Breaking News

BERITA Ribuan Pekerja Migran Indonesia Dideportasi di Sabah Malaysia, KBMB Indonesia: Atas Nama HAM, Negara Hadirlah! 31 Aug 2021 19:46

Article image
Ilustrasi pekerja migran Indonesia. (Foto: Ist)
Akibatnya, mereka tidak hanya menderita secara fisik tetapi juga mengalami gangguan kesehatan mental.

MAKASSAR, IndonesiaSatu.co-- Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB)Indonesia mengecam aksi represi dan penangkapan terhadap ribuan Buruh Migran Indonesia dan Filipina di Sabah, Malaysia.

Dalam rilis yang diterima media ini, Selasa (31/8/2021), KBMB menerangkan bahwa ribuan buruh migran beserta keluarganya kembali mengalami teror dan ketakutan karena operasi penangkapan yang membuat mereka harus
bersembunyi di hutan-hutan sawit pada malam hari.

"Kami melakukan penelusuran tentang situasi pekerja migran di Sabah dan melakukan wawancara terhadap sejumlah pekerja migran sepanjang Agustus 2021, terkait berbagai operasi penangkapan dan kluster Covid-19 di beberapa pusat tahanan imigrasi di Sabah," demikian bunyi penyataan KBMB.

Dijelaskan, gelombang razia terhadap migran tak berdokumen berlangsung sejak awal Pandemi Covid-19; seperti operasi tengah malam pada tanggal 4 dan 5 Agustus 2021.

"Jawatan Imigrasi Malaysia (JIM) Sabah menangkap 155 pekerja migran bersama keluarganya, 67 di antaranya perempuan dan 39 anak-anak. Sepanjang 2020, sebanyak 12,877 migran tak berdokumen asal Indonesia dan Filipina telah ditangkap dan ditahan di pusat tahanan imigrasi," terang KBMB.

Dalam seluruh operasi penangkapan tersebut, Otoritas Sabah telah mengerahkan 3,493 petugas, 10 kapal laut, dan 54 kapal boat kecil.

"Padahal, sepanjang dua tahun pandemi, ribuan buruh migran yang berdokumen sekalipun, terpaksa menjadi tidak berdokumen. Hal itu karena izin kerja mereka yang
gagal diperbaharui akibat kantor-kantor imigrasi yang seringkali tutup di masa
pandemi," lanjut KBMB.

Meski demikian, JIM Sabah semakin gencar melakukan berbagai operasi penangkapan ribuan buruh migran tak berdokumen dengan dalil untuk mengendalikan penularan Covid-19.

Berdasarkan laporan Tim pencari Fakta Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB) Indonesia tentang Kondisi migran Indonesia yang dideportasi selama masa Covid-19 dari Sabah-Malaysia ke Indonesia, tinggal berdesak-desakan di fasilitas penahanan sehingga sebagian tahanan yang merupakan perempuan, anak anak dan lanjut usia (lansia)
rentan terpapar Covid-19. Akibatnya, mereka tidak hanya menderita secara fisik tetapi juga mengalami gangguan kesehatan mental.

Dikatakan, situasi tersebut diperparah dengan fasilitas penahanan yang tidak inklusif dan ramah terhadap perempuan.

Seorang pekerja perempuan, Ergusem, yang dideportasi menuturkan bahwa saat berada di penampungan ketika wabah Corona tengah meningkat, setiap hari migran disiram air beralkohol (disinfektan).

"Kami disemprot di seluruh badan dengan tekanan yang
kencang.Pakaian yang basah tidak boleh diganti hingga kering di badan dengan alasan agar segala kuman mati. Kami sering merasa pusing setelah disiram,” tutur Ergusem.

Hal senada diungkapkan Thomas, salah satu pekerja di Perkebunan Sawit Sabah.

“Kami masih kerja seperti biasa, namun malam hari kami harus bertapo (bersembunyi, red). Kerja terus, tapi razia pun jalan terus. Kalau kami kena tangkap, siapa yang bisa bekerja di ladang sawit ini? Perusahaan pasti akan bangkrut," ujar Thomas.

Menurut penelusuran KBMB, berbagai operasi penangkapan tidak berhasil menurunkan angka penularan Covid-19. Sebaliknya, muncul berbagai kluster penularan Covid-19 di sejumlah pusat tahanan imigrasi atau Pusat Tahanan Sementara (PTS).

Dari data yang dikompilasi melalui Newslab, per 10 Agustus
2021, setidaknya telah terjadi 14 klaster penularan Covid di PTS Sabah dengan angka 6.518 kasus, 1.431 diantaranya masih dalam perawatan.

"Semakin sering razia, hanya akan menciptakan lebih banyak kluster pusat tahanan sementara, seperti yang terjadi berulang kali di Sabah. Cara tersebut
justru berlawanan dengan usaha untuk mengendalikan penyebaran virus Covid-19. JIM Sabah harus segera menghentikan segala bentuk operasi penangkapan migran tak berdokumen. Ini bentuk tindakan keji, merendahkan kemanusiaan, dan serangan terhadap orang-orang yang selama ini termarjinalkan yang justru paling membutuhkan bantuan di kala pandemi," seru KBMB.

Seruan KBMB Indonesia

Terhadap kenyataan yang menimpa para buruh migran sebagai pahlawan devisa di perusahaan perkebunan Sawit seluas 1,5 juta hektare, dan atas nama solidaritas kemanusiaan terhadap Hak asasi pekerja migran, KBMB dengan tegas mendesak Otoritas Sabah agar;

Pertama, menghentikan segala bentuk operasi penangkapan terhadap migran yang tidak berdokumen, termasuk anak-anak, perempuan dan orang tua.

Kedua, mempercepat dan memperluas pelaksanaan vaksinasi bagi migran tanpa syarat administrasi dan dokumen keimigrasian.

Ketiga, mempercepat dan menyederhanakan proses administrasi deportasi untuk menghindari penahanan berkepanjangan sehingga pusat tahanan sementara
bagi para migran di Sabah tidak semakin padat dan penuh sesak.

Keempat, menyediakan layanan keimigrasian yang lebih mudah diakses, cepat, murah dan aman bagi buruh migran.

Kelima, menjalankan program pengampunan bagi buruh migran tak berdokumen, termasuk mengadopsi program kalibrasi federal (federal recalibration programme).

Keenam, mengutamakan tanggung jawab penghormatan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi buruh migran, termasuk hak atas kesehatan, dibanding pendekatan represi.

Sebagai rujukan, KBMB juga melampirkan Suara testimoni pekerja migran:
https://bit.ly/KBMB_Testi
https://bit.ly/KMBM_Testi2
https://bit.ly/KMBM_Testi3

 

--- Guche Montero

Komentar