Breaking News

AGAMA Sebanyak 47 Pasutri Katolik Ikuti KPP di Paroki Wolowaru 17 May 2019 10:04

Article image
Sebanyak 47 Pasangan Suami-Isteri (pasutri) Katolik usai mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di Paroki Wolowaru (Foto: Che)
Setiap Sakramen termasuk Sakramen Perkawinan adalah mulia dan agung, karena Allah sendiri hadir sebagai pemberi Sakramen melalui tangan para Uskup dan imam.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Sebanyak 47 pasangan suami-isteri (pasutri) Katolik, sejak Senin (13/5) hingga Jumat (17/5/19) mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) yang berlangsung di Aula Paroki Hati Amat Kudus Wolowaru, Ende.

Pastor Paroki Wolowaru, Pater Nikomedes Mere, SVD mengatakan bahwa keterlibatan pasutri dalam KPP kali ini adalah yang terbanyak selama empat tahun dirinya menjadi Pastor Paroki.

"Kali ini dengan jumlah pasutri terbanyak yang mengikuti KPP. Selain pasutri dari Paroki asal, juga pasutri dari paroki lain dengan membawa Surat Rekomendasi dari Pastor Paroki masing-masing," ungkap Pater Medes.

Pater Medes mengatakan bahwa kegiatan KPP Katolik menjadi syarat penting sebelum penerimaan Sakramen Perkawinan. Olehnya, syarat ini menjadi bagian penting dari pelayanan Sakramental dalam Gereja bagi setiap pasutri yang mau dinikahkan menurut tata cara Gereja Katolik.

"Setiap tahun Gereja selalu membuka ruang pelayanan penerimaan Sakramen baik pernikahan, komuni suci pertama maupun Sakramen lain kepada umat. Secara Sakramental, Gereja selalu hadir untuk melayani umat," jelasnya.

Selanjutnya, para pasutri Katolik yang telah mengikuti KPP ini akan mengikuti Kanonik.

"Dari 47 pasutri yang telah mengikuti KPP ini, sebanyak 36 pasang yang langsung mengikuti Kanonik dan dijadwalkan akan menerima Sakramen Perkawinan secara bersama-sama (massal). Sementara 11 pasutri yang lain akan dijadwalkan sesuai pertimbangan keluarga," terangnya.

Hakikat Sakramen Perkawinan Katolik

Pada kesempatan yang sama, mantan Pastor Paroki Kristus Raja Mukusaki ini menegaskan bahwa hakikat Perkawinan Kristiani yakni Allah sendiri.

"Para pasutri dibekali untuk tidak membeda-bedakan antara nikah massal dan nikah mulia. Karena hakikat Sakramen Perkawinan Kristiani itu sendiri yakni Allah. Setiap Sakramen termasuk Sakramen Perkawinan adalah mulia dan agung, karena Allah sendiri hadir sebagai pemberi Sakramen melalui tangan para Uskup dan imam. Sifat Sakramen Perkawinan Katolik yakni tak terceraikan; satu untuk selamanya," tegasnya.

Pada hari terakhir kegiatan KPP, salah satu pendamping sekaligus pemateri, Ibu Dorce Adelheit yang membawakan materi Seks dan Cinta dilanjutkan materi Psikologi Pria dan Wanita menegaskan bahwa setiap perkawinan Katolik selalu ada resiko (salib).

"Setiap pasutri yang hendak membangun bahtera hidup berumah tangga tentu mengalami resiko (salib) baik suka maupun duka. Namun kita tidak perlu lari dari resiko karena Allah selalu hadir dalam keluarga kita jika kita sungguh bersandar dan percaya kepada-Nya," kata Ibu Dorce.

Ia mengharapkan agar setiap pasutri muda mampu memahami makna cinta dan seks sebagai kebutuhan biologis, bukan sebagai pelampiasan semata.

"Pemenuhan Cinta dan Seks harusĀ  seimbang antara suami dan isteri. Untuk itu, komunikasi
sangat penting untuk menjaga keharmonisan hidup rumah tangga. Suami-isteri harus saling memahami perbedaan sehingga dapat menghindari konflik," harapnya.

Kepada media ini, salah satu Pasutri muda, Policarpus dan Nifa mengaku sangat bersyukur dan bangga dapat mengikuti KPP.

"Kami dibekali oleh Pastor Paroki dan para pendamping, bagaimana menghayati iman, sungguh-sungguh menjadi keluarga Katolik, menjadi keutuhan sakramen, harmonis dan saling melengkapi dalam perbedaan. Kami menimba banyak bekal positip sebelum menerima Sakramen Perkawinan," kesan Nifa.

--- Guche Montero

Komentar