Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

TOKOH Rudy Fofid: Orang Muda Harus Ekstrim 17 Jun 2016 21:20

Article image
Peraih Ma'arif Award 2016 Josep Matheus Rudolf Fofid. (Foto: ist)
Terinspirasi dari ayat-ayat suci Injil, Rudy meramu setiap perjumpaan sederhana menjadi makna yang luar biasa di tanah Maluku. “Tak ada kasih yang begitu besar selain kasih seorang sahabat yang menyerahkan dirinya untuk orang lain,” ungkap Rudy.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co---Peraih Ma’arif Award 2016 Josep Matheus Rudolf Fofid mengatakan, menjadi orang muda harus ekstrim. Menurut dia, keekstriman orang muda adalah kesanggupannya menyerahkan diri untuk orang lain. Hal tersebut disampaikan Rudy saat dialog Merawat Damai yang digelar Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) di aula Margasiswa I Jl.Dr. Samratulangi, Menteng Jakarta Pusat, 17/6.

Terinspirasi dari ayat-ayat suci Injil, Rudy meramu setiap perjumpaan sederhana menjadi makna yang luar biasa di tanah Maluku. “Tak ada kasih yang begitu besar selain kasih seorang sahabat yang menyerahkan dirinya untuk orang lain,” ujar Rudy mengutip ayat-ayat injil sebagai penggerak damai di tanah Ambon.

Ia belajar dari Yesus yang memiliki keekstriman luar biasa dengan meneyerahkan nyawanya bagi orang lain. “Karena Yesus sendiri yang ,menyerahkan nyawanya bagi semua orang,” ujar Rudy. Kemampuan Rudy untuk berdamai dengan setiap peristiwa menurutnya hanya pada soal merawat kenangan-kenangan kecil yang ia alami di Maluku.

Kita sebenarnya hidup dari kenangan-kenangan dan imajinasi, lalu mengolah kenangan dan imajinasi itu dengan rasa haru. “Beta terharu sekali kalau pergi disuatu tempat dan orang beri kopi, dan beta akan ingat terus itu. Dan sampai kapanpun beta tidak akan bertengkar dengan orang yang telah memberi beta kopi,” kata Rudi.

Dengan merawat setiap kenangan, Rudy mampu menembusi segala sekat di tanah Maluku, bahkan disetiap daerah yang terlibat konflik. “Saya pernah posting foto dulu di dua tempat konflik yang berbeda yakni Mamala dan Morela. Semua orang takut untuk ke sana. Namun, saya berani untuk ke sana. Dan saat itu saya menulis di akun facebook saya begini, ‘Makan malam di Mamala, makan malam lagi di  Morela,” ceritanya. Keberanian Rudi mengundang simpatik banyak, lalu menghembuskan angin kedamain di tengah konflik yang terjadi.

Menurut Rudi, mengelolah kenangan dan imajinasi menjadi sesuatu yang harus selalu dihidupi dan dirawat oleh bangsa Indonesia demi terciptanya bangsa yang damai. Sebagai pewarta kedamain di tanah Ambon, Rudi menginkan agar kita tidak perlu membenturkan perbedaan. Perbedaan bagi Rudy adalah kekayaan yang harus disyukuri oleh bangsa Indonesia.

 

---

Komentar