Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

INTERNASIONAL Redakan Ketegangan di Semenanjung Korea, Rusia Siap Jadi Mediator AS-Korut 27 Dec 2017 15:09

Article image
Ilustrasi ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara. (Foto: getty images)
Menlu Ravrov: Dunia memerlukan langkah cepat dan konsisten menuju proses negosiasi dan pembicaraan mengenai sanksi terhadap Korut.

MOSKOW, IndonesiaSatu.co – Pemerintah Rusia menyatakan kesediaan untuk menjadi mediator antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut). Seperti dilansir Welt.de, Rabu (27/12/2017), otoritas di Kremlin mengakui telah mengajak kedua pihak untuk bernegosiasi untuk mengurangi ketegangan hubungan kedua negara terkait program nuklir Korut.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, sikap dan kesiapan Rusia untuk menjadi mediator tidak perlu diragukan.

"Kesiapan Rusia untuk membuka jalan baru demi meredakan ketegangan sangat jelas dan tak perlu diragukan," ungkap Peskov seperti dikutip dari Welt.de, Rabu (27/12/2017).

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov diberitakan telah berkomunikasi melalui sambungan telefon dengan otoritas di Washington dan Pyongyang. Ia menyampaikan pesan Presiden Putin terkait kesiapan Rusia untuk menjadi fasilitator bagi AS dan Korut.

Lavrov juga mengatakan, pola retorika agresif yang diperlihatkan oleh AS terhadp Korut, termasuk menghadirkan kekuatan militernya di Semenanjung Korea, sulit diterima dan meningkatkan tensi politik dan keamanan di wilayah tersebut.

"Dunia memerlukan langkah cepat dan konsisten menuju proses negosiasi dan pembicaraan mengenai sanksi terhadap Korut," ujar Lavrov.

Sementara itu, meski Amerika Serikat secara retorik mengklaim lebih mengutamakan solusi diplomatik, Presiden Trump tetap bersikeras agar Korut menghentikan program nuklir dan menyerahkan senjata nuklir yang telah diproduksi sebagai syarat utama negosiasi.

--- Rikard Mosa Dhae