Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

REFLEKSI Rasa Syukur: Detoksifikasi Mental 02 Mar 2017 11:17

Article image
Rasa syukur bisa menjadikan hidup kita lebih baik dan "penuh". (Foto: Ist)
Berbagai pandangan dan pikiran yang negatif dapat menumbuhkan rasa gelisah, cemas dan pesimis menatap kehidupan.

Oleh Valens Daki-Soo

 

RASA syukur adalah vitamin utama jiwa. Di tengah maraknya berbagai warta negatif dan pandangan keruh yang dapat menjadi alasan bagi kita untuk merasa tertekan atau resah, rasa syukur adalah penangkal yang tepat.

Entah dalam obrolan yang cenderung beraroma gosip ataupun membaca berbagai pandangan yang cenderung buruk di medsos misalnya, kerapkali kita meracuni diri secara mental dan spiritual.

Itu sebabnya kita butuh pengeluaran racun atau detoksifikasi secara mental.

Soalnya, berbagai pandangan dan pikiran yang negatif dapat menumbuhkan rasa gelisah, cemas dan pesimis menatap kehidupan. Apalagi jika Anda membaca atau mendengar ujaran orang yang penuh energi kemarahan, kebencian, provokasi konflik, dan permusuhan.

Dari pengalaman sendiri, memperbesar dan memperbanyak rasa syukur adalah salah satu cara yang efektif.

Cheryl Richardson menulis, "Hitunglah segala berkat yang Anda terima. Hati yang penuh syukur menarik semakin banyak kegembiraan, cinta dan kesejahteraan."

Kebiasaan bersyukur dapat mengubah kehidupan. Rasa syukur bisa menjadikan hidup kita lebih baik dan "penuh".

Mungkin Anda sedang menyesali hidup? Atau pernahkah Anda meratapi nasib?

Saya bukanlah guru, tapi kali ini saya minta tolong ambil pena -- oh ya, atau menulis pakai jempol di HP Anda -- lalu tulislah apapun yang Anda terima dan alami sebagai berkat Tuhan, anugerah kehidupan.

Tulislah apa saja yang bikin Anda senang, haru, bangga, merasa nyaman, menghidupkan memori manis, memicu rasa sukacita, bikin oke, memberi harapan, berpikir 'Wah, hidup ini luar biasa!', atau 'Wow, begitu berat saat itu, tapi saya sanggup lewati!', atau 'Ah, Tuhan begitu baik, saya bisa bertahan dan selamat...'

Bahkan hal-hal kecil seperti ini pun bisa menjadi cara detoksifikasi mental: merasakan bilah sinar mentari pagi mengecup kaca jendela, mendengar tawa anak kecil, menyaksikan cerianya bunga di taman menyapa Anda, mengecap rasa teh jasmin yang menyegarkan, menikmati musik klasik yang menenangkan, mendapat ucapan sederhana yang meneguhkan di WA Anda.

Segala hal yang baik dan indah -- bahkan juga pengalaman ujian dan tantangan pun -- bisa menjadi alasan bagi kita untuk tetap bersyukur dan meyakini bahwa kehidupan patut dirayakan.

Semakin banyak rasa syukur menggenangi hati, semakin Anda merasa hidup ini dipenuhi kebaikan dan kelimpahan Daya Ilahi.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, pemerhati politik dan militer, Chairman PT VDS, Pendiri & Pemred IndonesiaSatu.co

Komentar