Breaking News
  • Bengkulu inisiasi koridor gajah di bentang Kerinci Seblat
  • Gubernur Sumbar pecahkan rekor MURI pantun terbanyak
  • Ibrahimovic teken kontrak baru di MU pekan ini
  • Kanselir Jerman kritik Turki telah selewengkan fungsi Interpol
  • PSG menang 6-2 atas Toulouse, Neymar cetak dua gol

TAJUK Retour a la Nature, Kembali ke Alam! 12 Jun 2017 08:35

Article image
Alam menyediakan bagi manusia pendidikan moral. (Foto: Ist)
Berilmu tidak berarti bermoral, tetapi sikap moralitas yang baik dapat mengantar orang cakap berilmu.

PADA 1749, sebuah sayembara menulis berhadiah dengan pertanyaan menantang menghiasi koran-koran Prancis. Pertanyaan sayembara itu berbunyi: Apakah kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan memberikan pengaruh positif bagi perkembangan moralitas? Dapatkah perkembangan ilmu pengetahuan memberikan sumbangan bagi perdamaian di dunia? Pertanyaan ini dapat saya singkat: apakah semakin kita berilmu semakin kita memiliki pakansi moral?

Seorang pemuda bernama Jean Jacques Rousseau, yang kebetulan membaca koran Mercure de France tertegun dan mendapatkan inspirasi. “Ketika membaca sayembara ini, saya benar-benar menemukan dunia sesungguhnya dan menjadi manusia baru,” kata Rousseau (Magnis: 1991, 78). Rousseau mengalami, katakanlah, “pertobatan akademis” dari pandangan-pandangannya masyarakat kebanyakan saat itu. Ia serta merta menjawab lugas: kemajuan ilmu pengatahuan tidak justru dibarengi dengan penurunan atau anti klimaks dari moralitas!

Untuk membaca kritik Rousseau terhadap ilmu pengetahuan, baiklah kita kembali pada latar belakang historis saat itu. Zaman ketika Rousseau dilahirkan ditandai dengan masa puncak transformasi kebudayaan dunia yakni masyarakat modern. Dunia mengalami proses modernisasi di pelbagai dimensi. Masyarakat modern ditandai dengan industrialisasi, terbukanya komunikasi, teknologisasi kehidupan. Semuanya dikembangkan oleh prosedur-prosedur ilmiah dari ilmu pengetahuan. Inilah zaman fajar budi (aufklarung), di mana manusia memiliki kesadaran akan dirinya sendiri.

Perkembangan ilmu pengetahuan mengoperasikan masyarakat modern menyebabkan munculnya kapitalisme, subjektivitas manusia dan rasionalisme. Kapitalisme dalam dunia modern berbicara tentang penguasaan modal. Orang bekerja mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan sistem ekonomi prakapitalis, sistem ekonomi kapitalis berusaha memperluas produksi dan menguasai pasaran.

Aspek subjektivitas modern menempatkan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang sadar akan dirinya sendiri, di mana ia dapat mengambil jarak dari dirinya secara kritis dalam melakukan refleksi dan tindakan antisipatif. Ada pergeseran dari pandangan yang kosmosentris dan theosentris ke rasionalitas zaman pencerahan. Namun, zaman itu juga berlaku rasionalisme di mana ada tuntutan bahwa semua pendapat, klaim harus dipertanggungjawabkan secara rasional (putusan akal budi).

Justru dari tiga kapitalisme, subjektivitas, dan rasioalisme inilah yang menjadi objek kritik dari Rousseau. Menurutnya, keyakinan zaman fajar budi bahwa manusia akan mengalami perkembangan sekaligus antara rasionalitas dan kesempurnaan moral tidaklah benar. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak membawa kemajuan moral, bahkan sebaliknya!

Rousseau menjadi titik balik gerakan Aufklarung, di mana ia menanggalkan semangat optimisme zaman pencerahan. Kemajuan akal budi dan penelitian epistemik justru mengasingkan manusia dari kemampuan-kemampuan naturalnya sendiri. Maka, Rousseau muncullah seruannya yang terkenal: retour a la nature, kembali ke alam! Apa maksudnya?

Perkembangan akal budi dan ilmu pengetahuan dalam dunia modern, demikian Rousseau, justru gerak mundur bagi kebudayaan manusia. Manusia terasing dari kemampuan alaminya, karena determinasi ilmu pengetahuan modern. Pada awalnya manusia memiliki orisinalitas atau otentisitas manusia pada masa kecilnya ketika belum dibenamkan dalam struktur-struktur sosial.

Dalam situasi alamiah ini, manusia hidup secara otonom dan bahagia, cinta pada dirinya sendiri (amour propre), dan berbuat baik pada orang lain. Namun, kapitalisme, pengunggulan subjektivitas manusia, dan rasionalisme dengan mekanisme rasionalitas dan prosedur ilmu pengetahuan menggerus keadaan alamiah manusia. Kemajuan peradaban modern, demikian kata Rousseau secara getir, menghilangkan kemampuan-kemampuan khas manusia.

Dalam konteks Negara inilah, Rousseau menulis tentang pentingnya pendidikan dalam bukunya Emile. Pendidikan harus mengembalikan manusia pada keadaan awalnya. Pendidikan mengembangkan manusia untuk berkembang sesuai dengan dorongan-dorongan alamiahnya. Pendidikan harus mendidik manusia untuk jujur dan cinta dengan dirinya sendiri, berkembang dengan dirinya sendiri. Pendidikan bukan mendoktrinasi, tetapi memberikan kepada setiap orang berkembang sesuai dengan iramanya sendiri. Pendidikan dalam tatanan Negara republik mengondisikan para muridnya untuk mengeluarkan potensi-potensi khasnya.

Dalam dan melalui pemikiran ini, Rousseau menjadi penting karena menjadi satu pemikir awal yang melawan masyarakat modern. Seruannya untuk kembali ke alam, menyadarkan ilmu pengetahuan akan potensi degradasi moral dari perkembangannya yang pesat di zaman globalisasi. Ilmu pengetahuan tidak bebas dari kepentingan; tidak bebas nilai kalau dimanipulasi dengan kepentingan-kepentingan. Kebenaran ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk kepentingan individu ataupun kelompok, yang jauh dari kontribusi emansipatoris masyarakat.

Dari tantangan Rousseau kepada ilmu pengetahuan kita belajar satu hikmah: ilmu pengetahuan harus diingatkan secara terus-menerus akan potensi pengekangan kebebasan manusia. Berilmu tidak berarti bermoral, tetapi sikap moralitas yang baik dapat mengantar orang cakap berilmu.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar