Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

HUKUM Rencana Bawaslu Panggil Prabowo Subianto Dikritik DPP Gerindra 13 Jan 2018 15:16

Article image
Prabowo Subianto dan La Nyalla akan dipanggil Bawaslu terkait tuduhan adanya praktik mahar. (Foto: Ist)
Habiburokhman menilai apa yang dikatakan La Nyalla tidak berdasar. Terlebih, ucap dia, La Nyalla tidak memiliki bukti dan hanya menyatakan berani sumpah pocong.

JAKARTA, IndonesiaSatu.coKetua DPP Partai Gerakan Indonesia Raya Bidang Hukum Habiburokhman mengomentari niat Badan Pengawas Pemilu memanggil Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto terkait pernyataan mantan Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, La Nyalla Mahmud Mattalitti.

"Terlalu jauh itu, apa dasarnya pemanggilan Pak Prabowo," kata Habiburokhman dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, {13/1/2018).

"Itu sensitif sekali kalau sentuh-sentuh nama Pak Prabowo," ungkapnya.

Habiburokhman menilai apa yang dikatakan La Nyalla tidak berdasar. Terlebih, ucap dia, La Nyalla tidak memiliki bukti dan hanya menyatakan berani sumpah pocong.

"Masak, Bawaslu mau menindaklanjuti sumpah pocong? Bawaslu harus bekerja secara profesional. Minimal ada alat bukti," ujar pelapor kasus penistaan Surat Al-Maidah ini.

Sebagaimana diberitakan, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menegaskan akan menyelidiki dugaan mahar politik di Jawa Timur yang melibatkan La Nyalla Mattalitti dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Bahkan, keduanya akan segera dipanggil Bawaslu Jatim.

"Masalah Pak La Nyalla ini perlu diklarifikasi dan Bawaslu Jatim sudah melayangkan surat pemanggilan ke La Nyalla, Pak La Nyalla akan diklarifikasi," ujar anggota Bawaslu RI Rahmat Bagja dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/1/2018).

Bawaslu RI merencanakan pemeriksaan terhadap Ketum Gerindra Prabowo Subianto soal tudingan mahar politik di Pilgub Jatim yang dilemparkan La Nyalla Mattalitti.

"Jangan sampai ini kabar burung diembuskan. Kami sepertinya akan panggil Pak Prabowo untuk menjelaskan supaya terang. Jadi clear nanti, apakah jelas ada mahar atau tidak," ucap anggota Bawaslu RI Rahmat.

"Bawaslu ini kan aparat penegak hukum juga karena ada kewenangan penegak hukum, dia harus bekerja pure profesional berdasarkan bukti yang ada. Jadi jangan masuk ranah bahaya," ujar Habiburokhman di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/1/2018).

"Ini bukan Habiburokhman ketua DPP Partai Gerindra, Habiburokhman pendukung Prabowo. Kalau sudah konteks pendukung Prabowo, saya pikir ini bisa repot. Ini sensitif sekali kalau sentuh-sentuh nama Pak Prabowo," imbuhnya.

Terkait mahar politik ini, Bawaslu mengatakan ini diatur dalam UU Pilkada No 10 Tahun 2016 Pasal 47 ayat 3. Jika terbukti, sanksi tegas menanti yang terlibat. 

"Kalau ada masuk pengadilan sudah inkrah, maka paslon didiskualifikasi dan partai bersangkutan dilarang ikut dalam pilkada selanjutnya. Ini catatan kepada para parpol," pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan, setelah tidak dipilih sebagai cagub di Pilgub Jatim 2018, La Nyalla Mattalitti mengungkapkan kekecewaannya kepada Partai Gerindra dan Ketumnya Prabowo Subianto.

Kekecewaan ini disampaikan La Nyalla dalam konferensi pers di Restoran Mbok Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2017).

La Nyalla mengaku dirinya tidak diusung Partai Gerindra karena dinilai tidak dapat membayar mahar yang telah ditentukan. Dia mengaku pertama kali dimintai duit untuk uang saksi pada 9 Desember 2017 lalu. Namun, La Nyalla tak merinci uang saksi ini untuk ajang pesta demokrasi yang mana.

"Ada saat tanggal 9 itu yang ditanyakan uang saksi. Kalau siapkan uang saksi, saya direkom tapi kalau uang saksi dari 68.000 TPS dikali Rp 200.000 per orang dikali 2 berarti Rp 400.000. Itu sekitar Rp 28 miliar. Tapi, yang diminta itu Rp 48 miliar dan harus diserahkan sebelum tanggal 20 Desember 2017. Nggak sanggup saya,ini namanya saya beli rekom, saya nggak mau," ujar La Nyalla.

--- Redem Kono

Komentar