Breaking News

TOKOH Riset Tentang “Fedhi Legi”, Pater Markus Dipuji Sebagai Pencetus Teori Antropologi Eksegetis 30 Jul 2021 20:51

Article image
Peo, monumen sakral dan keramat yang terbuat dari kayu bercabang yang ditanam di tengah Kampung Bhela, sebagai simbol pemersatu. (Foto: Pater Markus Ture, OCD)
Markus menyimpulkan, ada korelasi makna, kemiripan tema, sinonimitas simbol, kekayaan teknik ekspresi dan sangat banyak elemen menarik dalam doa Yesus yang terlihat dalam fedhi legi.

Oleh Simon Leya

 

PATER Markus Ture, seorang imam Katolik dari Ordo Karmel Tak Berkasut atau yang dalam bahasa Latin disebut Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) sukses mempertahankan disertasi  dalam ujian terbuka program doktoral di kampus Institut Agama Kristen Negeri  (IAKN) Kupang, Selasa (27/07/2021). Dengan demikian, Markus, pastor kelahiran kampung Boamuyi, Desa Ladolima Timur, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, NTT  ini berhak menyandang gelar doktor bidang teologi.

Disertasi Markus berjudul  “Kesatuan Fedhi Legi Dalam Perspektif Injil Johanes” menuai banyak pujian dari pembimbing-moderator dan para penguji: Prof  Dr  Maria A Noach, Prof  Dr Samuel Hakh, Pater Gregor Neonbasu, SVD, PhD, Pendeta Dr Fred Djara Wellem, Dr Oditha Hutabarat, Dr Daniel Nuhamara, dan Dr Harun Y Natonis.

Pater Gregor Neonbasu, SVD, PhD yang adalah pembimbing sekaligus moderator mengatakan, disertasi Pater Markus merupakan sebuah teori baru dalam dunia teologi.

"Saya melihat disertasi ‘Fedhi Legi dalam Perspektif  Injil Yohanes’ merupakan sebuah teori baru dalam dunia teologi. Teori antropologi eksegetis yang dilahirkan Pater Markus akan menjadi sebuah ilmu yang sangat menarik dan dapat dikembangkan oleh seluruh dunia. Teori baru ini juga akan mengangkat nama lembaga IAKN Kupang, sebab Pater Markus Ture, OCD adalah alumnus yang menemukan dan menulis dari lembaga pendidikan ini." ungkap P. Dr. George Neonbasu, SVD di forum terbuka di IAKN.

Pujian yang sama diutarakan Pdt Dr Fred Djara Wellem. "Pater Markus, saya memuji disertasi Anda, dan betul-betul Anda seorang doktor teologi," ungkap Pdt Dr  Fred Djara Wellem.

Markus mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas pujian dan pengakuan terhadap dirinya sebagai seorang doktor teologi dan pencetus teori Antropologi Eksegetis, dan berharap semoga teori yang telah dicetuskannya memiliki aplikasi nyata dan bermanfaat bagi umat manusia.

"Saya sangat bersyukur dan bergembira serta berterimakasih atas semua yang terjadi hari ini dan sungguh berterima kasih atas semua dukungan. Mudah-mudahan apa yang kami tulis mulai terwujud dari arena ini. Karena visi  kami bila dari sudut ilmu pengetahuan  karya ini menjadi kajian ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi lembaga pendidikan. Lebih penting lagi secara substansial dan esensial kesatuan yang kami uraikan dari disertasi ini adalah benar- benar terwujud menjawabi kerinduan seluruh masyarakat yang diharapkan ada kesatuan dalam hidup masyarakat dan bangsa ini," ucap Pater Markus.

"Kami menggunakan kajian baru, yaitu antropologi eksegetis di bawah terang Injil Yohanes 17:20-23, untuk menganalisis fedhi legi, terkhusus pada tema kesatuan. Sebagaimana lazim dalam karya eksegese, peneliti menarik keluar makna tersembunyi dalamnya fedhi melalui berbagai tahapan analisis," tulis beliau.

Markus melakukan penelitian antropologis tentang fedhi legi di kampung adat Bhela, Ladolima Utara, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Flores.

