Breaking News

INTERNASIONAL Raksasa dari Afrika Telah Tumbang 06 Sep 2019 18:05

Article image
Presiden Zimbabwe dan sekaligus tokoh besar Benua Afrika, Robert Mugabe. (Foto: Huron Daily Tribune)
Setelah kejatuhannya, Mugabe diberikan status kehormatan sebagai bapak negara dan oleh pemerintah.

PRESIDEN legendaris Zimbabwe dan sekaligus tokoh besar Benua Afrika, Robert Mugabe menghembuskan nafasnya yang terakhir di pada Jumat (6/9/2019) di Singapura.

Pemimpin berusia 95 tahun tersebut pergi meninggalkan banyak kenangan. Orang yang pada awalnya dianggap sebagai malaikat penyelamat ternyata berubah menjadi seorang pembunuh yang kejam. Bagaimanapun, dunia, utama Zimbabwe akan tetap mengenangnya sebagai simbol perjuangan kebebasan.

Nelson Chamisa, pemimpin partai oposisi utama di Zimbabwe, Movement for Democratic Change, mengatakan: “A giant has fallen (Seorang raksasa sudah tumbang).”

“Sekalipun (kami) memiliki perbedaan politik yang besar dengan mantan presiden, kami mengakui kontribusinya yang besar terhadap perjuangan kebebasan,” tulis Chamisa di akun Twitternya seperti dikutip The Guardian.

Dalam beberapa dekade  semenjak Zimbabwe meraih kemerdekaan dari Inggris pada 1980, kekuasaan terkonsentrasi di tangan Mugabe. Sebelum Mnangagwa mengambil alih kekuasaan, seluruh generasi warga Zimbabwe tidak mengenal pemimpin lain.

Setelah kejatuhannya, Mugabe diberikan status kehormatan sebagai bapak negara dan oleh pemerintah. Gelar tersebut tentu saja membuat para penentangnya marah dan mengecewakan banyak korban  rejimnya.

Frustrasi dan rasa terhina atas penggulingan dirinya tampak jelas dari nada suaranya dalam sebuah keterangan pers di rumah pribadinya di Harare, ibukota Zimbabwe, beberapa hari sebelum pemilihan umum pada Juli 2018.

Didampingi istrinya, Mugabe, mengatakan akan memilih MDC, partai oposisi yang pernah ditindasnya secara brutal pada 2008 untuk membentuk sebuah pemerintahan bersatu yang masih di bawah kendalinya.

Menamatkan pendidikan di sekolah misionaris Katolik, Mugabe menjadi guru di Ghana kemudian kembali ke Rhodesia pada 1960 untuk berjuang melawan kaum minoritas putih yang berkuasa.

Dia kemudian dipenjarakan selama 10 tahun dan terbang ke negara tetangga Mozambique, di mana dia menjadi salah seorang pemimpin gerilya yang berperang melawan rezim Ian Smith.

Pada akhirnya kebebasan menang dan Mugabe berjanji untuk merangkul warga kulit putih. Dia memimpin negara melewati periode keemasan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan pendidikan yang membuat iri seluruh Afrika.

Komunitas internasional tutup mata terhadap pelanggaran hak asasi manusia, terutama yang terjadi pada 1980-an di mana terjadi pembersihan etnis yang menewaskan sedikitnya 20.000 orang di Provinsi Matabeleland untuk menghancurkan perlawanan rival politiknya Joshua Nkomo, pemimpin Zapu.

Perlawanan terhadap Mugabe bangkit pada 1999 berbarengan dengan keguncangan ekonomi dan serikat dagang yang diorganisir seputar Movement for Democratic Change.

Mugabe mulai curang dalam pemilihan umum dan mulai menjalankan program land reform di mana para petani kulit putih dipaksa untuk menyerahkan tanahnya dan memberi jalan kepada para kroninya dari Partai Zanu-PF atau warga Zimbabwe kulit hitam yang tidak memiliki keahlian dan modal untuk bertani.

Hal ini yang menyebabkan kekacauan ekonomi, Zimbabwe tidak bisa lagi mengimpor makanan dari luar negeri untuk menghindari kelaparan. Hiper-inflasi menyebankan kekacauah dan rak-rak supermarket kosong. Sistem pendidikan dan kesehatan hancur.

Iklim politik berkembang menjadi permusuhan, para aktivis dan wartawan ditangkap, dipenjarakan, atau dibunuh. Lebih dari 200 orang tewas akibat kekerasan politik pada pemilu 2008.

John Makumbe, seorang profesor politik dari University of Zimbabwe, mengatakan: “Dia akan diingat sebagai seorang penjahat. Warisannya dirusak oleh peninggalannya, kekerasannya, pemaksaan sekutu politiknya dan rivalnya.

“Robert Mugabe selalu memiliki benih pemerintahan yang buruk, kekejaman, egoisme: ‘Hanya saya yang mempersoalkan.’ Dia datang pada 1980 dan mendonorkan darah; Mugabe tampak seperti malaikat, dia mewarnai orang-orang di sekelilingnya. Tetapi  jelang tahun 2000 mencurangi pemilu dan omong kosong.

“Bunglon memiliki warnanya sendiri: ketika dia takut, akan tampak warnanya aslinya yang ternyata jelek. Dia menunjukkan warnanya yang asli. Warna aslinya adalah seorang pembunuh. Dia membunuh para musuhnya.”

 

--- Simon Leya

Komentar