Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

LINGKUNGAN HIDUP Ribuan Tahun Lalu Gurun Sahara Hijau dan Subur? 10 Jan 2018 12:12

Article image
Gunung Sahara tertutup salju setelah 40 cm. (Foto: The Sun)
Ada ahli yang berpendapat bahwa Gurun Sahara pada 10 ribu tahun yang lalu adalah tanah hijau nan subur. Lalu bagaimana ceritanya tempat tersebut kini menjadi gurun pasir?

FENOMENA alam langka kembali terjadi di Gurun Sahara. Di salah satu tempat dengan temperature terpanas di muka bumi itu, salju turun selama kira-kira 30 menit pada Minggu (7/1/2018). Tebal salju sebagaimana dilaporkan  Reuters, Rabu (10/1/2018) mencapai 45 cm.  

Peristiwa langka itu terjadi pada Minggu (7/1) lalu. Salju menutup sebagian Gurun Sahara yang lokasinya di Ain Sefra, Algeria, yang merupakan salah satu pintu gerbang memasuki Gurun Sahara. 

Ini merupakan yang ketiga kalinya terjadi di gurun yang membentang dari Samudera Atlantik hingga Laut Merah itu. Fenomena Gurun Sahara tertutup salju pertama kali terjadi pada 18 Februari 1979 atau sekitar 38 silam. Saat itu salju turun tiba-tiba selama kira-kira 30 menit. Pada 19 Desember 2016 salju turun kembali turun. 

Orang mungkin berangan-angan agar salju lebih sering turun di Gurun Sahara agar tempat tersebut kembali hijau dan subur sebagaimana yang terjadi beberapa ribu tahun silam.

Ada ahli yang berpendapat bahwa Gurun Sahara pada 10 ribu tahun yang lalu adalah tanah hijau nan subur. Lalu bagaimana ceritanya tempat tersebut kini menjadi gurun pasir?

David Wright, seorang arkeolog lingkungan di Seoul National University, mengatakan bahwa ketika manusia menyebar ke wilayah barat Sungai Nil pada 8.000 tahun yang lalu, mereka membawa domba, sapi, dan kambing.

Binatang ternak itulah yang memangkas habis dan menghancurkan vegetasi asli di Sahara. Aktivitas binatang ternak itu telah mengubah lanskap dan iklim lokal hingga menjadi gurun seperti yang kita lihat sekarang.

"Kambing adalah tersangka utamanya. Saya bahkan pernah melihat seekor kambing makan batu bata. Mereka adalah binatang ternak yang tidak pilih-pilih soal makan. Mereka makan lebih banyak dari ukuran tubuhnya," kata Wright, sebagaimana dikutip Dream dari wittyfeed.com, Kamis 23 Maret 2017.

Kawanan kambing dan binatang lainnya telah membuat tanah yang sebelumnya tersembunyi oleh tebalnya vegetasi terpapar ke permukaan dengan konsekuensi iklim lokal menjadi berubah.

Selain itu, tanah dan pasir berwarna kecokelatan akan memantulkan cahaya matahari yang mengandung energi kembali ke atmosfer.

Hal ini akan membuat atmosfer menjadi panas. Di wilayah tropis, atmosfer yang panas cenderung sulit membentuk awan dibandingkan atmosfer yang dingin. Sedikit awan berarti sedikit hujan. Itulah yang terjadi di Sahara.

Sebelumnya, ilmuwan hanya tahu bahwa Gurun Sahara terbentuk karena pengaruh perubahan orbit Bumi yang mengurangi sinar Matahari di daerah tropis. Hal itu menyebabkan curah hujan berhenti.

Perpindahan penduduk juga menyebabkan wilayah Sahara mencapai titik kritis. Sebab, ke mana pun manusia pergi, selalu meninggalkan bekas berupa semak belukar.

Wright percaya bahwa penggembalaan berlebihan telah menyebabkan kekeringan di Sahara. Kekeringan tersebut menghambat pertumbuhan vegetasi yang pada gilirannya mengubah lanskap Sahara.

Hal itu semakin memperburuk kekeringan, yang akhirnya menciptakan gurun yang panas, kering, berdebu kira-kira seukuran Amerika Serikat.

Namun, benarkah teori yang dipaparkan oleh Wright tersebut? Ternyata gagasan Wright tentang Sahara yang provokatif itu tidak didukung oleh ilmuwan lainnya.

Beberapa peneliti meragukan penjelasan Wright tersebut, termasuk pakar iklim dan Direktur Eksekutif California Academy of Sciences, Jon Foley.

" Hilangnya vegetasi di seluruh Sahara dipicu oleh perubahan orbit Bumi. Tanaman menyerap kelembaban dari tanah dan mengeluarkannya melalui daun, sehingga menguap ke atmosfer. Ketika vegetasi menghilang, atmosfer kehilangan sumber utama air, yang memperburuk kekeringan," jelas Foley.

--- Simon Leya

Komentar