"Ada  analisis konteks dan historis yang mengaplikasikan  pendekatan emik dalam antropologi. Ada analisis struktural teks, morfologis dan semantikal, gramatikal dan leksikal serta juga analisis simbol dan metafora,"ulasnya.

Dari risetnya, Markus menyimpulkan bahwa ada korelasi makna, kemiripan tema, sinonimitas simbol, kekayaan teknik ekspresi dan sangat banyak elemen menarik dalam doa Yesus yang terlihat dalam fedhi legi  mencerminkan pandangan teologi, antropologi dan kosmologi yang mendalam. Semakin difokuskan pada ananlisis tema kesatuan, peneliti menampilkan konklusi multi dimensi, sebagai eksplisitasi kedalaman nilai untuk diwariskan dan dikembangkan demi keharmonisan hidup umat manusia, baik lokal maupun global.

Lebih jauh Markus menjelaskan, "Analisis atas ajektif numerikal en (dari ina pantes en osin) dalam konsep Yunani dan esa dari (kolo sa toko dan tali sa tebu) dalam pemahaman masyarakat adat Bhela serta seluruh analisis atas konsep dan simbolisasi verbal dan tata aksi dalam doa Yesus serta fedhi legi kini dideskripsikan dalam enam dimensi.

Ada enam dimensi  hasil refleksinya sebagai peneliti atas  kajian atau analisa data dan fakta secara antropologis-eksegetis yang berhubungan dengan persatuan dan kesatuan, seperti diekspresikan dalam fedhi legi dan doa Yesus."

Dimensi Teologis

Dimensi teologis tidak dimaksudkan untuk membuktikan eksistensi Yang Ilahi, karena dengan memanjatkan doa kepadaNya, tampak jelas keyakinan akan eksistensi Yang Ilahi, baik oleh Yesus maupun masyarakat Bhela.

Dalam tataran diskursus teologi, kesatuan memiliki ciri khasnya bahwa  kesatuan itu berasal dari Allah, terjadi di dalam dan dengan Allah, bermodelkan pada Allah, dan merupakan  anugerah kepada manusia. Kesatuan itu menjadi kesaksian bagi keberlanjutan kehidupan komunitas.

Eksistensi kesatuan ilahi sangat eviden dalam balutan metafora dan paralelisme membrorum fedhi legi yang mengindikasikan dimensi kesatuan ilahi sebagai Allah yang melingkupi. Ini nyata dalam ungkapan Dewa Yeta-Gaè Yale, miu ta mata ulu, eè loè, atau juga meya papa daa (living in the light) dan “miu mutu sai mumu, miu pebhu sai seyu” yang berarti kamu bicarakanlah bersama, sepakatlah dalam kata. Dengan partikel komparatif ????? dalam doa Yesus, dan partikel teknis examplaritas: bhila dalam fedhi legi, mau ditampilakn bahwa  kesatuan itu bersumber dan bermodelkan pada yang ilahi. Dalam tataran teologis, karakteristik kesatuan ilahi  mencakup kesatuan dalam cinta, kesatuan dalam kehendak, kesatuan dalam kemuliaan, kesatuan dalam pengetahuan dan kesatuan dalam misi.

Dimensi Antropologis

Dalam doa yang dipanjatkan Yesus dengan harapan akan kesatuan para muridNya sungguh  menyiratkan karakteristik antropologis yang kaya, teristimewa menyangkut relasi-Nya yang bersifat vertikal dan horisontal, mengarah kepada Yang Ilahi juga yang insani. Karakteristik relasi dua arah ini juga terkandung dalam fedhi legi pada masyarakat Bhela. Di dalam kedua doa dengan nilai kesatuan yang solid, yang mengarah pada yang ilahi di dalam kenyataan insani serta berorientasi antisipatoris yaitu mengantisipasi masa depan dengan persiapan masa kini.

Dimensi Sosiologis

Doa manusia sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan Yang Ilahi juga mengekspresikan ciri khas sosialitas manusia. Dalam konteks doa Yesus untuk kesatuan para muridNya, serta harapan akan kolo sa toko, tali sa tebu dalam fedhi legi di Bhela, tereksplisit dimensi sosiologis yang kental. Dimensi ini berhubungan erat dengan persekutuan, keharmonisan, dan kesatuan sebagai praksis iman yang didoakan. Beberapa elemen konstitutif yang membentuk dan menjamin kelangsungan relasi sosial manusia adalah kebenaran, keadilan, kejujuran, kepedulian dan kasih.

