Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KOLOM Santo Agusinus: Facere Veritatem 29 Aug 2018 09:16

Article image
Lukisan Santo Agustinus. (Foto: ist)
Yang paling pertama dalam diri kita, sesungguhnya adalah “confessio”, pengakuan tentang keadaan diri dan segala kerapuhannya; juga tentang pengakuan Tuhan dan segala karunia RahmatNya.

Oleh Felix Baghi

 

PADA 28 Agustus, Gereja sejagad merayakan peringatan Santo Agustinus, uskup dan pujangga  gereja. Hari sebelumnya kita juga memperingati ibunya Santa Monika, simbol kesetiaan dan wanita beriman, yang  karena ketekunannya dalam doa dan iman, Santo Agustinus bertobat.  

Dari Santo Agustinus kita kenal ungkapnya yang termasyhur "credo ut Intelligam"- saya percaya agar saya mengerti. Ungkapan ini boleh dianggap sebagai sintese seluruh narasi dirinya seperti yang tertuang dalam Confessiones itu.  

Agustinus sukses menempatkan iman sebagai yang lebih mendasar dari akal budi dan pengetahuan. Atau secara teologis, Tuhan lebih utama dari rasio,dan  wahyu mendahului rasionalitas manusia. 

Secara sederhana kita bisa katakan bahwa dalam hubungan dengan Tuhan dan ihwal kehidupan ini, kita terlebih dahulu "percaya" baru kemudian "mengerti".  

Tampaknya, kata-kata Agustinus ini tidak mungkin ditempatkan dalam kategori logika berpikir yang umum. Bisa jadi karena kita terlalu terbiasa dengan "rasa percaya diri" pada kemanusiaan dan kapasitas akal budi kita, makanya kita tidak sanggup sampai pada pengertian  Agustinus di atas .  

Memang, iman itu soal kemustahilan atau  "imposibilitas" ketimbang soal yang mungkin dan yang pasti. Iman bukan ihwal kepastian, bukan juga hal kenisacayaan. Ihwal Tuhan, kita tidak sanggup mengerti semuanya.  Goenawan Mohamad pernah menulis "Tuhan dan hal-hal yang tidak selesai." Karena itu, kita hanya percaya.  Ya, percaya saja.  

Dalam hubungan dengan iman, sebaiknya kita mulai dengan hal ini, bahwa semakin kita tidak mengerti, semakin pula kita menaruh harapan untuk mencari pengertian itu.  

Semakin doa-doa kita belum terjawab, semakin pula lahir penasaran (passion) untuk tidak jemu-jemunya terus berdoa  pada Tuhan seperti santa Monika. Bukankah  Tuhan sendiri pernah berkata; "jalanKu bukan jalanmu, dan pikiranKu bukan pikiranmu."   

Sebagai manusia, kita hanya bisa menaruh kepercayaan, melepaskan beban hidup dan suka duka di depan-Nya. Biarkan DIA yang menyelesaikan semuanya. 

Kita yakin akan hal ini, bahwa dalam hubungan dengan iman, kita hampir sering tidak luput dari kondisi ini:  ada "passion for the imposible". Passion itu selalu membakar gairah dan memancing kerinduan kita untuk mencari. 

Ya, iman itu soal kesetiaan mencari seribu satu kemungkinan di dalam setiap relung kehidupan yang diberikan Tuhan. 

Di dalam "confessiones", Agustinus selalu memulai doanya dengan ungkapan "kepada Engkau" (a te) ya  Tuhan, aku percaya.  Seperti Agustinus, ya, kita harus mulai dengan menaruh percaya,  dan bukannya dengan menuntut jawaban dari-Nya. 

Karena itu, amat tepat kalau kalimat  pertama dari sahadat iman  kita dimulai dengan "aku percaya" (credo). Dan syarat mutlak dari iman adalah pengosongan diri agar memberi ruang lebih besar pada "kepercayaan" itu. 

Bukankah Tuhan pernah berkata "beati pauperes spiritu"-berbahagialah yang miskin di dalam roh. Atau dengan kata lain, berbahagialah yang selalu menaruh kepercayaan pada Tuhan, meskipun kepada yang tak mungkin sama sekali. 

Dari "confessiones," kita menyadari bahwa  pergulatan dan perjalanan iman tidak  pernah berhenti pada "yang mustahil" meskipun dia selalu berhadapan dengan misteri kemustahilan itu. 

Agustinus berjuang, bergulat dalam lorong gelap kehidupannya.  Ia berperang dengan imajinasi dan realitas diri yang menyatu dalam dunia durhakanya. Ia sendiri bahkan tidak tahu apakah yang ia percaya adalah Tuhan atau tidak. Apakah Tuhan yang dia percaya, benar-benar Tuhan yang sesungguhnya,  atau  bukan?  

Agustinus lalu merubah arah diri dan menyelam masuk ke rahasia dan misteri diri yg paling dalam. Keyakinannya, Iman dan "confessiones" harus dibawah ke dalam "kebenaran hidup".  Ia percaya pada apa yang ia sendiri namakan "facere veritatem", yaitu bahwa dengan dan dalam iman, kita bisa melakukan kebenaran. Dengan kata lain, iman membakar semangat untuk melakukan kebenaran. 

Justru di sini, dengan "melalukan kebenaran di dalam iman," Agustinus membuat transformasi diri dan transformasi itu menjadi sebuah "pengakuan" yang amat personal. Inilah cita-cita Agustinus yang paling besar. Dia dijuluki sebagai pencetus teologi Postmodernisme karena  "confessiones" selalu membawa inspirasi bagi manusia Modern untuk merumuskan diri secara baru dalam situasi apapun.

Jean Luc Marion, filsuf dan teolog Katholik berkata, "it could be that one loses faith because one imagines reason to be incapable of understanding a part ... of what our life makes us experience... reason doesn't understand everything, and therefore we must accept  that there are immense space that remain  incomprehensible."  

Bahaya yang paling besar, bahwa kita bisa saja mengalami kehilangan iman karena kita tidak sanggup lagi mengerti semua arti kehidupan kita. 

Oleh karena itu, kita perlu kembali ke dalam diri kita, mencari dasar terdalam, mengerti sumber terakhir, dan mengakui bahwa kita sesungguhnya bukannlah siapa-siapa.

Apa yang paling utama di dalam diri kita, sesungguhnya bukan pikiran (kontra Descartes). Yang paling pertama dalam diri kita, sesungguhnya adalah “confessio”, pengakuan tentang keadaan diri dan segala kerapuhannya; juga tentang pengakuan Tuhan dan segala karunia Rahmat-Nya.

Pastor Dr. Felix Baghi, SVD adalah Dosen STFK Ledalero, merampungkan studi doktoral di Universitas St Thomas, Manila

Komentar