Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

NASIONAL SBY Dinilai Wariskan Pertumbuhan Tidak berkualitas 09 Aug 2018 11:02

Article image
Konferensi pers setelah diskusi "Bukan Sekadar Menurunkan Kemiskinan Tetapi Melawan Ketimpangan untuk Pencapaian SDGs". (Foto: Ist)
Pada era pemerintahan SBY, rakyat Indonesia menghadapi subsidi energi sangat besar, sementara pada pemerintahan Jokowi, subsidi itu dihilangkan dan dialihkan menjadi program-program pro rakyat.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Pada pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), masyarakat Indonesia mengalami pertumbuhan tidak berkualitas karena meskipun angka kemiskinan menurun tapi ketimpangan gini ratio meningkat.

Penilaian ini disampaikan Pengamat Kebijakan Publik Michael Bobby Hoelman konferensi pers "Bukan Sekadar Menurunkan Kemiskinan Tetapi Melawan Ketimpangan untuk Pencapaian SDGs", Jakarta, Rabu (8/8/2018) sebagaimana dilansir Antara.

Sementara, pada awal pemerintahan Jokowi 2014, terjadi penurunan ekonomi, namun angka kemiskinan menurun sementara ketimpangan naik yang melewati garis 0,4 poin, namun gini ratio sekarang sudah turun menjadi 0,389 poin. Ini menunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik melalui berbagai upaya pemerintah dalam menurunkan ketimpangan dan kemiskinan.

Michael menuturkan capaian tentang penurunan angka kemiskinan dan ketimpangan menjadi warisan bagi pemerintahan selanjutnya untuk lebih mudah dalam menurunkan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pak Jokowi mau terpilih tidak terpilih lagi sebenarnya bangsa ini diwariskan satu landasan yang jauh lebih baik ketimbang zaman SBY karena adanya pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, dan angka ketimpangan itu bergerak di tren yang positif," ujarnya.

Dia menuturkan pada era pemerintahan SBY, rakyat Indonesia menghadapi subsidi energi sangat besar, sementara pada pemerintahan Jokowi, subsidi itu dihilangkan dan dialihkan menjadi program-program pro rakyat seperti Kartu Indonesia Pintar dan subsidi pangan sehingga jauh bisa dirasakan oleh warga yang paling miskin.

"Siapapun yang menjadi presiden nantinya di 2019, dia akan lebih mudah untuk melanjutkan pembangunan berkelanjutan ini ketimbang zaman dulu," ujarnya.

--- Redem Kono

Komentar