Dimensi Kosmologis

Dimensi kosmologis dengan mereferensi pandangan P Gregor Neonbasu SVD, PhD, bahwa fakta pentingnya keharmonisan kosmologis merupakan keharmonisan relasi dalam tataran kosmologis sungguh bersifat integral, yang mencakup makro kosmos dan mikro kosmos. Kunci keharmonisan kosmologi adalah menjaga keharmonisan relasi dengan alam, sesama dan dengan Yang Ilahi.

Dimensi Eskatologis

Dimensi eskatologis ini menyangkut iman dan harapan akan kehidupan yang berlanjut setelah kehidupan di dunia sekarang ini. Kesatuan yang dimohonkan Yesus tidak hanya menyangkut realitas hidup di dunia ini, melainkan semoga terpenuhi secara paripurna dalam Bapa yang kekal, (Yoh 17:24).

Di dalam fedhi legi, para leluhur Bhela diyakini meya papa daa (tinggal di terang) di Saò Eda, yaitu rumah untuk mengenangkan terang. Kelanjutan hidup manusia adalah bahwa mereka akan tinggal di rumah terang.

Dimensi Soteriologis

Kajian soteriologis atas Injil Yohanes  dan fedhi legi memperlihatkan, bahwa keselamatan itu berasal dari Allah. Cakupan keselamatan itu berkarakter hoslistik dan integral, lahiriah dan bathiniah atau material dan spiritual. Menyangkut waktu, keselamatan itu mulai sekarang dan terus berlangsung di masa depan. Menyangkut tempat, keselamatan itu diharapkan terjadi di segala tempat kehidupan.

 

Konsep Fedhi Legi
Fedhi legi adalah doa adat yang sering didoakan menjelang aktivitas ritual adat tertentu dalam masyarakat di Bhela, di Ladolima, Kecamatan Keo Tengah di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Konsep fedhi legi terkomposisi dari dua kata, yaitu fedhi dan legi. Fedhi artinya doa, dan legi sesungguhnya merupakan partikel yang mempertegas makna fedhi sebagai doa. Kata fedhi dapat berdiri sendiri dengan makna utuh sebagai doa, tetapi kata legi hanya mempertegas makna doa ketika dikaitkan dengan fedhi, dan karenanya tidak dapat berdiri sendiri.

Masyarakat Bhela dan sekitarnya juga menggunakan kata umum untuk doa dengan terminologi buju ngaji atau juga sembaya. Konsep ini lebih merujuk pada aktivitas berdoa umum yang menyangkut sembah bakti keagamaan, misalnya berdoa di gereja atau di kapela dan lain-lain. Namun di dalam ritual adat tertentu, terminogi untuk doa dipakai kata fedhi.

Bahasa yang digunakan dalam fedhi adalah bahasa lokal masyarakat setempat, sedangkan dalam terminologi buju ngaji atau juga sembaya, penggunaan bahasa tidak dispesifikasi, artinya si pendoa dapat mendoakannya dengan bahasa yang dikehendakinya.

Seperti di Israel ada suku Lewi yang dikenal secara khusus dalam pelayanan sebagai imam untuk mempersembahkan doa dan kurban umat, demkian juga di Bhela, fedhi legi hanya boleh dibawakan oleh orang khusus, yakni oleh kepala Bhisu Saò Lado dan tidak dapat digantikan oleh orang dari bhisu lain walaupun mereka memiliki pengetahuan yang luar biasa. Apabila kepala bhisu ini berhalangan dan tidak dapat hadir, ia hanya boleh digantikan oleh orang dari suku yang sama dan dipercayakan oleh kepala bhisu tersebut.

Sampai sekarang, fedhi legi biasanya dibawakan oleh Bapak Benediktus Bedi sebagai kepala Bhisu Sao Lado atau sering juga didaulat kepada adiknya, yakni Bapak Wilhelmus Mite. 

