Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

SASTRA Rindu di Kaki Sasa 15 Sep 2016 16:25

Article image
Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Todabelu, Mataloko, dilatari bukit Sasa. (Foto: Panoramamio)
Aku bertempur melawan kabut, ah, bukan bertempur tapi memeluknya pagi hingga malam. Lalu aku menghirup aroma rumput samping kapela sambil menghitung tangkai-tangkai cemara pada rembang petang.

Oleh Valens Daki-Soo

Tentang alma mater*

Dengan tubuh berbalut selimut aku mengembara dalam kerinduan. Ya. Kerinduan yang tak pernah padam tentang langit terbuka lalu hujan tumpah-ruah di atas padang. Itu tempat aku bermain saat bocah, mencari belalang di antara ilalang. Kerinduan yang kian berkibar bagai bendera diterpa angin petang di pucuk tiang.

Kerinduan itu kutuang dalam cawan panggilan menjadi imam. Lalu kupancang kerinduan itu di kaki bukit Sasa dalam-dalam. Lalu aku bertempur melawan kabut, ah, bukan bertempur tapi memeluknya pagi hingga malam. Lalu kuhirup aroma rumput samping kapela sambil menghitung tangkai-tangkai cemara pada rembang petang.

Waktu berjalan kerap di luar kesadaran. Itu kerinduan terus menggumpal meski kadang mulai diwarnai kegelisahan menjentik sukma kepada mereka yang berambut panjang. Mereka tetangga sekolah yang semuanya perempuan.

Memang kami taruna jantan. Pria-pria yang merasa memetik suara dari langit, "Ikutilah Aku!", tapi itu tidak menafikan gejolak remaja puber yang bisa saja terkesima pada keindahan ragawi seperti bening mata gadis-gadis pada akhir pekan. Kami juga bisa terlempar dalam khayalan: andai aku di luar, mungkin aku paling tampan dan jadi idaman. Aha!

Waow, Mataloko bisa menjepitmu dalam sunyi mencekam. Itu kalau dirimu tak tahu apa artinya panggilan. Tentu, panggilan menjadi imam di altar Tuhan.

Tanganku mengatup dalam bisunya alam, kadang cuma diusik lolongan anjing di jalanan. Hujan jatuh rintik-rintik, menyapu atap, membelai jiwa, kadang malam terasa begitu panjang. Pernah kurenung dalam desau angin yang mengalir lembut di sela-sela dedaunan flamboyan. Apa artinya semua ini bagi kehidupan?

Tanganku kembali memainkan butir-butir kontas, rosario yang selalu kubawa dalam saku celana. Berdoa sambil membawa bayang-bayang Ibunda rohani: Maria. Perempuan cantik segala abad bukan karena raga semata tapi terutama jiwanya yang terbuka: "Fiat mihi voluntas Tua!" (Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu).

Hidup dianyam dari keyakinan dan harapan. Dirajut dengan benang sutera ketulusan dan kesetiaan. Dibingkai dalam cinta tak berkesudahan.

Meja belajar memang penuh buku dan catatan. Mata kami berbinar dengan rasa ingin tahu mendalam. Kian tumbuh benih cinta kepada Tuhan. Makin besar rasa haus ilmu pengetahuan. Hati pun dibentuk agar peka pada kemanusiaan.

Di kaki Sasa kami berendam di kolam nilai. Hadirmu mesti dipahami dalam pigura pemberian diri. Segala hasrat duniawi dilebur-murni jadi persembahan di mezbah ilahi. Itu tak semudah memetik kembang lalu melemparnya di tepi kali. Hidup dimaknai sebagai ladang untuk mengabdi.

Di kaki Sasa kami mulai disiapkan untuk lebih mengerti. Matahari dan planet-planet, segala bintang di jagat ini tak cukup hanya diteropong dengan astronomi. Matematik, fisika dan segala sains tak memadai untuk mencerna hakikat dan esensi semesta ini. Kelak di seminari tinggi kau perlu masuk ke gerbang filsafat dan teologi.

Perjalanan yang cukup panjang. Tapi, itu tidak melelahkan. Jika dirimu dibakar api kerinduan, bukankah hatimu selalu berkobar hingga jumpa sang idaman?
Begitu pun para taruna di kaki Wolosasa berjalan beriringan. Mata dan hati kami menuju satu impian. Memang, ada yang mesti berhenti di tengah jalan. Hidup adalah seni berjuang, belajar, berkarya, menentukan pilihan.

Enam tahun di kaki Wolosasa adalah paruh hidup tak terlupakan. Bermain bola, belajar berdiskusi hingga debat di ajang 'Academia', rawat tanaman dan potong rumput di halaman. Tentu, misa dan doa adalah tiang topang. Salve, Vesper dan Completorium jadi menu harian.

Kini semuanya berkelebat sebagai parade kenangan. Memang, tak semua kami mampu berderap hingga tujuan: menjadi imam Tuhan. Tapi setidaknya kami beruntung telah ditempa menjadi pejuang kehidupan.

Terima kasih dan selamat HUT ke-87, Seminari Mataloko.

Jakarta, 15 September 2016

* Di Mataloko, Ngada, Flores, berdiri anggun tak lekang dimakan zaman Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Todabelu. Sebuah kawah candradimuka dan taman penyemaian, pendidikan calon imam Katolik (Latin, seminarium: tempat pembibitan, dari kata 'semen': benih).

Komentar