan 104,75. Rendahnya kondisi daya dukung DAS AF ini lebih disebabkan oleh kriteria lahan (banyaknya lahan kritis dan rendahnya tutupan lahan/vegetasi) dan kriteria sosial ekonomi dan kelembagaan (rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat dan tidak berfungsinya kelembagaan yang ada). Nilai daya dukung dari masing-masing bagian DAS AF yang besarnya di atas 100, menunjukkan bahwa daya dukung DAS AF perlu segera dipulihkan.

Status keberlanjutan pengelolaan DAS AF yang dikaji terhadap 62 atribut dari 5 dimensi (ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan) termasuk kurang berkelanjutan dengan nilai 48,52. Tingkat keberlanjutan bagian hulu termasuk kurang berkelanjutan dengan nilai 49,13, bagian tengah termasuk cukup berkelanjutan dengan nilai 53,72, dan bagian hilir termasuk kurang berkelanjutan dengan nilai 42,71. Dari 23 atribut atau faktor pengungkit yang diperoleh, yang terpenting adalah atribut teknologi budidaya dan pengolahan bambu. Peningkatan nilai indeks keberlanjutan DAS AF dari masing-masing dimensi dilakukan dengan menjaga kinerja faktor pengungkit yang baik dan melakukan perbaikan terhadap kinerja atribut faktor pengungkit yang buruk dan sedang yang masih memungkinkan untuk ditingkatkan.

Kelembagaan pengelolaan DAS AF yang dianalisis terhadap tiga elemen (aktor, kendala, dan kebutuhan program), menunjukkan bahwa pengelolaan DAS AF yang berkelanjutan masih menghadapi berbagai kendala dan membutuhkan banyak program. Elemen aktor kuncinya adalah BPDAS Benain Noelmina, BWS NT 2, Forum DAS NTT, masyarakat, LSM, dan pemerintah baik provinsi maupun kabupaten.

Skenario kebijakan pengelolaan berkelanjutan DAS AF dianalisis terhadap 22 faktor dominan atau penentu keberlanjutan, dan diperoleh 10 faktor kunci keberlanjutan. Tiga skenario kebijakan (pesimis, moderat dan optimis) disusun berdasarkan formulasi 10 faktor kunci yang bersifat sensitif untuk meningkatkan nilai indeks keberlanjutan pengelolaan DAS AF. Skenario yang paling memungkinkan untuk digunakan adalah skenario moderat.

Kebijakan pengelolaan berkelanjutan DAS dapat dilakukan dengan pendekatan model NICOW yakni P = f (a,b,c,d,e). Model NICOW menyatakan bahwa pengelolaan DAS (P) merupakan hasil interaksi antara faktor: a) kapasitas daya dukung DAS, b) kapasitas organisasi dan koordinasi lembaga/instansi stakeholders terkait, c) motivasi dan kepedulian serta partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan dan pengendalian SDAL, d) Tingkat pendapatan masyarakat, dan e) teknologi budidaya dan pengelolaan.

Kebaruan (novelty) dari penelitian ini adalah model kebijakan pengelolaan berkelanjutan DAS AF yang dihasilkan melalui metode sistem 4.0 yang merupakan kombinasi expert system dengan operational research yakni model Nicow (P = f (a,b,c,d,e)). Pengelolaan DAS berkelanjutan (P) merupakan hasil interaksi atau fungsi dari faktor: a) kapasitas daya dukung, b) koordinasi, intergrasi, sinkronisasi dan sinergisitas, c) partisipasi masyarakat, d) insentif dan pendapatan masyarakat, dan e) teknologi budidaya, pengolahan dan pengendalian sumberdaya alam dan lingkungan. Menampilkan bambu sebagai komoditi keberlanjutan yang berfungsi sosial, ekonomi dan ekologi. Kelembagaan khusus pengelola DAS adalah Badan Koordinasi Pengelolaan DAS (BKPDAS).

Beberapa rekomendasi program dan kegiatan prioritas, terutama terkait dengan pengelolaan berkelanjutan DAS AF meliputi:

  1. Penataan ruang wilayah DAS AF, dan infrastruktur pengelolaan sumberdaya air, melalui: 1) penetapan Perda RTRW DAS AF dan Perda Penyelamatan mata air; 2) pembangunan bangunan penampung air (waduk & embung) dan bangunan irigasi; dan 3) peningkatan jaringan penyediaan air minum.
  2. Peningkatan teknologi budidaya dan pengolahan bambu, melalui: 1) perbaikan pola dan teknologi budidaya, serta perluasan areal tanam; 2) teknik pembuatan bibit vegetatif; 3) diversifikasi produk bambu; 4) pengembangan industri bambu, dan 5) teknologi pengolahan dan pemanfaatan bambu.
  3. Peningkatan kapasitas organisasi dan koordinasi stakeholders dalam pengelolaan DAS AF, melalui: 1) peningkatan KISS antar aktor kunci pengelolaan DAS AF; 2) pembentukan BKPDAS dan atau penambahan bidang atau sub bidang pengelolaan DAS pada OPD Bappelitbangda Ngada, Nagekeo dan NTT; dan 3) pembentukan forum DAS AF atau Forum DAS Flores.
  4. Peningkatan motivasi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS AF, melalui kegiatan: 1) wirausaha tani ternak; 2) diklat mitigasi bencana; dan 3) penyuluhan dan magang pengelolaan SDAL.
  5. Peningkatan pendapatan masyarakat, melalui kegiatan pertanian terpadu, agribisnis, ekowisata, dan agroforestri.

Sebagian dari disertasinya telah dipublikasikan di beberapa media ilmiah internasional dan nasional, yakni:

  1. Sustainability assessment on watershed management in the Aesesa Flores Watershed, East Nusa Tenggara Province of Indonesia. Journal of Sustainability Science and Management (JSSM)-Malaysia Vol. 13 No. 2 (2018)
  2. Model kelembagaan pengelolaan berkelanjutan DAS Aesesa Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmu Lingkungan UNDIP Vol.16, No. 2 (2018)
  3. Assesment of watershed carrying capacity for the Aesesa Flores Watershed Management, East Nusa Tenggara Province of Indonesia. Environment and Natural Resources Journal (ENRJ) – Thailand. Vol. 17 No. 2 (2019)
  4. Pengembangan Budidaya Bambu untuk Pengelolaan Berkelanjutan DAS Aesesa Flores. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) IPB Vol. 9, No. 4 (1019)
  5. Dinamika sosial ekonomi dan kelembagaan dalam pengelolaan terpadu dan berkelanjutan DAS Aesesa Flores Provinsi NTT. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Secara Terpadu 2017. LPPM Universitas Riau. Pekanbaru
  6. Prasyarat penyusunan kebijakan pengelolaan terpadu dan berkelanjutan DAS Aesesa Flores Propinsi NTT. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Secara Terpadu 2017. LPPM Universitas Riau. Pekanbaru.

Selanjutnya tantangan dan peluang besar ada di hadapan Nicolaus. Ia mengatakan, sekembalinya ke Bajawa dan dengan statusnya sebagai ASN yang bekerja di bawah aturan dan arahan pimpinan, ia tidak akan melupakan tanggung jawab besar mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari, yakni mengembangkan DAS AF dan mensejahtarekan masyarakat di wilayah tersebut.

--- Sandy Romualdus

Komentar