Biasanya doa dalam fedhi berupa tuturan lisan yang diyakini diinspirasi oleh kehadiran spiritual para leluhur. Biasanya fedhi legi dilakukan di depan Peo (monumen sakral dan keramat yang terbuat dari kayu bercabang sebagai simbol pemersatu).

Sebagai sebuah doa, banyak ritual adat komunal di Bhela, disertai fedhi legi. Ritual adat komunal itu antara lain: Dai, Loa Lenga, Nuka Seko, Nuka Bue, dan Nuka Uwi. Demikian juga fedhi legi dilaksanakan di saat potong kerbau (pegho bhada) dan kepentingan lainnya yang berhubungan dengan masyarakat adat di Bhela. Pada tahun 2017, untuk pertama kalinya, fedhi legi didoakan dalam rangka membuka misa syukur imam baru, RD Frensikus Ze Owa, putera sulung dari Bhela, dari Bhisu Beba yang menjadi imam.

Walaupun dalam tuturan lisan, fedhi legi memiliki struktrurnya yang sangat menarik dan teologis, yakni Enga Niu sebagai sapaan kepada yang ilahi: pertama kepada Dewa Yeta, Gae Yale, merujuk Allah yang transenden dan imanen, yang melingkupi segala-galanya, dan pemilik segala sesuatu; lalu dilanjutkan dengan sapaan kepada nenek moyang dan para leluhur atau genealogi dari Bhela, karena mereka diyakini hidup di alam terang, meya papa daa (tinggal di sisi terang) melalui simbol Sao Eda yakni rumah untuk mengingat atau mengenangkan mereka yang berada di alam terang. Letak Sao Eda di Bhela adalah di samping Peo.

Doa dilanjutkan dengan bagian berikut yakni permohonan (pai oa), untuk memohonkan berkat, perlindungan, dan segala kasih karunia ilahi sesuai dengan intensi ritus yang dirayakan. Permohonan akan berkat dan kasih ilahi juga sering diwarnai oleh semacam permohonan kutukan atau beto noga terhadap orang jahat yang tidak mau bertobat. Seperti teologi Kristen, terdapat Mazmur, doa kutukan dengan maksud menyerahkan penghakiman kepada yang ilahi, bukan manusia yang bertindak melakukan kekerasan atau hukuman terhadap sesamanya. Penghakiman itu urusan yang ilahi.

Seperti mazmur atau doa-doa dalam Perjanjian Lama atau juga Perjanjian Baru, fedhi legi dilantunkan dalam syair dan sajak yang indah atau puitis berupa paralelisme membrorum dan metafora, serta silsilah genealoginya.

Menganalisis tuturan doa fedhi legi, Pater Markus menampilkan kekayaan makna teologis, antropologis dan kosmologis yang sangat mendalam. Ditemukan dari butir-butir doa fedhi legi pandangan tentang Allah sebagai yang Yeta dan Yale yaitu yang melingkupi dan mengitari, yang transenden dan imanen. Allah juga diimani yang memiliki batu dan empunya tanah– Moi watu, Nga tana, yang sipo yia sagho molo (melindungi dan memilihara), yang memimbing dan menuntun: tula ulu, wao epo, yang toyu tei nonu gena (memandang dengan jelas, melihat dengan tepat), merangkul dan mempersatukan: kolo a toko, tali a tebu.

Demikian juga, tentang alam raya diyakini sebagai milik Allah, rumah bersama dan metafora atau analogi kehidupan. Seperti juga dalam pemahaman filsafat, sosiologi dan antropologi modern, manusia dilihat sebagai yang berbudi dan bernurani, makhluk religius dan sosial, makhluk peziarah yang  bersifat baka dan tahu bermufakat.

Pater Markus Ture, OCD lahir di kampung Boamuyi, Desa Ladolima Timur, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, 4 Februari 1973. Pater Markus ditahbiskan menjadi imam pada tahun 2005. Antara 2009-2012, Pater Markus menempuh pendidikan Teologi Biblis di Universitas Urbaniana, Roma, Italia. Saat ini Pater Markus menjabat sebagai Komisaris OCD Indonesia.

 

Penulis adalah Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar